Dosen FAPETKAN Untad Upayakan Peningkatan Populasi Rusa Sulawesi Melalui Pemanfaatan Limbah Kelapa Sawit

Rusa Sulawesi atau dikenal dengan Rusa Timur masih merupakan ketegori satwa liar dan mengalami penurunan populasi, akibat perburuan liar dan kurangnya upaya konservasi terhadap satwa tersebut. Penelitian yang dilakukan Dr Ir Muh. Sadik Arifuddin MSc beserta timnya, berupaya memanfaatkan limbah kelapa sawit, sebagai formula pakan tambahan sebagai upaya meningkatkan produktivitas rusa, sehingga dapat dikembangkan melalui sistem peternakan.

Apa yang melatarbelakangi penelitian tersebut, sehingga memilih rusa sebagai objek penelitian?

Ini adalah penelitian strategi nasional terapan yang merupakan penelitian lanjutan dari penelitian kami sebelumnya. Rusa  Timur ini merupakan salah satu rusa yang termasuk satwa liar dan sebagian besar populasinya hidup di hutan. . Sampai saat ini, upaya konservasi rusa di luar habitatnya atau dikenal dengan konservasi eksitu di Sulawesi masih sangat kurang dan selama ini juga, populasi rusa mengalami penurunan karena perburuan liar. Padahal dari rusa ada banyak sekali yang dapat dimanfaatkan. Pertama dari dagingnya, daging rusa memiliki kandunngan protein yang tinggi dibanding daging ruminansia yang lain, kolesterolnya juga rendah, jadi bisa dikatakan bahwa daging rusa ini adalah makanan bagi orang hight class, karena lebih mahal dibanding daging sapi ataupun kerbau. Tapi kita di Sulawesi ini, masih kurang yang melakukan pengembangan rusa.

Sudah berapa lama penelitian ini dilakukan?

Tahun ini adalah tahun ke-2 penelitian yang kami lakukan. Tahun sebelumnya kami juga sudah pernah melakukan penelitian terkait rusa, tapi dengan indikator yang berbeda. Kami melakukan penelitian di salah satu penangkaran di Morowali di desa Wosu, kecamatan Bungku Barat. Rusa yang ada di sana kurang lebih 200 ekor. Di tahun pertama, kami mencoba melihat berapa besar daya dukung untuk  pertumbuhan rusa dengan melihat kondisi luasan sekitar 20 ha, apakah layak dengan jumlah rusa 200 ekor? Hasilnya, ternyata daya dukung luas lahan itu dengan populasi sebanyak 200 ekor, tidak mampu mendukung ketersediaan pakan di penangkaran. Sehingga untuk memenuhi ketersediaan pakan,  sebagian besar pakannya  masih harus diambil dari luar daerah.

Kemudian, kami juga melihat jenis-jenis pakan apa yang disukai rusa di dalam penangkaran itu. Hasilnya, masih banyak jenis vegetasi dalam bentuk hijauan rumput, kurang lebih ada 50 jenis vegetasi yang ada di dalam penangkaran dan yang paling disukai adalah rumput teki. Tapi itu pun belum mampu memenuhi kebutuhan pakan rusa secara keseluruhan. Padahal, pengembangan rusa sangat menjanjikan, bisa dikatakan sebagai satwa harapan, karena mampu membantu mencukupi kekurangan suplay daging nasional. Selain itu, dibidang medis, velpet rusa yaitu tanduknya yang masih muda, juga memiliki banyak manfaat, bahkan di Newzeeland mereka lebih mengutamakan pemanfaatan velpet dibanding dagingnya. Namun, kurangnya upaya pengembangan, masih menjadi masalah.

Dalam upaya pengembangan ini, mengapa limbah kelapa sawit menjadi pilihan dan bagaimana metode yang dilakukan?

Rusa memang termasuk kategori satwa liar. Tetapi dalam pengembangannya, kalau rusa sudah memiliki turunan F2, maka hewan ini sudah bisa dipelihara melalui sistem peternakan. Sehingga, sudah tidak ada larangan lagi untuk kita mengembangkan rusa kalau sudah memiliki turunan F2. Nah, di Sulteng sendiri kita punya upaya konservasi dengan adanya penangkaran di Morowali milik mantan Bupati Morowali. Dengan melihat hal tersebut, saya rasa ini sangat berpotensi. Jadi, kami mencoba untuk memanfaatkan pakan-pakan lokal yang tersediah di wilayah itu.

Di sana kami melihat potensi yang ada, salah satunya adalah adanya luasan kelapa sawit yang begitu banyak dan banyaknya limbah kelapa sawit. Selain itu, rusa juga masih termasuk satwa dalam kategori ruminansia, sama seperti sapi, kerbau, kambing dan domba. Hasil analisis menunjukkan bahwa limbah kelapa sawit memiliki kandungan protein yang cukup tinggi dan selama ini, juga sudah pernah dicobakan pada hewan ruminansia yang lain, tetapi belum pernah pada rusa.

Berangkat dari hal inilah, kami mencoba memanfaatkan limbah kelapa sawit sebagai ransum yang merupakan pakan tambahan yang diberikan pada rusa, dengan harapan pemberian ransum ini dapat meningkatkan produktivitas rusa di penangkaran, sehingga lebih mudah untuk mendapat turunan F2. Dengan melihat potensi nutrisinya, makanya kami mencoba melakukan penelitian membuat formula ransum dari limbah ini. sementara untuk penyusunan ransum sendiri, kami menggunakan metode eksperimental desain. Alhamdulillah sejauh ini, penelitian kami berjalan lancar dan tidak ada kendala, karena selain mendapat dukungan dana dari pusat, juga didukung oleh pemilik penangkaran.

Apa hasil yang diharapkan dari penelitian ini?

Hasil yang diharapkan, kami bisa merekomendasikan kepada penangkar lain di sana agar dapat mengaplikasikannya, karena pemberian pakan ini dapat meningkatkan produktivitas rusa. Selain itu, semoga nanti kami bisa menyampaikan ke publik, bahwa rusa itu bisa kita kembangkan melalui sistem peternakan ketika itu sudah merupakan generasi F2. Saya juga berharap, melalui penelitian ini kami bisa memberikan sumbangsi kepada pemerintah  nasional dan daerah, dengan melestarikan rusa.Vv

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here