“Genangan Kenangan”

*Oleh Intan Nur Azizah

“Saat di alam penciptaan, aku yakin kita berdua mengantri di tempat pembagian hobi yang berbeda, aku dengan musikku dan kamu dengan hasrat menggebu membela kaum marginal,”  Ucapku saat kita berdua berdiri menunggu antrian membayar belanjaan di kasir swalayan. Kau tertawa sambil menepuk pundakku kemudian berkata, itu sebabnya aku kebagian suara yang cempreng dan kemampuan bermain alat musik yang payah. Biar aku gak bosan berteman denganmu,” Kami beradu pandang lantas tertawa bersamaan.

Khairunnisa namanya, teman satu-satunya yang aku punya sejak SMA hingga saat ini. Setelah lulus kami memutuskan untuk kuliah di kampus yang sama di Perguruan Tinggi negeri disalah satu kota di Sulawesi. Kami mengambil jurusan berbeda, Nisa begitu sapaan akrabnya kuliah di jurusan Kehutanan dan aku mengambil jurusan Arsitektur. Meskipun Kami berdua kuliah di kampus yang sama, kami hampir tidak pernah bertemu di kampus kecuali nisa minta tolong di jemput untuk mengantarnya pulang, karena kemalaman di kampus mengurusi kegiatan dari organisasi yang ia geluti. Aktivis begitu Nisa menyebut dirinya.

Kami berdua lebih suka menghabiskan waktu di rumah, entah itu di rumah ku atau rumahnya. Kadang-kadang karena bosan di rumah, atau butuh suasana baru kami memutuskan hang out ke kedai kopi dekat rumahku untuk keperluan nongkrong berdiskusi tentang buku yang baru kami baca atau soal berita yang lagi viral di media sosial. Selain itu, kedai kopi ini sering menjadi tempat kita berdua, lebih tepatnya Nisa bercerita banyak hal dan aku menjadi pendengar yan baik . Kami memilih kedai kopi ini sebagai tempat favorit selain karena dekat dengan rumah juga suasananya yang nyaman karena tidak terlalu ramai dan konsep desain interiornya yang sesuai dengan selera kami berdua, karena menerapkan tema ekologi sehingga membuat pengunjung merasa segar dan nyaman. Nisa mengerti bahwa aku agak susah beradaptasi dengan lingkungan baru a.k.a pemalu. Meskipun aku tau nisa bukan orang yang pemalu sepertiku.

Nisa adalah petualang ia suka mencoba hal baru mulai dari restoran, café, kedai kopi, sampai jalanan baru sebagai panggung ia lantang bersuara menyuarakan suara Tuhan katanya, suara orang-orang yang di renggut hak-hak dasarnya.

Nisa selalu bercerita soal pemikirannya, ide-ide besarnya untuk negara, soal impiannya agar orang-orang yang tertindas dapat memeluk kembali hak-hak mereka. Ia bercerita dimana pun dan kapan pun ia mau. Saat berboncengan di atas sepeda motor, saat di pusat perbelanjaan, di kedai kopi, saat menonton konser Monokrom Tulus di tv, bahkan saat mengigau pun ia masih meracau soal hak dan kebebasan kaum marginal. Ah nisa, semoga igauanmu sampai kepada penguasa.

“Aku tau Dias, kamu selalu menjadi pendengar yang baik dan aku pengoceh yang hebat,” Ucap Nisa membuka percakapan sambil menusuk sebuah siomay goreng saat aku menemaninya jajan di depan kampus kami saat pulang kuliah.

“Kadang-kadang aku berpikir bahwa aku egois tak pernah memberimu kesempatan untuk membicarakan apa yang kamu sukai. Apa yang kamu pikirkan hari ini misalnya, atau apa kamu akan memilih musik atau arsitektur sebagai jalan ninjamu, hehehe… bahkan beberapa bulan terakhir aku tak mendengarmu bernyanyi. Apa aku yang sibuk atau kamu yang terlalu sibuk mendengar curhatanku?” lanjutnya seperti biasa, penuh antusias.

“Aku yang lagi gak mood untuk bernyanyi,” sanggahku.

“Mengapa? Apa kamu menyerah dengan musikmu?” Nisa menatapku dengan penasaran

“Tapi semoga saja tidak,” sambung Nisa tanpa memberikan kesempatan padaku untuk menjawab pertanyaannya.

“Kamu harus bermusik agar alasan kita bersahabat terus ada,” ucap Nisa sambil terkekeh

Aku hanya tersenyum sambil terus memperhatikanmu..

