Guru Tua, Soekarno, dan Pancasila : Perekat Untuk Kembali pada Kefitrahan Bangsa

Shofia Nurun Alanur S, S.Pd (Mahasiswi Program Magister Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Pascasarjana UPI Bandung dan Alumni Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Untad )

Bulan juni di tahun 2019 atau tepatnya pada 1440 Hijriyah merupakan momen istimewa. Sebab di bulan ini kita merayakan dan memperingati hari-hari yang istimewa. Pertama, pada tanggal 1 Juni, kita memperingati hari lahirnya Pancasila, sebagai ideologi dan dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kedua, pada 5 Juni, tepatnya 1 Syawal 1440 H, seluruh umat muslim di dunia merayakan hari besar agama yaitu Idul Fitri. Setelah berpuasa selama 30 hari, Idul Fitri menjadi momen bagi setiap umat muslim untuk kembali memperbaharui diri menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya. Ketiga, pada 6 Juni, kita memperingati hari lahirnya Presiden Pertama Republik Indonesia, Bapak Ir.Soekarno. Beliaulah yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, dan menggagas dasar negara Pancasila hingga berdiri dan kokohlah nusantara ini. keempat, pada 15 Juni, tepatnya 11 Syawal, masyarakat Sulawesi Tengah khususnya, memperingati Haul ke-51 Sayyid Idrus Bin Salim Al Jufri, atau lebih dikenal dengan sebutan Guru Tua.

Saya menyebutnya istimewa bukan tanpa alasan. Peringatan hari lahir Pancasila yang menjadi hari libur nasional, dan diperingati dengan melaksanakan upacara bendera, memang wajib diketahui oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila adalah filosofische grondslag dan common platforms atau kalimatun sawa. Pancasila adalah dasar dan ideologi negara, yang merupakan keseluruhan sistem berpikir, nilai-nilai, dan sikap dasar negara Indonesia. NKRI yang terdiri dari ragam agama, suku, budaya dan pandangan yang berbeda, membuat Soekarno berpikir keras saat itu.

Dimasa Sidang BPUPKI, yang bertujuan mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, para pendiri bangsa membahas hal yang krusial dan penting yaitu dasar falsafah bangsa Indonesia. hal ini sebagai wujud untuk membentuk negara indonesia yang merdeka. Tepat 1 juni, Ir.Soekarno memaparkan gagasannya, berupa lima perasaan bangsa yang Ia gali, yang disebutnya “Pancasila”,  yang menurutnya cocok untuk NKRI yakni dibangun dengan lima prinsip. Kelima prinsip itu adalah kebangsaan Indonesia, Internasionalisme atau perikemanusiaan, mufakat atau demokrasi, kesejahteraan sosial dan ketuhanan.

Pancasila ini lahir dan dirumuskan dalam persidangan Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI)  khususnya dalam pidato Soekarno tanggal 1 Juni 1945. Soekarno menyebut dasar negara sebagai Philosofische grondslag sebagai fondamen, filsafat, pikiran yang sedalam-dalamnya yang diatasnya akan didirikan bangunan negara Indonesia. Soekarno juga menyebutnya dengan istilah Weltanschauung atau pandangan hidup. Pancasila adalah lima dasar atau lima asas.

Perbedaan pendapat yang cukup tajam antara kubu nasionalis dan kubu agamis, antara mendirikan negara kebangsaan atau negara Islam, membuat sulitnya memutuskan dasar negara. Sehingga diputuskan secara aklamasi bahwa Pancasila yang diterima sebagai dasar negara, sebagaimana dalam Pidato Soekarno 1 Juni. Ia mengatakan “pancasila ini aku gali di dalam buminya rakyat Indonesia , dan aku melihat di dalam kalbunya bangsa Indonesia itu ada lima perasaan. Lima perasaan ini dapat dipakai sebagai pemersatu daripada bangsa Indonesia yang 80 juta ini”. Gagasan politik yang tertuang di dalamnya merupakan rumusan solutif dan sempurna. Para pendiri negara kita mampu meramunya dengan sangat kreatif, mengambil jalan tengah antara dua pilihan ekstrem, negara sekuler dan negara agama. Tidak bisa kita bayangkan jika dahulu para founding fathers tidak menemukannya, maka mungkin tidak kita jumpai di dunia ini negara bernama Indonesia. Mereka menyusunnya dengan rumusan yang sangat imajinatif, yakni negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, sesuai dengan disahkannya Pancasila pada 18 Agustus 1945. Soekarno ingin mendirikan negara ini untuk semua. Bukan kristen buat Indonesia, islam buat indonesia, tetapi indonesia buat semua.

