Pasca Pemilu 2019: Ajarkan Sikap Sportif dan Amanah Kepada Rakyat

oleh :
Shofia Nurun Alanur S, S.Pd.,M.Pd
(Alumni PPKn FKIP Universitas Tadulako Angkatan 2012)

Kompetisi atau perlombaan merupakan ajang untuk menguji bakat dan kemampuan yang dimiliki. Orang-orang yang memiliki tekad dan motivasi, berlomba-lomba untuk andil dalam kompetisi. Tujuannya untuk meraih posisi yang pertama. Mengikuti kompetisi, tentu ada yang juara dan ada yang tidak juara. Ada yang kalah dan ada yang menang. Sesungguhnya, yang meraih juara tentu sangat berbahagia. Sebaliknya, yang tidak meraih juara tentu merasakan kekecewaan yang sangat mendalam.

Pemilu 2019, dapat disebut sebagai kompetisi, antara calon presiden dan wakil presiden. Mereka melakukan berbagai cara untuk dapat menang pada saat pesta pemilihan. Mulai dari kampanye, blusukan, melakukan program peduli sosial, sumbang-menyumbang, hingga lobi-lobi nasional dilakukan demi mendapatkan dukungan suara dan mendapatkan posisi atau jabatan yang diinginkan.

Tentu saja, penyelenggara pemilu dan masyarakat berharap, agar peserta pemilu mengikuti seluruh tahapan pemilu dengan cara yang jujur. Artinya, mereka tidak boleh melakukan cara-cara diluar dari aturan hukum yang sudah ditetapkan. Masyarakat berharap, tidak ada kecurangan dalam pelaksanaan sehingga pemimpin yang dihasilkan adalah pemimpin yang berkualitas.

Setelah pemilu ini selesai, ada yang menang dan ada yang kalah. Sebuah posisi atau jabatan, tentu hanya dapat diisi oleh satu orang saja. Yaitu seorang yang memenangkan pemilu ini. Kita ketahui bersama, setelah proses penghitungan suara, sengketa di Mahkamah Konsititusi, dan penetapan oleh Komisi Pemilihan Umum, bahwa pasangan Jokowi dan KH. Ma’ruf Amin-lah, yang memenangkan kompetisi ini.

Sebagai warga negara yang baik, kita harus menghargai hasil kontestasi demokrasi ini. Menyambut baik pemimpin baru yang datang agar dapat melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pemimpin bangsa dan negara. Sedangkan di pihak yang belum beruntung, dalam hal ini sebaiknya sportif dalam menerima kenyataan. Sikap Sportif dimaknai sebagai sebuah sikap bermain atau bertanding  Secara fair mengikuti aturan yang berlaku dan tidak menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Sportif juga mengandung arti adalah sikap kesatria untuk menerima kekalahan, mau menghargai dan menghormati, serta mengakui keunggulan dan kemenangan lawan.

Sikap sportif dari pemilu ini menjadi sebuah pendidikan politik bagi rakyat Indonesia, khususnya pemilih pemula yang memegang tongkat estafet masa depan. Jika para petinggi negara tidak menjaga sikap, maka generasi akan memiliki dua tindakan, pertama akan mencontoh, kedua akan mencemooh pemimpinnya sendiri. Petinggi negara adalah contoh bagi rakyatnya, sebab ujung dari segala pelaksanaan dan penyelenggaraan bernegara adalah munculnya kualitas Sumber Daya Manusia yang unggul dan berkualitas dengan iman dan akhlak.

Kemenangan yang diraih oleh pihak pemenang, juga tidak berhenti disana. Ada sebuah amanah yang diemban. Ada sebuah kepercayaan dari seluruh rakyat Indonesia yang diemban selama lima tahun ke depan. Kepercayaan atau legitimasi membutuhkan persetujuan antara warga negara untuk pemerintah yang berkuasa. Jika warga menganggap bahwa pemerintah berhak memegang dan menggunakan kekuasaan, maka pemerintah menerima legitimasi politik. ketika seorang terpilih menjadi presiden, kepala daerah maupun wakil rakyat, artinya ia telah menerima legitimasi tersebut. Tentunya dengan sistem yang jujur dan adil tanpa manipulasi.  Gilley (2006) menyatakan Legitimasi ini mudah dicapai jika ada kepercayaan warga dalam pemerintahan dan perwakilan mereka, dengan demikian, kepercayaan politik yang mengarah ke tata pemerintahan yang baik memberi kontribusi terhadap pembangunan legitimasi politik.

Sesungguhnya, kepercayaan itu akan tumbuh apabila seorang pemimpin memiliki sifat yang amanah, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW dijuluki. Allah SWT berfiman dalam Surah An-nisa ayat 58 yang berbunyi “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat”.

Kehadiran manusia di muka bumi ini tidak lain dalam rangka mengemban amanah dari Allah  untuk memelihara dan memakmurkan bumi ini. Inilah amanah terberat yang dipikul oleh manusia yang tidak mampu diemban oleh makhluk lainnya. Inilah yang disebut amanah pembebanan manusia (taklif). Al-Quran menjelaskan hal ini  dalam surat al-Ahzab (33) ayat 72 bahwa  “Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh.”

