Workshop UPT. Laboratorium Dasar Bahan Ajar Mata Kuliah PAI Siap Diajarkan pada Semester Ganjil

Keterangan Foto: Nurhayati SAg MPDi saat memaparkan terkait bahan ajar (foto: Ikerniaty Sandili/MT)

Merujuk pada surat edaran dari Kementrian Agama pada bulan Maret lalu, tentang pengembangan bahan ajar mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI) di berbagai Perguruan Tinggi, UPT Laboratorium Dasar (Labdas) langsungkan workshop tentang pengembangan bahan ajar sekaligus sistem perkuliahan pada mata kuliah PAI tersebut. Workshop yang dihadiri oleh seluruh dosen PAI se-Untad ini dilaksanakan pada kamis (02/05) di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA).

Kepala UPT Labdas, Dr Lufsyi Mahmudin SSi MSi, sangat mengapresiasi kepada para dosen pengampuh mata kuliah PAI dalam bekerja keras menyusun bahan ajar baru. “Saya sangat berterima kasih kepada seluruh dosen mata kuliah PAI ini, karena telah bekerja keras dalam menyusun bahan ajar baru, dan insya Allah bahan ajar yang dibuat sudah bisa diajarkan pada semester ganjil,” tutur Dr Lufsyi.

Dr Lufsyi juga menyampaikan kepada seluruh dosen pengampuh bahwa ke depannya, sistem pembelajaran online akan diterapkan. “Dalam penunjang perkuliahan secara online, dosen diharuskan mempunyai WEB  atau situs edukasi lainnnya. Sehingga materi yang telah disepakati bersama dalam bahan ajar, dapat dimasukkan ke dalam WEB masing-masing dosen, hal tersebut mempermudah mahasiswa  dalam memperlajari materi yang dibawakan dosen, karena mereka hanya tinggal mendownload materi di WEB dosen tersebut,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana, Nurhayati SAg MPDi, juga mengatakan bahwa bahan ajar yang biasa diterapkan di Perguruan Tinggi lain ialah tahun 2006. Berbeda dengan Untad yang menerapkan tahun 2016. “Diberbagai Perguruan Tinggi  di Indonesia, hanya Universitas Tadulako saja yang menerapkan bahan ajar tahun 2016. Beberapa waktu lalu kami telah rapatkan dan hasil keputusannya yakni kembali pada buku ajar tahun 2006,” papar Nurhayati.

Lebih lanjut ia menuturkan bahwa, workhsop ini bukan hanya sekadar  membahas pengembangan bahan ajar, namun mensosialisasikan materi yang akan diajarkan kepada mahasiswa, jadi dosen sudah mempunyai materi uji dalam buku ajar sehingga tidak boleh lagi seenaknya dalam membawakan materi kepada mahasiswa.

Nurhayati menghimbau kepada seluruh dosen yang masih mengajukan perubahan agar disampaikan kepada tim penyusun bahan ajar. “Bahan ajar yang disusun masih banyak tahapan hingga bahan ajar tersebut dibukukan, seperti tahap ISBN, sehinngga Saya berharap kepada bapak ibu dosen yang masih mau melakukan perubahan nanti bisa dikomunikasikan kepada tim penyusun bahan ajar,” tutupnya. AFT