Le Anh Thu, S.I.Kom : “Ingin Studi Magister di Indonesia”

Le Anh Thu, nama lengkapnya. Perempuan yang menghabiskan waktu hampir empat tahun lamanya di Indonesia, Kota Palu khususnya. Le Anh Thu yang akrab dipanggil Juni lahir dan tinggal di Kota Hanoi, Ibu Kota Negara Vietnam, pada 24 tahun lalu, tepat 09 Oktober 1995.

Anak tunggal tersebut menginjakkan kaki pertama kali di lembah Palu ini, ketika melanjutkan Pendidikan Tingginya, strata S1 di Untad. ia bersama beberapa mahasiswa asal Vietnam lainnya, dijemput dengan udara panas Kota Palu. Suhu panas di Kota Palu, bagi gadis dengan potongan rambut yang pendek tersebut, menjadi hal pertama yang ia temui.

Di Hanoi, dengan aksen bahasa Indonesia yang sedikit kaku, Juni menjelaskan, bahwa negaranya memiliki fitur iklim lembap subtropika. Jika musim panas, udaranya sangat panas dan lembab. Sementara musim dingin berlangsung lebih cepat dan relatif kering. Sedangkan musim semi, memperoleh curah hujan yang sedikit.

“Kesan pertama ketika menginjakkan kaki di Palu adalah cuaca. Saat keluar bandara, kami merasa panas sekali walaupun saat itu sudah malam. Sebenarnya saya tidak kaget, karena di Vietnam juga panas saat musim panas. Namun hanya ketika musim panas saja. Sedangkan di Palu, panasnya setiap hari, kecuali lagi hujan. Itu pun kalau hujan, kadang-kadang juga tetap berasa panas,” kenangnya sambil tersenyum.

Juni yang memperoleh gelar di bidang sosial, yakni sarjana Ilmu Komunikasi dengan lama masa studi 3 tahun lebih, juga mempersoalkan makanan di Kota Palu. Di awal-awal kedatangannya, Juni susah beradaptasi dengan makanan. Karena menurutnya, makanan di tanah Kaili ini lumayan pedas, dan seringkali membuatnya sakit perut setelah makan. Namun, akunya, ia mulai terbiasa dengan bumbu pedas tersebut. Bahkan ia akhirnya menyukai bakso, somai, kaledo, ayam goreng, dan masakan lainnya dengan bumbu pedas. Ia juga mengatakan di Palu, banyak terdapat penjual gorengan.

Hal tersulit yang ia lalui di kota kelor ini, adalah bahasa. Ia yang kesusahan menggunakan bahasa Indonesia jelas saja membuatnya sedikit bekerja keras untuk beradaptasi. Ia bahkan hampir stress, karena sulit berbahasa Indonesia adalah titik terendahnya sejauh usianya kini. Karena kesulitan berbahasa Indonesia, membuatnya tidak hanya kesulitan bersosialisasi di lingkungan kampus, melainkan juga bersosialisasi dengan masyarakat. Karena terkendala bahasa tersebut, di tahun pertama juga, nilai akademiknya terbilang rendah.

“Setiap orang pasti pernah merasa stress banget. Apalagi kalau untuk orang asing seperti saya, yang tinggal sendiri. Saya merasa stress itu ketika masih awal-awal kuliah, karena terkendala bahasa. Dosen-dosen mengajar menggunakan bahasa Indonesia, teman-teman juga berbicara dengan bahsa Indonesia, dan lingkungan juga begitu, menggunakan bahasa Indonesia. Tapi akhirnya mampu saya atasi dengan terus berada dekat dengan teman-teman, agar mudah mempelajari dan mengerti  bahsa Indonesia,” ungkap Juni, yang dapat dijadikan tips bagi mahasisa asing lainnya untuk beradaptasi di lingkungan baru.

Putri semata wayang dari pasangan Le Hoang Dat (bapak) dan Nguyen T. Thu Huong (ibu), berkisah tentang pilihannya jauh dari orang tua, dan memilih Kota Palu sebagai destinasinya belajar banyak hal. Ia bertutur, ada dua beasiswa yang ada Vietnam secara umum, yakni Pertukaran Mahasiswa yang hanya beberapa bulan saja. Pertukaran mahasiswa hanya bertukar pengalaman kuliah diantara dua negara.  Sedangkan beasiswa lainnya adalah beasiswa penuh selama empat tahun. Beasiswa yang ia ikuti adalah beasiswa penuh yang diberikan Bank Nasional Indonesia (BNI), dari Kedutaan Besar Vietnam.

