Pendidikan Abad 21 : Antara Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK), Akhlak Mulia dan Nilai-nilai Pancasilais

Shofia Nurun Alanur S (Mahasiswi Program Magister Pendidikan Kewarganegaraan Universitas Pendidikan Indonesia)

Pendidikan masih menjadi prioritas utama dalam kehidupan. Sebab dengan pendidikan, peradaban manusia akan terus terbangun dan berkembang sehingga terwujud Sumber Daya Manusia yang diharapkan. Sebagaimana tujuan negara dalam aline keempat pembukaan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945, bahwa untuk memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Kesejahteraan dan kecerdasan adalah dua hal yang berbeda, namun berkaitan satu sama lain. Bangsa yang cerdas akan mudah mewujudkan kesejahteraan. Penelitian menjelaskan, kecerdasan seseorang akan mengarah pada kesejahteraan. Masa depan seseorang mungkin tidak bisa ditentukan, tetapi setidaknya orang perlu menjadi cerdas terlebih dahulu. Penelitian berjudul “Does Intelligence Boost Happiness? Smartness of All Pays More Than Being Smarter Than Others” menjelaskan bahwa mereka yang berada di kisaran IQ terendah melaporkan tingkat kebahagiaan terendah dibandingkan dengan mereka yang berada di kelompok IQ tertinggi.

Pendidikan abad ke 21 membawa generasi yang digital native. Pada sebuah hasil penelitian di majalah The Economist tahun 2015, mengungkapkan bahwa mereka menyukai pembelajaran yang menggunakan teknologi informasi. Sehingga metode pembelajaran konvensional yang mengandalkan tatap muka perlu dilakukan perubahan yang memadukan antara tatap muka dengan pembelajaran berbasis teknologi informasi. Kecakapan pada pendidikan abad 21 antara lain sebagai berikut. Pertama, Kecakapan Belajar dan Inovasi, yang terdiri dari Kreativitas & Inovasi, Berpikir Kritis dan Memecahkan Masalah, Komunikasi & Kolaborasi. Kedua, Kecakapan Informasi, Media dan Teknologi yang terdiri dari Literasi Informasi, Literasi Media, dan Literasi Teknologi Informasi. Ketiga, Kecakapan Hidup dan Karir yang terdiri dari Luwes & Mampu Beradaptasi, Memiliki inisiatif & Mengarahkan Diri, Memiliki Kemampuan Sosial & Lintas Budaya serta Produktif dan Akuntabel.

Kecakapan abad 21 tentu menjadi pekerjaan besar dunia pendidikan, utamanya pendidikan sekolah dasar dan menengah yang menjadi tonggak dihasilkannya sumber daya manusia yang siap terjun di lingkungan masyarakat. Namun, sebuah ketakutan besar bahwa abad 21 berarti menandakan globalisasi yang semakin pesat dan meluas. Sedangkan menurut Syafi’i Ma’arif dalam Media Indonesia tahun 2002 bahwa Globalisasi yang berjalan dewasa ini tanpa visi Moral-Spiritual. Kita memang tidak dapat memungkiri bahwa kita tidak boleh tertinggal dari negara lain. Ketika para peserta didik di negara lain sudah menciptakan teknologi sendiri, pun anak bangsa tidak boleh tertinggal. Sesuai dengan data PISA (Programme for International Student Assessment) peringkat pendidikan Indonesia di dunia bertengger di urutan 62 dunia di bidang sains, 63 dunia di bidang matematika, dan 64 dunia di bidang membaca. Masih di bawah Singapura, Vietnam, dan Thailand.

