Menjaga Benteng Integritas

Dahulu pernah ada sebuah adagium, bila ingin menghancurkan sebuah bangsa maka rusaklah pemudanya. Kalimat tersebut kemudian mengalami perkembangan, tentang bagaimana cara merusak mental suatu bangsa. Saat ini, bila ingin merusak sebuah bangsa, maka ajarkanlah kecurangan sejak masih usia belia. Dan itulah yang tengah terjadi pada kondisi kita hari ini.

Anak-anak kita telah diajarkan kecurangan sejak usia Sekolah Dasar, mereka telah dididik bagaimana lulus dari sekolah dasar dengan cara-cara yang curang, menyontek, memperoleh nilai tinggi dengan jalan pintaspun menjadi lumrah. Alhasil, generasi kita telah mengenal kecurangan sejak masih dijenjang pendidikan paling rendah.

Mereka kemudian dimasukan ke sekolah berikutnya dengan cara-cara curang, menyelesaikan pendidikan dengan cara yang curang. Telah menjadi rahasia umum, di masa-masa sekolah generasi bangsa ini telah diperkenalkan bahkan mempraktikan berbagai model kecurangan. Begitu sampai di gerbang perguruan tinggi, anak-anak kita telah memiliki modal pembelajaran kecurangan dari berbagai jenjang pendidikan yang telah dilewati.

Bila gagal menembus prosedur yang telah diatur, pengalaman sebelumnya telah mengajarkan mereka, bahwa jalan pintas (kecurangan) selalu terbuka bagi siapa yang ingin membayar lebih. Bila diperguruan tinggi mereka sudah masuk dengan jendela-jendela non prosedural, maka tidak menutup kemungkinan banyak hal yang akan dilakukan dengan cara-cara tak pantas itu. Menyontek, suap, menyikut teman dalam berlembaga, hingga copy paste karya ilmiah, akan jadi hal yang biasa, sebab sedari awal pendidikan kita memang telah permisif pada hal-hal yang tidak benar.

Saat lulus dari perguruan tinggi kita dapat melihat bagaimana orang berbondong-bondong mendapatkan pekerjaan lewat jalan-jalan curang. Mendaftar ke berbagai instansi dan perusahaan berbekal koneksi dan pemberian berkedok hadiah. Ujungnya, bila seseorang telah mendapatkan posisi atau jabatan penting dari pekerjaanya, maka kebijakan-kebijakan yang keluar adalah kebijakan yang penuh dengan keculasan.

Hari menengoklah ke sekeliling kita bagaimana hal-hal tak lumrah dipraktikkan secara terang menerang. Menyuap, menyingkirkan teman, memfitnah, dan berbagai praktik-praktik tak baik itu dipraktekkan demi memuluskan saluran rupiah ke kantong-kantong pribadi. Kecurangan adalah candu, ia bisa membuat ketagihan saat berhasil melakukan satu kecurangan, sebab prosesnya mudah, hasilnya pun sesuai yang diinginkan. Kecurangan itu memabukkan.

Kita perlu mengevaluasi banyak hal di banyak lini bangsa ini, termasuk lini pendidikan. Sebab bila begini kejadiannya, tak ada lagi arti rumusan pendidikan karakter yang telah disusun sebegitu rumit itu. Kecurangan memangkas integritas, bila orang telah kehilangan integritas, maka semuanya akan mudah dilakukan, sebab benteng moralnya telah jebol dari usia sekolah dasar.

Situasi saat ini memang tidak mudah, tapi kita perlu melahrikan generasi bangsa yang tidak permisif pada kecurangan. Kita harus membuat anak-anak kita jijik pada praktik-praktik culas itu. Dan itu bisa dimulai dari sekolah, dari pendidikan yang menjunjung tinggi integritas.