Moh Rizal Iqwaldi, Mahasiswa Kehutanan yang Ingin Jadi TNI AL

Momen lebaran Idul Fitri, selalu dimanfaatkan sejumlah mahasiswa untuk mudik, berkumpul dan keluarga, dan merayakan hari kemenangan bersama. Berbeda halnya dengan Mohammad Rizal Iqwaldi yang memilih melepas bulan Ramadan dan menyambut 1 syawal di tanah Kaili. Ia memutuskan untuk melaksanakan shalat Id, bersama keluarga Besar Untad, dan masyarakat perdos, di bumi Kaktus.

Laki-laki yang akrab di sapa Iqwaldi itu menyadari amanahnya sebagai Ketua Lembaga Dakwah Kampus Unit Pengkajian Islam Mahasiswa (LDK UPIM) Untad, sebagaimana yang dilakukan ketua-ketua LDK UPIM terdahulu. Sulung dari empat bersaudara itu mendapatkan amanah melalui lembaga untuk bekerja sama dengan Panita Hari Besar Islam (PHBI) Untad, menyelenggarakan Halalbihalal, dan menyiapkan segala sesuatu untuk shalat Id, sehingga ia memutuskan untuk tidak berlebaran bersama orang tua dan saudaranya.

Putra dari Arifin (ayah) dan Zulaikah (ibu), lahir pada tanggal 26 Agustus 1996 di Cendana Pura Kecamatan Toili, Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah. Ia menyelesaikan pendidikan SD hingga SMA di Toili. Lulus di sekolah dasar (SD) Inpres 1 Tirta kencana Kecamatan Toili pada tahun 2008, ia melanjutkan tingkat menengah di MTs Ibnu Khaldun Jaya Kencana.

Alumni SMA Negeri 1 Toili itu, setelah lulus SMA pada 2014, tidak langsung melanjutkan pendidikan ke Perguruan Tinggi, karena terkendala ekonomi keluarga. Barulah 1 tahun kemudian, di tahun 2015, setelah giat bekerja, ia mengecap nikmatnya sekolah di Perguruan Tinggi, Fakultas Kehutanan, Untad

Pecinta hijau itu dibesarkan dengan sederhana namun berjiwa besar. Karenanya, tak ayal ketika segala hal yang terjadi dalam kehidupannya, ia selalu berpikir positif dan senantiasa bersyukur. Sehingga Ia tidak pernah merasa benar-benar merasa terpuruk ketika mendapat masalah.

Spirit dalam melakukan apapun, termasuk studi bagi penggemar olahraga lari, renang, dan sepak bola itu,  adalah orang tuanya. Orang tuanya selalu membuatnya tegar menghadapi kerasnya hidup di perantauan. Karena menurutnya, perjuangan kedua orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan keluarga, tidak ada apa-apanya dibanding perjuangannya untuk diri sendiri. Orang tuanya mengajarkannya cara menghargai kerja keras sejak ia kecil, sehingga membentuk dirinya yang penyabar.

Dalam menjalani segala aktivitasnya, Iqwaldi memiliki beberapa tips yang ia aplikasikan dalam kehidupannya. (1) jika mendapat suatu masalah, ia selalu melihat kembali kesalahan yang berasal dari pribadinya sendiri, atau introspeksi diri demi menjaga hubungan dengan orang lain, (2) selalu mengingat dan menjadikan usaha kerja keras orang tua sebagai motivasi dalam setiap langkah, (3) giat dalam mengembangkan diri, menghargai proses dan tekun, (4) bertawakkal kepada Allah SWT.

Mahasiswa Kehutanan itu, pernah bercita-cita menjadi TNI AL (Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut). Namun, karena sebagian waktu luangnya ia gunakan untuk berpetualang ke hutan, mendaki gunung, memancing di sungai, dan menemukan hal-hal baru di alam bebas, ia memutuskan untuk menjadi mahasiswa Kehutanan. Akan tetapi, ia berniat mendaftar TNI AL setelah studi S1 nya selesai.

Pengurus LDF di Fakultasnya pada 2016, sebelum menjadi amir LDK UPIM, terus mengasah dirinya dalam hal kepemimpinan. Karenanya sebelum mengemban amanah menjadi ketua umum LDK UPIM, ia pernah berkiprah di paguyuban asal daerahnya, Ikatan Mahasiswa Pelajar Toili Raya (IMPTR) sebagai sekretaris. Dua tahun berikutnya, tepatnya di tahun 2018 barulah ia dipercayakan sebagai koordinator Litbang (Literasi dan Pengembangan) LDK UPIM Untad, dan tahun 2019 ia diberikan kepercayaan tertinggi, menjadi ketua LDK UPIM.

Iqwaldi memahami hidup dengan selalu beramal. Prinsip hidupnya yakni “Habiskan Waktu Untuk Amal Agama”. Menurutnya, dalam hidup ini hanya tentang dua perkara yaitu dunia dan akhirat. Bagaimana pun orang-orang berusaha di dunia harus tetap melakukan hal-hal untuk bekal di akhirat.

“Dalam hidup, waktu kita hanya akan habis oleh dua perkara, yaitu habis karena perkara amal agama dan habis di luar perkara agama. Tentunya setiap waktu kita semakin bertambah usia, semakin sedikit waktu yang Allah berikan untuk kita berpijak di bumi Allah SWT, dan pada hakikatnya diri kita pasti menginginkan bertambahnya ketaatan (Ketaqwaan). Oleh sebab itu harus ada upaya-upaya untuk menuju apa yang kita harapkan, yaitu bagaimana kita memandang setiap aspek kehidupan kita, setiap aktifitas kita sebagai amal agama. Semua diniatkan karena Allah SWT. Apapun Aktifitas dan status kita, baik sebagai mahasiswa, pekerja, nelayan, petani, guru dan lain-lain, jangan melupakan hakikat status kita yaitu sebagai hamba yg berkewajiban berhamba pada Tuhan,” tuturnya.

Sementara ketika ditanya pendapatnya tentang pendidikan, pendidikan baginya adalah kebutuhan primer manusia. Pendidikan harus terus diraih oleh setiap orang dan terus ditingkatkan kualitasnya agar terbangun sebuah peradaban. Hal itu berlaku pula untuknya, yang berusaha selalu belajar baik secara formal maupun nonformal. Sembari tersenyum, Iqwaldi mengakatan bahwa pendidikan tidak bisa lepas dari literasi. Md