FK Untad Laksanakan Seminar CME berskala Internasional

CME (Continuing Medical Education) adalah Seminar yang rutin tiap tahun dilaksanakan oleh Fakultas Kedokteran (FK)Untad sejak tahun 2015. Bertemakan “ Emergency Medicine : An Outlook Beyond Disaster Management and Psychological First Aid ” dihadiri Pemateri dari University of Dundee, United Kingdom, Prof Chim Lang BMSc (hons) MD FRCP (Edin) FRCP (Lond) FACC. Seminar yang dikhususkan bagi penyandang gelar S.Ked ini berlangsung pada Sabtu (20/04) di Teater Room, Untad.

dr Sigit Nugroho Wicaksono SKed, Ketua panitia, mengatakan bahwa CME merupakan seminar yang digelar bagi para lulusan Sarjana Kedokteran. “Dalam dunia kedokteran, dikenal adanya CME atau pendidikan kedokteran berkelanjutan, jadi ketika seseorang dokter itu sudah lulus, mereka punya kewajiban dari organisasi profesi untuk tetap mengupdate ilmu, sehingga seminar ini menjadi program tahunan oleh Fakultas Kedokteran,” ucapnya disela-sela kegiatan.

Keterangan Foto : Sedang berlangsungnya kegiatan pada sesi ke-2 ( Dok. Indra FK/ Panitia Pelaksana)

Seminar CME tahun ini dilaksankan bagi lulusan angkatan 2012 yang lulus di tahun 2018. Tema yang diangkatpun berkaca dari tragedi pada 28 september 2018 saat terjadinya bencana tsunami, gempa bumi, dan liquifaksi di Palu.

“Tema yang kita angkat tahun ini ialah  Emergency Medicine: An Outlook Beyond Disaster Management and Psychological First Aid dalam artian, kita melihat dari sisi kedokteran kegawatdaruratan pasca bencana dengan mencakup beberapa aspek dari managemen bencana, jadi ketika terjadi bencana, sebagai seorang dokter harus mengetahui bagaimana managemen disaster yang benar serta penanganan awal kasus psikologis korban bencana,” tutur dr Sigit.

Salah satu pemateri, dr Yoma Sari Sp PD, yang membahas mengenai Penanganan Kasus Infeksi Paska Bencana, menjelaskan bahwa kasus infeksi yang terjadi pada korban bencana dikarenakan oleh faktor lingkungan sekitar.

“Dengan terjadinya kerusakan disana-sini yang menyebabkan masyarakat mau tidak mau harus tinggal di tenda pengungsian. Tenda pengungsian yang tidak kondusif serta kurangnya pasokan makanan yang sehat, akan menyebabkan penurunan daya tahan tubuh, sehingga lebih mudah diserang oleh infeksi dan rentan terhadap paparan pathogen, dan lebih buruk lagi jika frekuensi pathogen tersebut meningkat seperti nyamuk, tikus dan sebagainya,” jelasnya.

Ia menganjurkan bagi para Dokter dan Tenaga Medis lainnya seperti perawat agar mencegah terjadinya penularan antara pasien satu ke pasien yang lain. “ Bagi para dokter dan tenaga medis dalam menangani infeksi bagi korban bencana harus paham bagaimana prosedur-prosedur dilapangan agar tidak menjadi media penular dari pasien satu ke pasien lainnya, yaitu dengan selalu cuci tangan, menggunakan sarung tangan hingga peralatan yang digunakan harus disemprotkan desinfektan agar tetap steril ketika digunakan dibeberapa pasien,” imbuhnya. AFT

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here