Ketakutan akan ketertinggalan, membuat pendidikan di Indonesia terus berusaha mengikuti perkembangan zaman. Namun, sangat disayangkan, kecerdasan intelektual yang berusaha dikembangkan untuk meningkatkan daya saing, tidak didukung dengan perkembangan kecerdasan spiritual serta akhlak yang mulia. Tilaar mengatakan Umat manusia mulai khawatir bahwa kemajuan ilmu dan teknologi yang tanpa batas dapat menggoyahkan kehidupan iman manusia bahkan dapat mengarah kepada penghancuran kehidupan itu sendiri. kehidupan manusia perlu mempertahankan nilai-nilai abadi yaitu nilai-nilai keimanan dan ketakwaan, nilai-nilai akhlak dan nilai-nilai pancasila. Teringat Sayyid Idrus Bin Salim Al Jufri atau guru tua yang kita kenal, pernah mengatakan bahwa ilmu dan akhlak harus berjalan beriringan. Jika manusia menginginkan sebuah kemuliaan, maka iringi ilmu dengan akhlak yang mulia. Sebagaimana syair beliau dalam Buku Yanggo, dkk tahun 2013, bahwa Orang yang berilmu dan beradab akan mendapat tempat dihati masyarakat. Sedangkan orang jahil lagi congkak pasti tidak akan disanjung dan dipuja oleh umat masyarakat.

Kecerdasan intelektual yang tercipta dari pendidikan abad 21, belum cukup jika masih banyak kasus yang mencoreng nilai-nilai pendidikan. Misalnya, kasus penganiyayaan Audrey di Kalimantan dan Pencabulan oleh guru terhadap siswa di salah satu SD Negeri di Kota Malang. Baru-baru ini juga seorang siswa SD dan SMP jadi tersangka setelah memperkosa siswa SMA, Mengutip dari detikcom, menurut Kapolres Probolinggo, mereka berdua melakukan perbuatan bejat itu karena terpengaruh film porno yang ada di handphonenya. Berita lainnya yang sedang viral di media sosial instagram, sekelompok anak Sekolah Dasar yang sedang melaksanakan perpisahan sekolah, berjoged dengan musik remix atau musik-musik dugem. Kasus lainnya, siswa di SMP PGRI Wringinanom berani menantang gurunya. Begitu pula kenakalan anak-anak sekolah seperti sejumlah murid di SMP Negeri 2 Takalar, Sulawesi Selatan, yang memaki dan memukuli petugas kebersihan di sekolahnya.

Hal ini menjelaskan, bahwa dinding moralitas dan ketuhanan semakin keropos pada bangunan pendidikan nasional kita, tidak hanya terhadap peseta didik pun juga para guru dan pelaku kebijakan stakeholder. Globalisasi dalam hal ini bidang pendidikan, para praktisi dan stakeholder pendidikan seharusya berhati-hati di tengah rong-rongan kapitalisme dan neoliberalisme yang terus berubah wujud.

Pendidikan seharusnya adalah sebuah proses transformasi etis yang membangkitkan akal budi dan tindakan manusia yang humanis. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, terkandung dalam Pasal 3 Undang-undang No.20 Tahun 2003 Sistem Pendidikan Nasional, yaitu Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tujuan ini diperkuat dengan pendapat Bastian (2002) bahwa fokus program pendidikan perlu diletakkan pada pembentukan dan pembinaan watak, budi pekerti luhur, keimanan dan ketakwaan, kemampuan aktualisasi diri, serta pengembangan integritas, kemandirian dan profesionalisme peserta didik.

Ode Rizki Prabtama dalam tulisannya di geotimes yang berjudul Pendidikan Profetik Solusi Pendidikan Abad 21, memberikan pandangan menarik bahwa pendidikan profetik sangat penting dilaksanakan untuk mewujudkan ilmu dan akhlak mulia yang saling berkaitan. pertama, humanisasi yang berarti pendidikan semestinya berorientasi pada proses memanusiakan manusia. Artinya, pendidikan tidak mencetak peserta didik sebagai robot pekerja. Kedua, liberasi berarti pendidikan adalah proses pembebasan manusia dari cengkraman kebodohan dan dari segala bentuk penindasan. Pendidikan semestinya adalah upaya sistematis untuk meretas ketimpangan sosial dan kesenjangan ekonomi di masyarakat. Peserta didik dilatih berfikir secara kritis supaya sadar akan persoalan di sekitarnya dan kreatif merumuskan jalan keluar. Ketiga. Transendensi berarti, pendidikan sebagai locus atau sarana yang menjembatani peserta didik dengan tuhannya. Sebab, sisi transendental dalam pendidikan itulah yang menjadi tenaga masyarakat modern untuk “melawan” arus kapitalisme dan neoliberalisme. Nilai transendensi juga berupaya menanamkan moralitas dan budi pekerti kepada peserta didik.

