Kamlin Ganondodo, Lelaki Ramah Penuh Tanggung Jawab

Pak Kamlin sapaan akrabnya, selalu menyapa siapapun, baik itu dosen, pegawai, maupun mahasiswa di Fakulas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Kamlin Ganondodo nama lengkapnya, telah mengabdi di Universitas Tadulako (Untad) kurang lebih 40 tahun.

Kamlin yang lahir pada 13 Juni 1955, bekerja sebagai petugas kebersihan pada pagi hari sebelum jam kuliah aktif, dan membantu bagian administrasi hingga jam kerjanya berakhir yakni pada pukul 12.00 WITA, setelah membersihkan halaman fakultas. Di sela-sela ia menyapu dedaunan, Kamlin selalu menyapa dan membalas sapaan setiap orang yang lewat di sekitarnya dengan dialeg Kailinya yang kental.

Selepas melerai penat, Kakek yang selalu tersenyum itu pun kembali melanjutkan pekerjaannya di Kampus Bumi Nyiur. Pekerjaan yang dilakukannya tidak jauh berbeda dengan yang dilakoninya di FISIP; menyiapkan ruang kelas belajar serta membersihkan halaman.

Anak keenam dari almarhum Ganondodo dan almarhumah Haria ini mengawali karirnya di FISIP Untad sejak tahun 2011, setelah sebelumnya ditugaskan di kampus Untad Bumi Nyiur hingga ia pensiun. Akan tetapi, meski telah pensiun di usianya yang menginjak 64 tahun, ia masih diminta stay di Untad, dan bekerja di FISIP. Karena pengalaman kerjanya yang terbilang sudah cukup lama, ia selalu diandalkan oleh pihak Fakultas.

“Saya sebenarnya mempunyai SK pensiun di Bumi Nyiur, tapi karena permintaan atasan untuk ikut membantu di FISIP, sehingga saya tidak enak hati untuk menolaknya,” ucapnya sambil tersenyum.

Bercerita mengenai SK pensiunnya, Kamlin yang menyelesaikan pendidikan dasarnya di SDN 2 Talise bercerita, bahwa ia diminta mengambil SK pensiunnya di Makassar, dengan difasilitasi biaya perjalanan. Akan tetapi, karena takut naik pesawat, ia berniat tidak mengambil SK nya itu, dan menitipkan saja pada temannya. Beruntung, Rektor Untad kala itu mau menemaninya.

Sejak remaja, Kamlin sudah memiliki sikap tanggung jawab yang ia amalkan hingga kini. Saat usianya 13 tahun, ia sudah mulai mencari pekerjaan. Menjadi buruh pelabuhan merupakan  pengalaman kerja pertamanya. Lalu ia bekerja sebagai tukang kebun di Rumah Sakit Undata, dan berakhir di kampus UNTAD Bumi Nyiur sebagai honorer pada tahun 1973. Seiring berjalannya waktu, pada tahun 1995, Kakek dari Nadawa Wahdaniya dan Baris Maulana ini pun dipindahkan ke Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) di Kampus Bumi Bahari sebelum akhirnya pindah ke kampus Bumi Kaktus Untad.

Hampir seluruh warga FISIP kenal dengannya. Selain sifat ramah, ia dikenal pula disiplin sebagai wujud sikap tanggung jawabnya. Kamlin lah orang pertama yang ada di FISIP setiap jam kerja. Baginya, pantang datang terlambat. Jika kondisi kesehatannya terganggu, dan menyebabkan ia datang terlambat, ia memilih sekalian izin tidak hadir.

Bak orang jepang, urusan pekerjaan nomor satu, selalu datang tepat waktu merupakan kebiasaan yang sudah mendarah daging baginya. Selepas menunaikan kewajibannya, salat subuh, beliau sudah mulai menyisir jalan dari rumah ke Tondo dengan berjalan kaki. Tak jarang banyak yang menawarinya tumpangan, misalnya seorang Polisi, pernah menawari tumpangan pada Kamlin,  ketika pulang ke Mamboro dari jadwal kerja malam.