Jelaslah dalam sejarah tersebut, proses pembentukan negara Indonesia dan bangsa ini, ada ruh ketuhanan di dalamnya. Yang artinya bahwa kemerdekaan yang kita raih, adalah berkat rahmat Allah subhanahu wata’ala. Allah telah menciptakan manusia berbeda-beda dan bersuku-suku, agar gunanya kita saling mengenal dan menyayangi, bukan saling menghujat, membenci dan merasa paling benar. Sebagaimana Al Qur’an Surah Al Hujurat ayat 13 yang artinya “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”.

Perasaan kebangsaan menjadi bagian dari iman kita. Hubbul wathon minal iman, yang artinya cinta tanah air adalah sebagian dari iman. Karakter nasionalisme dan Hubbul Wathan Minal Iman yang didesain melalui Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), harus dimaksimalkan untuk mencetak generasi yang setia kepada Indonesia. Hal ini menjadi cara strategis untuk menghalau lahirnya generasi antinasionalisme, faham dan aliran radikal yang mengancam keutuhan Indonesia. Nasionalisme memang bukan segalanya, namun keutuhan negara yang di dalamnya ada suku, bahasa, budaya dan agama berawal dari sana. Tanpa nasionalisme, Indonesia akan mudah dijajah dan dihancurkan.

Nasionalisme kebangsaan ini kita bisa teladani, dari tokoh ulama, tokoh pendidik, ustaz, maupun guru yang dituakan khususnya di Sulawesi Tengah, yaitu Habib Sayyid Idrus Bin Salim Al Jufri. Orang Palu menyebut beliau Guru Tua. Nasionalisme guru tua berasal dari ibunya, Andi Syarifah Nur yang merupakan warga Negara Indonesia. Sejak kedatangannya yang pertama kali pada 1911M dan kedatangan kedua pada 1922M, serta sejak Muktamar Al Khairat yang pertama, Guru Tua tidak pernah mempersoalkan Pancasila sebagai dasar negara. Al Khairaat menjadi bukti nyata yang kita bisa nikmati, bahwa kalau bukan keberadaan beliau di masa penjajahan Belanda tahun 1945, maka kita masih menjadi bangsa yang terbelakang. Pada saat terjadi pergolakan antara Permesta dan DII/TII, guru tua menegaskan untuk mempertahankan NKRI dan mengikuti pemerintah Indonesia yaitu Soekarno. Prinsip beliau NKRI harga mati dan beliau sangat mencintai merah putih. Sampai dibuatnya dalam sebuah syair “tiap bangsa memiliki simbol kemuliaan, dan simbol kemuliaan kami adalah merah dan putih”.

Beliau tidak menyepakati adanya kolonialisme dan komunisme. Terbukti pada tahun 1958, kekuatan militer pendukung Permesta meminta untuk meminjam gedung Al Khairaat sebagai markas militer. Guru tua enggan memberikan izin, dengan alasan gedung ini untuk pendidikan. Gedung madrasah di tembaki beberapa kali, namun tidak ada satu pun yang mengena. Sikap ini adalah bentuk sikap ksatria guru tua, melawan pengkhianat NKRI. Semangat ini ia wariskan kepada murid-muridnya, diwajibkannya mengenakan kopiah dengan dipasang bendera merah putih setiap persekolahan, sebagai bentuk wujud semangat cinta tanah air. Tidak hanya itu, ghirah nasionalisme beliau tumpahkan melalui Mars Al Khairaat sebagai berikut : “Al Khairaat tempat mendidik putera puteri, berdasarkan Pancasila, menempah patriot paripurna, mendidik islam yang sejati, kiranya Allah memberkati, Al Khairaat lanjutlah usianya, mencipta manusia susila, sebagai bakti bagi negara, moga-mogalah bagi para pelajarnya, terlindung dalam sinar kemajuannya, sorak-soraklah, Al Khairaat hiduplah sentosa selama-lamanya”.

Guru tua dan Soekarno, menjadi teladan bagi kita, untuk menjaga apa yang sudah ada. NKRI adalah tanggung jawab kita bersama, sebagaimana dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 27 ayat 3 menyebutkan “setiap warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. Lembaga pendidikan seperti Al Khairaat, didirikan bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajahan, karena penjajah tidak pernah menginginkan bangsa ini menjadi cerdas. Karena itu, tugas kita sebagai bangsa yang menghormati para guru dan pahlawan, adalah belajar dengan sungguh-sungguh, mengejar cita cita tertinggi. Disamping itu, sebagai bangsa yang berketuhanan, sebagai pribadi yang beragama, tak lupa mendekatkan lahir dan batin kepada Tuhan masing-masing, agar senantiasa menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Sebagaimana kata guru tua dalam syairnya “ilmu itu cahaya di dalam hati dan orang yang berilmu mereka telah mencapai derajat syurga”.

Semoga Allah memberikan balasan syurga kepada para pejuang kita. Khususnya Guru Tua, semoga beliau mendapat izin Allah swt, diberikan gelar Pahlawan Nasional oleh pemerintah Republik Indonesia.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here