World Oceans Day, Peneliti Untad Bicara Masalah Kelestarian Laut

Ket. Foto: Drs Abdullah MT (Dok Akhmad Usmar, S.Sos)

Sabtu (08/06) – Sejak disahkan oleh PBB pada 2008, Dunia memperingati Hari Laut Sedunia pada 8 Juni dengan berbagai kegiatan, sebagai bentuk konsistensi menjaga kelestarian laut. Berkaitan dengan Hari Laut Sedunia tersebut, para peneliti Universitas Tadulako (Untad), memaparkan beberapa hal terkait kelestarian laut.

Saat ditemui di ruang kerjanya, Peneliti sekaligus Dosen Fapetkan yang bergelut di dunia kelautan, Dr Ir Abd Masyahoro MSi, mengatakan bahwa ada beberapa item yang menjadi problem dalam melestarikan Laut Indonesia. Salah satu item tersebut menurutnya adalah terumbu karang. Rusaknya terumbu karang menjadi penyebab ikan-ikan semakin berkurang di perairan Indonesia.

“Terumbu karang adalah rumah bagi para ikan, jika dirusak ya ikannya tidak ada lagi, mereka akan bermigrasi ke tempat lain. Rusaknya terumbu karang biasanya disebabkan oleh pengeboman, jangkar kapal, jaring nelayan serta tombak yang digunakan untuk menangkap ikan disekitar terumbu karang,” ucap Sekretaris Senat Fapetkan tersebut.

Selain masalah terumbu karang, limbah padat dan cair baik dari masyarakat hingga industri kian menyebabkan biota laut semakin terancam, termasuk ekosistem di Teluk Palu. Limbah padat dan cair, tidak hanya merusak biota laut, melainkan kesehatan manusia akan terancam karena mengkonsumsi ikan. Karenanya, Dr Masyahoro menyarankan solusi yang paling optimal dari pencemaran laut tersebut, yakni dengan menerapkan konsep Blue Economy.

Blue Economy adalah Model Ekonomi yang akan memperhitungkan keuntungan dan srategi inovasi dengan mengikuti kondisi alam. Jadi dengan konsep ini, tidak dilarang kita membangun perusahan atau industri, namun kita bergerak sesuai dengan kemauan alam, bukan kemauan kita sendiri,” jelasnya.

Sementara itu, Peneliti Lingkungan Hidup, Drs Abdullah MT, menyebutkan bahwa limbah padat seperti sampah merupakan masalah serius yang dihadapi oleh dunia saat ini, sehingga penting adanya kesadaran dari setiap orang. Bukan hanya dari segi kesehatan namun dari pariwisata pun ikut terganggu.

“Sampah ini membawa banyak kerugian, terutama sampak non organik, yakni sampah yang sulit terurai. Baik dari segi kesehatan serta sektor parawisata  akan terganggu akibat adanya sampah ini, di berbagai daerah pantainya kotor akibat banyaknya sampah yang sulit terurai seperti plastik berserakan di sepanjang pantai, sehingga dengan begitu nilai estetikanya akan hilang. Untuk itulah kesadaran dari setiap masyarakat itu sangat penting,” ujar Dosen Fisika tersebut. AFT