“Selepas salat subuh saya sudah berangkat dari rumah. Karena rumah saya di jalan hangtuah, kira-kira memakan waktu satu setengah jam untuk sampai kesini. Kalau ada orang lewat, biasanya orang tua yang antar anaknya ke sekolah, menawarkan saya tumpangan, bahkan polisi yang sift malam ketika pulang ke Mamboro tak jarang memberi tumpangan juga,” jelas kakek yang masa mudanya suka bermain sepak bola itu.

Tidak memiliki kendaraan pribadi bukanlah penghalang baginya untuk tidak datang tepat waktu. Ia tidak ingin menerima gaji, sementara tidak maksimal bekerja. Menurutnya, sistem itu adalah riba, yang tidak ingin ia sentuh. “Saya tidak mau makan dengan uang Riba,” katanya masih dengan senyumnya.

Lelaki yang lebih suka menggunakan setelan kemeja ketimbang baju kaos, beranggapan bahwa orang yang selalu datang terlambat sudah menjadi kebiasaan orang-orang tersebut. Dan ia tak ingin menjadi salah satu dari mereka. “Itu sudah menjadi kebiasan. Masing-masing orang  punya pemikiran mengenai apa yang mereka lakukan. Tapi saya merasa bertanggung jawab dengan pekerjaan saya. Sehingga datang pagi-pagi sekali adalah bentuk dari tanggung jawab dalam bekerja. Lagi pula kalau datang agak siang, mahasiswa sudah banyak yang berdatangan. Apa yang bisa saya kerja? Karena untuk membersihkan halaman, itu dilakukan sebelum kuliah dimulai,” ucap lelaki yang tinggal di Jalan Hangtuah itu.

Karena sikap dan sifatnya itu, ia banyak mendapat bantuan. Pernah suatu waktu, ia dibelikan sepeda oleh salah seorang dosen di Untad. Jadilah sepeda itu dikayuhnya setiap hari untuk ke kampus. Bersyukur, sekarang ia sudah memiliki sepeda motor. Sehingga tidak akan ada alasan untuk datang terlambat.

Sabar dalam menjalani hidup, berhasil menjadikan salah seorang anaknya menyandang gelar sarjana. Ia juga menerapkan pada anak-anaknya sifat sabar, yang ia bungkus dalam nasihatnya.

“Anak saya ada 5. Yang pertama Moh. Akbar, terus Kurniawati, Nuryanti, Winda, dan Rahmat Hidayat. 3 sudah meninggal, Akbar, Winda, dan Rahmat. Alhamdulillah, Nuryanti ini pendidikannya sampai sarjana, S1 PGSD di Untad. Saya bersyukur sekali, karena dibandingkan saya yang hanya tamatan SD, Nuryanti sudah melangkah tinggi sekali. Ia lalu menjadi tenaga honorer. Suatu waktu dia sering mengeluh. Saya bilang ke anak saya itu,  dalam melakukan sesuatu termasuk pekerjaan, kalau tidak sabar, tidak ada gunanya,” ungkapnya.

Ketika ditanya saat pertama kali bertemu ibu dari anak-anaknya, Kamlin sedikit tersipu mengenang masa mudanya itu. Pemain sayap kiri itu mengingat-ngingat saat pertama kali bersama teman hidupnya, Nasria. Sejak masih bekerja sebagai honorer di kampus Bumi Nyiur. Nasria yang saat itu masih duduk di bangku sekolah, sering berangkat sekolah dengan berjalan kaki, Kamlin sering berpapasan di jalan. Ia lalu mengantar Nasria ke sekolah. Ketika pulang sekolah, Kamlin juga mengantar Nasria pulang ke rumah, dan bertemu orang tua juga keluarga Nasria.

“Dulu saya masih bekerja di kampus Bumi Nyiur, sering saya liat itu adik (Nasria) pergi ke sekolah dengan jalan kaki, saya pun sering mengantarnya. Bahkan pulang sekolah pun saya antar sampai  rumah, bertemu dengan orang tuanya dan kerabatnya yang lain. Sampai-sampai saya disuruh sering-sering berkunjung ke rumahnya. Mungkin karena saya juga selalu menjaga sikap saya, sopan tentunya, orang tua dan kerabatnya pun menyukai saya dan akhirnya kami menikah,” ucapnya diiringi tawa bahagia ketika mengenang kisahnya. AFT

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here