Dr Ir Maemunah MP: Temukan Metode Perbaikan Mutuh Benih dan Peningkatan Produksi Bawang Merah Lembah Palu

Dari penelitian yang dilakukannya, Dr Ir Maemunah MP menganjurkan  agar petani dapat menggunakan pupuk bokashi 40 ton/ha dalam budidaya tanaman bawang merah, untuk meningkatkan hasil produksi yang baik, selain itu ia pun menyarankan agar pemberian air dengan sistim springkle dilakukan setiap 6 hari. Selain itu pun, perlu untuk menggunakan ukuran umbi yang besar dan dosis pupuk Kalium (K) rasional sebesar 150 kg/ha.

Apa motivasi anda menjadikan bawang merah lembah Palu sebagai topik penelitian?

Bawang merah varietas lembah ini, merupakan bahan baku bawang goreng yang menjadi ole-ole khas Palu. Namun, harganya relatif mahal jika dibandingkan dengan ole-ole dari daerah lain, untuk 100 g saja harganya sampai Rp.20.000. Ketika ditelusuri, ternyata karena stok bawang merah yang kurang dan tidak berkesinambungan, serta hasil panen yang sangat rendah, yaitu hanya 5 ton/ha (hektar area). Sedangkan areal pertanaman sangat banyak, untuk Lembah Palu ada 21 lokasi pertanaman. Nah, timbullah pertanyaan, Kenapa seperti itu? Ternyata karena ketersediaan benih yang kurang dan bermutu  sangat rendah. Sehingga saya pikir, dengan perbaikan mutu benih, itu dapat memberi solusi.

Selain itu, adakah fenomena lain yang mendukung anda mengambil penelitian tentang bawang?

Ada. Kita tahu, bahwa bawang merah merupakan tanaman sayuran rempah yang cukup populer di kalangan masyarakat. Hampir pada setiap masakan, sayuran ini selalu dipergunakan, karena berfungsi sebagai penyedap rasa dan penambah selera makan. Selain itu bawang merah juga dapat dimanfaatkan untuk obat-obatan tradisional. Kebutuhan masyarakat terhadap bawang merah dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, seiring dengan pertumbuhan penduduk dan daya beli masyarakat yang cenderung naik, agar kebutuhan dapat terpenuhi harus diimbangi dengan jumlah produksi.

Jadi, dengan kebutuhan yang demikian, kalau produksi bawang merah kita menurun, bagaimana mau mengimbangis? Sehingga kebutuhan bawang merah ini, bukan hanya sebatas produksi bawang goreng saja. Melainkan semua aspek.

Selain itu, Provinsi Sulawesi Tengah memiliki dua varietas bawang merah lokal yang telah diakui dan dilepas oleh pemerintah pusat sebagai bawang merah unggul nasional berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian RI Nomor:480/Kpts/LB.240/8/2004 dan Nomor: 481/Kpts/LB.240/8/2004 tanggal 5 Agustus 2004 tentang pelepasan bawang. Salah satu varietas bawang tersebut adalah bawang merah lembah Palu.

Bagaimana upaya yang anda lakukan untuk meningkatkan produksi bawang merah varietas lembah Palu?

Peningkatan produksi tanaman bawang merah dapat dicapai melalui pendekatan intensifikasi dan ekstensifikasi. Upaya peningkatan produksi bawang merah melalui pendekatan intensifikasi yaitu dengan kegiatan budidaya secara terus menerus, yang menuntut ketersediaan benih bawang merah yang berkesinambungan. Namun, peningkatan produksi bawang merah melalui program intensifikasi, belum sepenuhnya didukung oleh penyediaan benih unggul bermutu, sedangkan impor benih bawang merah hanya merupakan upaya sesaat.

Padahal, benih bermutu merupakan faktor penentu hasil pertanian, sehingga benih bermutu sangat dibutuhkan oleh petani bawang merah. Petani bawang merah bahkan sampai menghabiskan 40% biaya produksi, hanya untuk benih, 1 ha  membutuhkan 600 kg benih, dimana 1 kg benih harganya Rp75.000.