Setelah melewati tes dan seleksi, Juni lulus dan diterima di Universitas Tadulako (Untad), Program Studi S1 Ilmu Komunikasi. Sebelum mengetahui kampus tempatnya belajar, ia hanya tahu sedikit saja hal-hal berkaitan dengan Indonesia, misalnya Indonesia adalah negara dengan mayoritas beragama Islam, dan Ibu Kota Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Jakarta, juga tentang Bali. Selain tiga hal itu, ia sama sekali tidak tahu, termasuk wilayah-wilayah dan pulau-pulaunya. Barulah ketika nama Untad, sebagai Perguruan Tinggi ternama di Sulawesi Tengah (Sulteng), ia ketahui, ia mulai mencari tahu tentang Untad, dan Palu.

“Ketika saya memperoleh beasiswa, dan tahu kampus saya di Untad, baru saya mencari tahu tentang Sulawesi Tengah. Bagaimana culturenya, bagaimana keadaaannya, di mana Untad, dan lain-lainnya. Sehingga saya memilih ambil beasiswa ini. Karena di Palu berbeda dengan kota-kota lainnya. Dan saya suka belajar sesuatu yang baru dengan suasana yang berbeda. Karena sebenarnya, ada juga beasiswa di kota-kota besar lainnya. Tetapi Saya pikir kalau di kota model seperti Jakarta, Singapura, Kuala lumpur, suasana perkotaan tidaklah jauh berbeda dengan suasana kota pada umumnya.”

Ia yang bercita-cita menjadi seorang Diplomat, sangat bersyukur memiliki orangtua yang begitu mendukung segala keputusan yang ia ambil, meskipun sebagai orangtua pada umumnya yang khawatir pada anak mereka. Akan tetapi mereka menginginkan Juni mandiri, sehingga menghargai dan mendukung keputusan Juni untuk merantau dengan berbagai pesan-pesan.Tetapi berbeda, ketika Juni kembali ke Vietnam saat gempa melanda Kota Palu pada 28 September 2018. Orangtuanya tidak mengizinkan ia kembali ke Palu dan menyelesaikan kuliahnya.

Juni yang memiliki hobi berbeda pada umumnya, yakni belajar, belajar apa saja yang membuatnya tertarik, akhirnya mampu mengantongi restu orangtuanya untuk kedua kalinya. Ia yang juga menyukai hal-hal yang berhubungan dengan seni, akhirnya menyelesaikan S1 nya, dan membuat orangtuanya bangga.

Pemilik motto hidup, you only live once, menyelesaikan pendidikannya dengan mempertanggungjawabkan Tugas Akhirnya yang berjudul  “Aktivitas Promosi Kebudayaan Indonesia Pada Kedutaan Besar RI di Vietnam”.

“Ketika menyusun tugas akhir, banyak kesulitan yang saya dapatkan. Sebenarnya saya sudah menyusun proposal sejak tahun yang lalu, dan siap diuji saat bulan september. Tapi karena ada musibah, kami mahsiswa asing langsung balik ke negara masing-masing dan lama lagi baru kembali ke Indonesia. Dan karena lama kami libur, banyak yang sudah saya lupa. Karenanya saya belajar lagi, membaca lagi, dan belajar dari banyak media. Selain itu, saya dibantu banyak oleh dosen baik itu dosen FISIP maupun dosen Ilmu Komunikasi, terlebih dosen pembimbing saya.”

Pasca menyelesaikan studinya dan diwisuda, Juni memiliki banyak harapan. Diantaranya ia berharap segera memperoleh pekerjaan terkait bahasa Indonesia ataupun Ilmu komunikasi. Lebih spesifik ia ingin menjadi wartawan, broadcaster, atau profesi-profesi lain yang beririsan langsung dengan disiplin ilmunya. Ia juga ingin bekerja di Kedutaan Besar, untuk menjalin hubungan antara Vietnam dengan Indonesia.

Selain pekerjaan, ia ingin berkunjung lagi ke Indonesia dengan waktu yang lama. Misalnya melanjutkan magisternya, dan menjadi mahasiswa S2, di Jawa. Ia ingin mengeksplore Indonesia lagi dari wilayah Jawa

Menghirup udara kota kelahirannya, Juni kini seringkali merindukan Kota Palu. Ia mengaku telah jatuh cinta dengan kota kecil yang telah menjadikan dirinya bersikap lebih dewasa. Selain itu, ia juga merindukan orang-orang di Palu. “Dari dulu hingga saat ini, saya sayang dengan teman-teman di Palu. Karena di sana semua orang sangat baik hati, dan membantu perkuliahan juga kehidupan saya selama di Palu. Hingga saat ini saya sangat merindukan Kota Palu, dan kawan-kawan di sana,” tuturnya dengan tarikan napas yang agak panjang

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here