Mahasiswa Untad Rayakan Idul Fitri di Pengungsian

Ket. Foto : Riskiyani di depan huntara

Rabu (05/06) – Slogan Pasigala Kuat, Pasigala Bangkit dapat dikatakan secara magis mampu menyutikkan optimisme korban bencana pada 28 September 2018 yang lalu. Hal itu dibuktikan mahasiswa Universitas Tadulako (Untad), yang melepas Ramadan dan menyambut 1 syawal dari hunian sementara di pengungsian, dengan penuh syukur dan semangat.

1 dari 2 mahasiswa tersebut yakni Riskiyani (Fakultas Ekonomi, Jurusan Manajemen, 2017). Ditemui pasca shalat Idul Fitri di kediamannya, di Huntara Jl. H. Patillah, Kel.  Pantoloan, Kec. Tawaeli, mengatakan bahwa momen lebaran tahun ini benar-benar berbeda dari tahun-tahun yang ia dan keluarganya jalani. Bencana tersebut akunya, memberinya sebuah kesyukuran dibalik kepedihan yang ia rasakan.

“Selain karena kami tinggal di huntara, hal yang terasa begitu berbeda, adalah saat shalat Idul Fitri. Kami yang di huntara shalat di Masjid Jami, satu-satunya bangunan yang masih berdiri pasca tsunami. Di sekitarnya rumah-rumah kami tersapu, hilang sudah. Saat itu, saya sedih, seolah terbayang saat bencana itu. Terlebih ketika khatib menyinggung perihal bencana itu. Tidak hanya saya yang menangis, barangkali semua jamaah,” tutur Riskiyani.

Riskiyani menambahkan, bahwa rasa syukurnya bertambah karena masih dapat berkumpul dengan keluarganya dan merayakan Idul Fitri. Hal tersebut menjadikannya tidak mengeluh, meski tinggal di huntara, dan menghabiskan malam lebaran dengan membantu ibunya membuat beberapa menu pesanan orang.

“Saya sendiri, menangis saat khotbah karena sedih dan syukur. Syukur karena saya bisa menyelamatkan diri dari terjangan tsunami. Jika tidak, mungkin yang berlebaran hanya mama, papa, dan saudara kembar saya, meski kehilangan harta benda. Itu jauh lebih beruntung daripada korban lainnya yang tidak mampu berkumpul dengan sanak keluarganya, karena ada anggota keluarga yang sudah meninggal akibat bencana itu,” imbuhnya.

Saat ditanya tentang spirit dari Idul Fitri, Riski menyampaikan bahwa Idul Fitri adalah hari kemenangan, maka setelah Idul Fitri segala hal harus bisa dimenangkan. Ia bertekad menyelesaikan studinya agar bisa menang dari dari rasa takut tidak bisa kuliah karena kondisi ekonomi, putus asa sebab seluruh berkas-berkas kuliahnya raib ketika tsunami..

Hal yang serupa dialami juga oleh Syafatur Rahama Al Gazali (Fapetkan, 2017). Ia dan keluarga menjalani lebaran di pengungsian desa Sibalaya Selatan, Kab. Sigi, sebab rumah mereka telah terbenam dalam tanah akibat likuifaksi. Ada rasa rindu dengan suasana lebaran tahun-tahun sebelumnya.

“Saya rindu dengan susana lebaran di rumah seperti tahun-tahun kemarin. Masyarakat di sini semua sedih karena teringat dengan rumah yang terkena likuifaksi. Dulunya kita berkumpul, saling bersilaturrahim dari rumah ke rumah. Sekarang tidak ada lagi yang seperti itu. Saya juga sedih melihat orang tua yang harus kehilangan pekerjaan. Lahan bapak saya sudah tersapu likuifaksi. Jadi lebaran kali ini benar-benar ala kadarnya, tidak ada kemeriahan dan suka cita seperti dulu,” jelasnya.

Kondisi ketiadaan yang dirasakan Fatur dan keluarga, membuat dirinya termotivasi untuk semangat berkuliah.  Ia berharap bisa menjadi orang sukses agar bisa membangunkan rumah untuk keluarganya.

“Saya memotivasi diri agar semangat berkuliah karena dengan saya kuliah, mungkin saya bisa jadi sukses ke depannya. Insya Allah, saya akan kembali bangunkan rumah untuk kedua orang tuaku, dan berharap lebaran-lebaran selanjutnya kami sudah tinggal di hunian yang lebih layak,” pungkasnya. RAM