Dengan demikian, ilmu yang diperoleh tidak hanya menjadikan mereka cerdas secara intelektual yang dilihat dari nilai yang tinggi dan prestasi akademik, tetapi bertambah kecintaan terhadap Tuhannya, bertambah Adab dan akhlaknya terutama terhadap orang tua dan gurunya, dan ilmu yang didapatkan digunakan di jalan yang benar untuk manfaat kepada orang banyak. Sebagaimana Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Dato Seri Anwar Ibrahim pernah mengatakan dalam orasi ilmiahnya pada penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (HC) bahwa keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak bisa diukur dari gedung yang megah, perpustakaan dilengkapi koleksi buku lengkap, atau sarana dan prasarana lainnya. Tetapi keberhasilan pendidikan dilihat dari manusia yang dilahirkan dari lembaga itu

Ilmu dan akhlak dikuatkan dengan salah satu peraturan perundangan, dalam Ketetapan MPR RI Nomor VI/MPR/2001 Tentang Etika Kehidupan Berbangsa bahwa Etika Keilmuan dimaksudkan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, ilmu pengetahuan dan teknologi agar warga bangsa mampu menjaga harkat dan martabatnya, berpihak kepada kebenaran untuk mencapai kemaslahatan dan kemajuan sesuai dengan nilai-nilai agama dan budaya. Etika ini diwujudkan secara pribadi ataupun kolektif dalam karsa, cipta, dan karya, yang tercermin dalam perilaku kreatif, inovatif, inventif, dan komunikatif, dalam kegiatan membaca, belajar, meneliti, menulis, berkarya, serta menciptakan iklim kondusif bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Imam Al ghazali pernah mengatakan bahwa Tujuan seorang peserta didik menuntut ilmu di dunia adalah untuk menghiasi dan memperindah hatinya dengan keutamaan. Seorang peserta didik dituntut untuk mensucikan diri dari akhlak yang rendah dan sifat-sifat yang tercela, karena ilmu itu ibarat ibadah jiwa, salatnya hati dan mendekatnya ruh kepada Allah SWT.

Pendidikan Nasional Indonesia bukan hanya bertujuan untuk membangun ketakwaan dan keimanan, tetapi juga menjadi warga negara yang baik. Artinya pendidikan bertujuan untuk mewujudkan generasi bangsa yang berkarakter nilai-nilai pancasila. Sebagaimana menurut Kaelan (2007), Pancasila merupakan cerminan karakter bangsa dan negara Indonesia yang beragam. Hal itu dapat terlihat dari fungsi dan kedudukan pancasila sebagai jiwa bangsa Indonesia, kepribadian bangsa, pandangan hidup bangsa, sarana tujuan hidup dan pedoman bangsa Indonesia. Sebagai warga negara yang setia kepada nusa dan bangsa haruslah mau mempelajari dan menghayati pancasila yang sekaligus sebagai dasar filsafat. Nilai yang ada dalam Pancasila memiliki serangkaian nilai, yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Kelima nilai tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dimana mengacu dalam tujuan yang satu. Manusia Indonesia sesungguhnya manusia yang menjunjung nilai ketuhanan, yang berimplikasi pada sikap dan perilaku sopan, santun, beradab, dan saling menghormati dan menghargai satu sama lainnya.