Ibn Taimiyah mengatakan kualitas suatu kepemimpinan, yaitu amanat. Amanat menurutnya mempunyai dua arti: Pertama, amanat adalah kepentingan-kepentingan rakyat yang merupakan tanggung jawab kepala negara untuk mengelolanya. Dan pengelolalan itu akan baik dan sempurna kalau dalam pengangkatan para pembantu kepala negara memilih orang-orang yang betul-betul memiliki kecakapan dan kemampuan. Menurut Ibn Taimiyah, kalau seorang kepala negara menyimpang dan mengangkat seseorang untuk jabatan tertentu, sedang masih ada orang lain yang lebih tepat, maka kepala negara itu dipandang telah berkhianat, tidak saja kepada rakyat, tetapi juga kepada Allah. Kedua, perkataan amanat berarti pula kewenangan memerintah yang dimiliki oleh kepala negara, dan kalau untuk melaksanakannya ia memerlukan wakil-wakil dan pembantu, hendaknya mereka terdiri dari orang-orang yang betul-betul memiliki persyaratan kecakapan dan kemampuan. Dengan demikian, menurut Syadzali (1993), pelimpahan kekuasaan dan kewenangan oleh seorang kepala negara itu harus diberikan kepada orang-orang yang paling memenuhi syarat kecakapan dan kemampuan.

Amanah atau kepercayaan atau bahasa politiknya legitimasi, dapat terwujud apabila seorang pemimpin memiliki sifat atau karakter berikut.  Pertama, memelihara titipan orang lain dan mengembalikannya seperti semula. Artinya, seorang pemimpin dititipkan amanah untuk mensejahterahkan orang fakir maupun miskin sebagaimana yang tercantum dalam Pasal 34 Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, bahwa Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. Sejak kecil Nabi SAW terbiasa dititipi barang oleh orang-orang di sekitarnya, karena semua orang tahu bahwa Nabi SAW sangat jujur dan tidak pernah berkhianat. Kejujuran Nabi inilah yang kemudian membuat orang-orang di sekelilingnya menyebutnya Al-amin.

Kedua, tidak menyalahgunakan jabatan yang dipegangnya. Seorang pemimpin wajib berhati-hati atas jabatan yang diembannya. Ia harus melaksanakan amanah-nya di tengah-tengah masyarakat sesuai dengan aturan yang berlaku. Jika sebelum memangku jabatannya ia sudah memberikan janji-janji tertentu dengan harapan masyarakat memilihnya untuk menduduki jabatan tersebut, maka ia harus dapat memenuhi janjinya sesuai dengan amanah yang sudah dipegangnya. Segala bentuk penyimpangan dari aturan yang ada (tidak amanah), merupakan perbuatan tercela yang melanggar amanah. Nabi SAW bersabda: “Barang siapa yang kami angkat menjadi karyawan untuk mengerjakan sesuatu dan kami beri upah menurut semestinya, maka apa yang ia ambil lebih dari upah semestinya merupakan korupsi.” (HR. Abu Daud).

Ketiga, menunaikan kewajiban dengan baik. Sebagai pemimpin, manusia harus melaksanakan seluruh kewajibannya. Ia akan mempertanggungjawabkan kepemimpinannya di hadapan rakyatnya dan juga di hadapan Tuhan. Negara kita yang sedang mengalami krisis multidimensi sekarang ini sangat membutuhkan seorang pemimpin yang amanah. Sebagai negara yang mayoritas penduduknya Muslim, harusnya Indonesia bisa memilih para pemimpin yang amanah. Sebagaimana Suatu ketika, Presiden Abdurrahman Wahid melakukan kunjungan ketiga dan terakhir ke Washington, D.C. pada awal 2001, saat itu Presiden Clinton menyampaikan harapan kepada Gus Dur, ia sampaikan “Mr. President, I wish Indonesia a great success. A successful Indonesia will help to characterize the 21st century. Indonesia is now the world’s third largest democracy. Indonesia is the fourth largest-population country, with the world’s largest Moslem population. If Indonesia can prove to the world that Islam and democracy are compatible – you show us the way”. Apa yang disampaikan Clinton berarti “Bapak Presiden, saya berharap Indonesia sukses besar. Indonesia yang sukses akan membantu mencirikan abad ke-21. Indonesia sekarang adalah negara demokrasi terbesar ketiga di dunia. Indonesia adalah negara dengan populasi terbesar keempat, dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Jika Indonesia dapat membuktikan kepada dunia bahwa Islam dan demokrasi kompatibel-Anda tunjukkan caranya”.

Seperti Imam al Ghazali memperingatkan kepada para pemimpin secara spesifik bahwa pada hati manusia (dan pemimpin juga adalah manusia) terdapat ma’rifah dan ‘itiqad yang merupakan pokok keimanan, dan bersamaan pula pada anggota badan manusia dalam ketaatan dan keadilan yang disebut dengan cabang dari keimanan. Artinya, seorang pemimpin seharusnya menjauhi keharaman dan menunaikan kewajiban baik berkaitan dengan kewajiban antara manusia dan Allah swt serta kewajiban sesama manusia. sebab Rasulullah Muhammad SAW bersabda ”Keadilan pemimpin satu hari lebih dicintai Allah daripada beribadah tujuh puluh tahun”.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here