“Tapi ini serius,” nisa melanjutkan kalimatnya

“Setiap hari aku bercerita denganmu, soal orang-orang yang tertindas karena kapitalisme yang semakin menjalari seluruh aspek kehidupan kita, soal kakek tua yang di rampas tanahnya atas nama pembangunan. padahal hanya dari tanah itulah kakek tua itu mengisi perutnya setiap hari. Atau soal bapak yang digusur rumah mungil sederhananya, karena merusak wajah kota menurut pemerintah. Rumah itu tempat satu-satunya bapak itu dan anggota keluarganya berteduh. Kasihan si bapak ia harus memutar otak memikirkan istri dan ketiga anaknya yang masih kecil untuk tidak kedinginan saat hujan, dan lelap di tengah benderangnya kota.” Ucapmu dengan sorot mata yang sukar aku jelaskan.

“Semua cerita yang pernah aku bagi denganmu, tak kuceritakan padamu karena hanya ingin melampiaskan amarahku atau pemecah keheningan saat kita di atas sepeda motor. Aku ingin kau merasakan apa yang mereka rasakan. Aku ingin kau terinsipirasi dari semua kisah itu. Aku ingin kamu berani menyuarakan keinginanmu, atau kau akan sama seperti mereka, orang-orang yang termarginalkan hanya karena mereka tidak berani bersuara. atau takut di bungkam padahal sebait kalimat pun belum terucap.” Seperti sedang orasi, nisa menjelaskan maksudnya padaku.

“Aku ingin kau berani mengatakan pada ayahmu, bahwa kau tak pernah jatuh hati pada Arsitekur. Katakan bahwa kau lebih baik dan nyaman dengan tuts piano di depanmu daripada satu set rotring dan sepasang penggaris segitiga ditanganmu. Katakan pada ayahmu bahwa kau mencintai bunyi-bunyian yang naik turun, daripada garis-garis simetris di atas kertas kalkir. Atau katakan saja padanya, bahwa lirik-lirik lagu ciptaanmu lebih bagus dari hasil desain hotelmu yang kau kerjakan sebulan tanpa tidur itu.” Oceh Nisa kali ini dengan raut cemberut.

aku hanya terus tersenyum pada Nisa atas semua isi hatinya yang ia tumpahkan dihadapan si penjual somai. Aku tau Nisa tulus dan sungguh-sungguh mengatakan itu semua. Nisa tentu ingin sahabatnya ini menjadi pemberani, setidaknya untuk mengatakan apa yang ia sukai pada orang tuanya.

Setelah membayar dan mengucapkan terima kasih pada si penjual somai yang sudah melayani sekaligus menjadi pendengar rahasia yang mungkin tidak sengaja Nisa bocorkan, aku mengajak nisa pulang karena hari sudah mulai gelap. Sepanjang perjalanan pulang kami berdua lebih banyak diam. Sesekali kami berbincang hanya untuk basa basi dan kemudian hening kembali.Ini adalah perjalanan pulang kuliah paling sepi saat Nisa duduk di belakangku.

Semenjak hari dimana Nisa berorasi didepanku dan si penjual siomay, kata-kata Nisa menjadi semakin keras saja di kepalaku. Aku berpikir untuk memberitahukan kepada ayahku bahwa aku tidak menyukai arsitektur meski sudah berkuliah cukup lama. Sebulan penuh kata-kata nisa memenuhi isi kepalaku, aku mempertimbangkan ide nisa, meyakini, dan kemudian menolaknya, begitu seterusnya.

Kali ini entah sudah berapa kali tahun berulang aku dan nisa tak pernah lagi berkabar. Kita berpisah setelah sama-sama menamatkan kuliah S1. Nisa memilih melanjutkan studi di tanah jawa dan aku dengan gitar di backpack menyusuri tanah di bumi berpetualang mengabadikan jejak. Terakhir kali aku berkomunikasi dengannya adalah saat aku mengirimkan lagu ciptaanku yang aku rekam seadanya menggunakan handphone.

Kemudian nisa membalas pesanku, “dias aku jatuh cinta pada lagumu. Apalagi lirik yang ini,

peluklah juangmu

 semesta tak pernah ingkar

biar hujan yang balas segala suara dan amarah

karena esok atau entah tanah yang di rampas

adalah pembaringan abadi…

aku tersenyum. dan kemudian mengetik,

aku juga jatuh cinta padamu.”

Dan kemudian menghapusnya kembali..

*) Intan nur azizah atau yang biasa disapa Intan lahir di Banggai Laut pada 19 Februari 1995. Saat ini ia berdomisi di Jalan Setia Budi No. 07F, Kota palu, Sulawesi Tengah dan sedang Menyelesaikan studinya di universitas Tadulako, Palu. Intan dapat dihubungi di nomor telepon 081343578057 atau melalui sosial media, Facebook : Nur Azizah Alimuddin, dan Instagram : @sangkhalasenja.