Pemilu-nya Milenial

Pesta demokrasi 5 tahunan usai sudah. Masa-masa yang menguras energy dan emosi bangsa ini telah berakhir di bilik suara. Sekat pemisah yang sempat tercipta sebab perbedaan pandangan politik sudah harus berakhir saat kita menentukan pilihan di TPS masing-masing. Siapapun yang terpilih berdasarkan hasil keputusan KPU, bangsa ini harus tetap menjadi bangsa pemenang. Pemilu tetap bergulir di setiap lima tahun sekali, tapi persaudaraan kita sebagai anak bangsa mesti abadi hingga berkalang tanah nanti.

Pemilu 2019 yang baru saja berlangsung tidak hanya tentang siapa yang pada akhirnya terpilih menjadi pemimpin negeri ini untuk 5 tahun mendatang, tidak juga sekedar siapa-siapa senator yang mewakili suara rakyat di parlemen ke depan, lebih dari itu, pemilu kali ini juga tentang partisipasi kaum milenial yang cukup signifikan menentukan hasil.

Hasil Survey Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebutkan, 40 persen suara pemilu 2019 ini didominasi oleh suara milenial. Kaum muda dalam pemilu kali ini tidak hanya pasif menjadi bagian dari objek mendulang suara, dalam pemilu kali ini kita juga melihat hadirnya politisi-politisi muda yang tampil di kancah nasional. Mereka datang membawa harapan akan keberlangsungan politik Indonesia ke depan.

Maraknya partisipasi anak-anak muda adalah investasi masa depan bangsa ini yang senatiasa perlu dijaga dan dirawat. Anak-anak muda itu datang dengan inovasi baru, mereka mendobrak pakem-pakem lama yang membuat kita jengah pada aktivitas politik. Nantinya, pada sepuluh tahun ke depan kita berharap mereka inilah yang akan memegang kemudi Indonesia selanjutnya.

Pun demikian, integritas, karya, juga langkah nyata anak-anak muda ini masih perlu kita buktikan di 5 tahun mendatang. Masyarakat Indonesia akan sama-sama menilai, apakah kita dapat menitip harapan bangsa ini di pundak mereka, ataukah mereka hanya merupakan regenerasi dari politisi-politisi lama yang melacurkan nama baiknya demi segenggam rupiah yang remeh temeh itu.

Universitas sebagai tempat yang melahirkan stok generasi masa depan, perlu memastikan sistem yang berlangsung di dalamnya mendukung hadirnya anak-anak muda yang mandiri, kreatif, juga kritis pada situasi sosial yang terjadi di sekitarnya. Ya…anak-anak muda tipe begini tidak lahir dari lingkungan kelas dan kos, mereka muncul dari pengalaman-demi-pegalaman, hadir dari mesin-mesin kelembagaan yang dinamis membetuk karakter-karakter pemimpin.

Kampus mesti memastikan pada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa tempat ini tidak pernah berhenti memprduksi pemimpin Indonesia. Karena pada tempat inilah, segenap harapan bangsa ke depan sedang dititipkan.