INTAN KUMBAYONI

Kuasai 5 Bahasa Asing, dan Berkesempatan Belajar di Negeri Paman Sam

Intan Kumbayoni, sapaan akrab Ni Gusti Ayu Putu Intan Kumbayoni, Mahasiswi angkatan 2017 Jurusan Antropologi Fisip Universitas Tadulako (Untad). Gadis yang gemar membaca dan mengikuti berbagai lomba tersebut ,lahir pada 2 Agustus 1999 di Toinasa, Poso, Sulawesi Tengah.

Berbagai lomba yang diikuti Intan diantaranya lomba kepenulisan, olimpiade pelajaran, dan olimpiade catur. Sulung dari I Gusti Ngurah Agung Kadek Dwi Arsana, yang sedang menyelesaikan pendidikan di SMA N 1 Pamona Barat, Poso, pernah menjuarai catur di tingkat Kecamatan dan juga menjuarai Olimpiade Matematika di tingkat yang sama. Dan menjadi juara bertahan pada jenjang sekolah Intan selanjutnya.

Putri dari pasangan I Ketut Sudarsana SPd (ayah) dan Ni Gusti Ayu Komang Armini (ibu), .  memilih pindah ke daerah asal orang tuanya, Bali, dan melanjutkan pendidikannya di SMA Dwijendra Denpasar, setelah tamat pada pendidikan tingkat menengah pertama. Intan mengambil jurusan di SMA Dwijendra Denpasar, yang merupakan salah satu sekolah swasta favorit yang berbasis Hindu.

Di masa SMA, Intan Kumbayoni adalah peraih juara umum. Ia juga banyak mengikuti dan menjuarai ajang kompetisi baik di kancah Nasional maupun se-Provinsi/Kota, seperti juara 2 olimpiade Karya Tulis Ilmiah Matematika yang diselenggarakan di Universitas Udayana pada tanggal 19 November 2016, Speech Contest Bahasa Inggris pada tanggal 22 Januari 2017, juara 2 esai hukum se-provinsi Bali, juara 1 yoga se-kota Denpasar, juara 2 Scouting Adventure city se-Provinsi Bali, dan juara 2 scrapping book se-kota Denpasar.

Setelah menyelesaikan sekolah menengah atas, perempuan yang pernah bercita-cita menjadi dokter di masa kecilnya itu, menjatuhkan pilihannya di Jurusan Antropologi Universitas Tadulako. Intan Kumbayoni sempat mengincar seleksi SNMPTN dan SBMPTN Teknik Nuklir, UGM (Universitas Gadja Madha) Yogyakarta, namun pada akhirnya ia menetapkan pilihannya di Jurusan Antropologi Untad. Intan Kumbayoni mulai meminati antropologi setelah bertemu dan berbagi cerita dengan seorang motivator yang berlatar belakang pendidikan antropologi, yang tidak lain ialah seniornya.

Aktivitasnya sejak SMA yang aktif mengikuti berbagai kompetisi, kembali membuatnya mengaktifkan diri di Kampus dengan berlembaga dan mengikuti kompetisi pula. Meski demikian, prestasi akademiknya tetap dijaganya dengan mempertahan IPK 4.00 sejak semester satu hingga saat ini. Sementara kompetisi yang pernah diikutinya ketika menjadi mahasiswa yakni kompetisi essay Internasional. Salah satu yang pernah diikutinya ialah International esay SDGs in Seoul University Korea, yang menempatkan dirinya pada 100 besar Internasional. Intan Kumbayoni juga aktif menjadi relawan dan pegiat menulis. Salah satu tulisannya berjudul “Erased Memory” telah dibukukan pada 16 Maret 2019 lalu.

Tidak hanya keluar sebagai pemenang, perempuan yang memiliki hobi bermain catur itu, mengaku hingga saat ini telah menguasai lima bahasa yaitu bahasa Inggris, Korea, Jepang, China, dan Spanyol serta bahasa ibu, bahasa Indonesia, bahasa Bali, dan Bahasa Pamona yang masing-masing memiliki tingkatan berbeda.

