Ramadhan Pertama di Pengungsian

Ini merupakan ramadhan pertama bagi warga Pasigala (Palu, Sigi dan Donggala) pasca gempa dahsyat yang menimpa pada 28 September silam. Musibah itu ternyata bukan musibah terakhir bagi warga Sulawesi tengah, rentetan peristiwa alam terjadi dan mengagetkan kita. Gempa dahsyat yang terjadi di Luwuk, juga banjir bandang yang menimpa saudara-saudara kita di Desa Bangga, Dolo Selatan menjadi pemandangan yang menyesakkan dada kita semua yang melihat.

Ini ramadhan pertama yang tidak mudah bagi saudara-saudara kita di bilik-bilik pengungsian. Melewati masa-masa ramadhan yang bisa memanggil kembali memori lama tentang ramadhan tahun kemarin di rumah yang penuh kenangan. Menjalani ibadah puasa, menikmati santap sahur, melantunkan tilawah Al-Qur`an, berbuka bersama, taraweh di masjid terdekat, adalah momen yang tentu bisa kita rasakan bersama tentang betapa teriris dan menyayat rasa bila kita coba mengenang kembali peristiwa itu.

Ini juga ramadhan pertama bagi kita untuk melihat dan peduli pada saudara-saudara kita yang tinggal di balik dinding-dinding tripleks Hunian Sementara (Huntara). Bila dahulu kita hanya menyaksikan lewat layar kaca betapa nestapanya mereka yang tinggal di kamp-kamp pengungsian, maka hari ini kita bisa melihat dari jarak yang sangat dekat, tentang kesulitan hidup tersebut.

Bencana 28 September yang lalu memang tidak meluluhlantakan seisi kota. Bencana itu juga tidak menghabiskan seluruh rumah. Masih ada dan banyak bangunan yang berdiri tegak, keluarganya selamat, harta bendanya tak bergeser walau seperak. Mungkin ini rahasia Allah, Ia menyelamatkan rumah kita dari bencana, harta benda terjaga untuk dipakai menolong mereka yang nasibnya tak sama

Maka, ramadhan ini adalah momentum untuk menggalakan kembali kebersamaan dan solidaritas warga. Ramadhan datang tidak hanya dengan konsep menahan lapar dan haus, ia juga hadir dengan konsep berbagi lewat anjuran zakat, infak dan shodaqoh yang dianjurkan oleh baginda Nabi. Situasi ini mesti perlu dilihat dan dikelola dengan baik oleh pemerintah juga lembaga-lembaga penghimpun dana masyarakat.

Pernah tersebut dalam bincang-bincang non formal kami dengan beberapa relawan baik komunitas maupun NGO. Mereka ingin sekali memberikan bantuan di Huntara tempat-tempat pengungsian, tapi khawatir ricuh sebab takut bantuan yang mereka berikan tidak cukup dengan jumlah pengungsi yang membutuhkan. Niat-niat baik semacam ini rasanya sayang bila urung dilakukan sebab kendala-kendala teknis semacam ini. Hal-hal begini perlu mendapat penglolaan yang baik, dan sangat elok andai bisa diwadahi oleh pemerintah dengan mekaisme kerja yang penuh integritas.

Momen ramadhan ini perlu menjadi momen membahagiakan sesama. Mengambil spirit kebaikannya, menebar manfaat pada banyak saudara-saudara kita yang sedang diuji dengan kekurangan harta dan kematian anggota keluarga. Kami khawatir, bila di ramadhan saja kita tidak bisa tergugah untuk berderma, maka di bulan-bulan yang lain dapat kita bayangkan bagaimana sulitnya nurani kita terketuk untuk saling merasakan penderitaan sesama manusia.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here