Berdasarkan hal tersebut, maka kami melakukan beberapa penelitian, diantaranya mengecek dinamika tumbuh tanaman bawang merah varietas lembah Palu dengan pemberian pupuk organik dan interval pemberian air sistem springkle, tanggap pertumbuhan dan produksi bawang merah varietas lembah Palu pada berbagai ukuran umbi dan dosis pupuk kalium, uji viabilitas dan vigor umbi bawang merah dengan kadar air dan suhu penyimpanan yang berbeda, viabilitas dan vigor benih bawang merah pada beberapa varietas setelah penyimpanan.

Penelitian ini telah kami lakukan kurang lebih 17 tahun yang dibiayai oleh DP2M (Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat) Dikti dan telah menghasilkan beberapa jurnal, prosiding, buku dan paten. Untuk saat ini, kami sedang mencoba mengubah genetiknya dari triploid yang tidak bisa menghasilkan biji menjadi tetraploid, agar bisa diperbanyak dengan biji untuk varietas Allium wakegi Araki.

Pihak mana saja yang terlibat dalam penelitian itu?

Karena penelitian ini didanai oleh DP2M Dikti,  maka harus mengikuti aturan dari Dikti dan bekerjasama dengan BPSB (Balai Penelitian dan Sertifikasi Benih)  Sulawesi Tengah. Untuk masyarakatnya, kami juga bekerjasama  kelompok Tani Tara Nagaya, kelompok Tani Banyu Raga dan beberapa kelompok tani lainnya.

Dari penelitian tersebut, Bagaimana hasilnya?

Berdasarkan hasil penelitian terhadap bawang merah varietas lembah Palu, kita bisa tahu bahwa tidak terdapat interaksi antara waktu pemberian air sistem sprinkler, dengan jenis pupuk organik terhadap dinamika tumbuh bawang merah varietas lembah Palu, perlakuan pemberian air dengan interval tiga dan enam hari tidak berpengaruh nyata terhadap dinamika tumbuhnya, pemberian pupuk bokashi daun kacang hijau 40 ton/ha yaitu setara 12,5 kg/petak, berpengaruh pada bobot kering total per tanaman pada umur 40 hari setelah tanam pada dinamika tumbuh bawang merah varietas lembah Palu.

Selain itu, kita juga bisa tahu bahwa ukuran umbi berpengaruh nyata terhadap semua parameter pertumbuhan kecuali tinggi tanaman dan semua parameter hasil, yaitu jumlah umbi per rumpun, berat segar umbi per rumpun, berat kering umbi per rumpun dan produksi umbi per ha. Dimana ukuran umbi besar menghasilkan pertumbuhan lebih tinggi daripada ukuran umbi kecil. Adapun dosis pupuk K menunjukkan perbedaan yang nyata terhadap semua parameter pertumbuhan, kecuali jumlah anakan dan semua parameter hasil, kecuali pada parameter jumlah umbi perumpun. Dimana dosis pupuk K diatas 100-250 kg/ha menunjukkan hasil panen lebih baik sebesar 6,41 ton/ha daripada dosis terendah 100 kg/ha hanya 5,66 ton/ha.

Terjadi interaksi yang nyata antara ukuran umbi dengan dosis pupuk K pada semua parameter pertumbuhan, kecuali parameter jumlah daun dan jumlah anakan dan semua parameter hasil, kecuali diameter umbi. Bukan itu saja, penelitian ini juga membuktikan bahwa Kadar air yang hilang 85% memberikan hasil yang baik terhadap vigor dan viabilitas umbi bibit bawang selama penyimpanan 8 minggu.

Penyimpanan pada suhu dingin yaitu 50C-100C dan suhu beku -50C-00C terbukti mampu mempertahankan vigor dan viabilitas umbi bibit bawang merah selama penyimpanan 8 minggu. Interaksi antara kadar air dan suhu penyimpanan tidak berbeda nyata terhadap vigor dan viabilitas umbi bibit bawang merah. Sedangkan untuk upaya perbanyakan varietas Allium wakegi Araki dengan biji, masih dalam proses penelitian.

Apa yang diharapkan dari penelitian tersebut?

Semoga bawang merah Palu, bisa menghasilkan biji dan kulitas benihnya bisa semakin baik. Sehingga perbanyakannya lebih mudah dilakukan dan bawang merah lembah Palu, tidak mahal lagi.Vv

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here