Tidak heran jika Intan sampai pada titik ini. Dalam mencapai segala prestasinya, ia merupakan sosok yang gigih dan tekun dalam meningkatkan potensi dirinya. Karena kegigihannya itu, Intan ia dinyatakan lulus dan mendapatkan kesempatan belajar di Amerika Serikat selama satu semester. melalui UGRAD (Undergraduate Exchange Program) yang diselenggarakan oleh AMINEF (American Indonesian Exchange Foundation), yang bekerja sama dengan kedutaan Amerika Serikat dan World Learning, untuk pertukaran pelajar di Amerika Serikat selama enam bulan.

Menimba ilmu di negeri seberang adalah hal yang telah dimimpikannya sejak kecil. Semangat untuk mewujudkan mimpinya itu bertambah ketika bersekolah di menengah atas, di Bali yang notabenenya adalah kota wisata yang banyak didatangi oleh wisatawan asing. Intan Kumbayoni juga pernah berkeinginan berkuliah S1 di luar negeri, dengan terus mencari beasiswa agar tak membebani orang tuanya.  Namun, mimpinya itu baru dapat diraihnya sekarang. Dengan semangatnya itu, Intan Kumbayoni akan berangkat pada Januari yang akan datang.

“Dari dulu waktu kecil, saya sudah ingin melihat bagaimana dunia luar. Hanya saja, saya inikan bisa dibilang dari desa, dan orang tua saya juga bukan orang yang mampu seperti orang lain. Saya inginnya dapat beasiswa dan kuliah di luar. Tetapi, beasiswa S1 jarang ada, jadi ya sudahlah,. Syukur saat menjalani kuliah, saya berkesempatan belajar di Luar Negeri, mesti hanya 1 semester,” ungkap Intan Kumbayoni.

Perjuangan yang telah dilaluinya pun tak semudah dan sesingkat ketika ia menerima pengumuman lolos seleksi UGRAD. Ia harus mengikuti seleksi online pada Desember 2018 silam, yang harus menyertakan beberapa persyaratan berkas, seperti surat rekomendasi dosen berbahasa inggris, transkrip nilai, fotocopy KTP, paspor, sertifikat atau TOEFL prediction minimal 500 dan essay tentang kepemimpinan. Saat itu, dari puluhan ribu pendaftar seluruh Indonesia, Intan dinyatakan menjadi peserta dengan nomor urut 27788, dan harus mengikuti seleksi kedua yaitu interview di Ibu Kota, yang menyisakan 11 peserta termasuk dirinya. Lalu, seleksi terakhir yang diikutinya ialah seleksi iBT TOEFL yang dilaksanakan di Denpasar, Bali.

Intan Kumbayoni mengungkapkan bahwa senjata utama dari keberhasilan seleksi UGRAD-nya itu ialah kesabaran. Sejak mendapat informasi tentang seleksi UGRAD pada Agustus 2018, Intan harus mempersiapkan berkas dengan tantangan yang tidak mudah. Belum usai persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhinya, ia kembali diperhadapkan dengan pilihan menyelesaikan seleksinya itu atau tidak. Pasalnya, pada September 2018, Kota Palu dilanda bencana alam, gempa 7,4 SR yang juga berdampak padanya. Ia hampir berputus asa. Namun, pada Desember di tahun yang sama, ia bertekad kuat untuk tetap melanjutkan seleksi dengan mengirimkan berkasnya meskipun baru bisa dikirimnya pada detik-detik terakhir penutupan pendaftaran.

“Di bulan Agustus tahun lalu, saya itu melihat sebuah akun yang menginformasikan bahwa akan ada seleksi UGRAD ini. Dari situ saya sudah berfikir, oh iya saya mau ikut. Lalu saya urus semua persyaratan yang ditentukan, urus sana-sini. Tapi pada bulan September itukan gempa besar dan berdampak juga pada persiapan saya. Mau mengurus berkas-berkas masih sulit. Sempat bingung, namun akhirnya itu pada tanggal 31 Desember tahun lalu saya berhasil kirim berkas. Meskipun kirimnya itu 3 menit sebelum penutupan pendaftaran,” kenang Intan Kumbayoni, yang selalu mendapat support system yang bagus, dari lingkungannya. Md

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here