M. Kafrawi Alkafiah M.Si Dosen Muda Pemilik Empat Bank Sampah

Kafrawi Alkafiah MSi, Dosen muda Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Tadulako (FISIP UNTAD), yang aktif dalam aksi peduli lingkungan, di tengah aktivitas utamanya sebagai dosen di Program Studi Ilmu Administrasi Publik, FISIP UNTAD. Pria kelahiran 12 Juli 1990 tersebut, memiliki komunitas peduli sampah di kompleknya, Kelurahan Duyu, yang ia pula sebagai inisiatornya.

Tamatan SMAN 6 Palu ini mengaku sebagai orang sosial dan memiliki jiwa wirausaha, selalu melihat peluang bisnis di lingkungan sekitarnya. Pria asli suku Kaili tersebut mencoba untuk melihat peluang bisnis dimana pun ia berada. Misalnya jika di suatu daerah banyak memiliki pohon pisang, maka masyarakatnya dapat mengolahnya menjadi keripik pisang. Dengan aktivitas dan cara berpikir yang demikian, membuat ia berhasil memiliki empat Bank Sampah yang berada di empat kelurahan, yakni kelurahan Duyu, Birobulu Selatan, Silae, dan Ulujadi.

Putra Sulung dari pasangan Drs. Samsu A. Sahibo M.Si dan Dra. Faridah ini berhasil menyelesaikan kuliah S1nya di tahun 2012 dengan kurun waktu 3,5 tahun saja. Setelah menamatkan S1nya di Prodi Administrasi Publik FISIP Untad, pecinta game online ini langsung menjadi Dosen Administrasi di FISIP Unismuh Palu, dengan syarat harus menjalani pendidikan S2. Sehingga ia kembali ke Untad sebagai mahasiswa Pascasarjana di Prodi Magister Administrasi Publik. Kakak dari Abu Hanifah MSi dan Moh Sahbani ini sempat menduduki bangku Wadek III di FISIP Unismuh, namun karena berhasil lulus menjadi PNS di Untad, maka mundurlah ia dari jabatan itu.

“ Saya termasuk dosen baru di Untad khususnya FISIP, walau SKnya keluar di bulan Maret, tapi saya sudah mengajar dari bulan Januari,” ucapnya yang juga menyukai mata kuliah Evaluasi dan Implementasi itu.

Dosen yang sempat aktif di Organisasi Kaktus samasa menjadi mahasiswa S1 tersebut, mengatakan bahwa pengalaman organisasinya itu membuat ia bisa berdiri di depan banyak orang, karena ia bisa terus melatih public speakingnya. Ia juga menyampaikan bahwa kepintaran tanpa adanya keberanian bukanlah apa-apa.

“Walaupun dia pintar namun tidak berani berbicara di depan umum, tidak ada guna kepintarannya itu. Makanya di Organisasi kita diajar banyak hal yang kita tidak dapat di kelas. Walaupun saya aktif berorganisasi, urusan kuliah pun tidak saya tinggalkan. Ketika saya punya kelebihan SKS, maka saya akan mengambil mata kuliah semester atas, dengan begitu saya lebih cepat dan berhasil tamat S1 hanya dengan waktu 3 tahun 5 bulan 20 hari saja,” ujarnya.

Ketika ditanya tentang definisi kemerdekaan, Alumni yang menamatkan gelar S1 dan S2 nya di Untad ini, memiliki pandangan bahwa kemerdekaan merupakan hal yang relatif bagi setiap orang, tergantung perannya di masyarakat. Menurutnya Kemerdekaan bagi orang-orang sepertinya, yakni pekerja sekaligus pemerhati lingkungan, ialah orang-orang dapat membagi waktu dengan baik. Ketika di dunia kerja maupun di lingkungan masyarakat.

Pemotor istilah Rakita Rumpu Raala Raola (lihat sampah, ambil dan olah) ini juga menyebutkan bahwa kemerdekaaan ialah orang yang dapat bermanfaat kepada orang lain. “Bukan hanya dari segi finansial, merdeka juga dilihat dari segi moral, seberapa bergunanya kita bagi orang lain,” imbuh pencetus Bank Sampah tersebut.

“Kemerdekaan itu sifatnya relatif, tergantung perannya di masyarakat itu seperti apa. Misalnya  menurut mahasiswa, merdeka itu ketika orang tuanya memberi kebebasan. Menurut pekerja, merdeka itu ketika diberi kepercayaan dari atasannya. Dan menurut pengusaha, merdeka itu dapat bebas bekerja kapan saja dan dimana saja, tanpa adanya aturan yang terikat. Namun menurut saya yang seorang pekerja dan pelaku sosial, merdeka ialah ketika dapat membagi waktu secara profesional, baik itu ketika menjadi dosen dengan menjunjung Tri Dharma Perguruan Tinggi maupun menjadi penggagas Bank Sampah yang dapat membuka lapangan kerja bagi masyarakat,” tuturnya.

Suami dari Maghfira M.Pd, Dosen Bahasa Inggris FKIP Untad itu, mendirikan Bank Sampah yang aktivitasnya adalah kegiatan dalam mengumpulkan dan memilah sampah, terutama sampah anorganik seperti plastik, untuk dapat didaur ulang kembali. Hal tersebut membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat kurang mampu dan  yang masih belum mendapat pekerjaan. Ibu-ibu rumah tangga pun tak ikut ketinggalan dalam mengumpulkan sampah rumah tangga mereka sendiri. Penghasilan yang bisa didapatkan dari Bank Sampah tersebut cukup besar, yakni sekitar 4 jutaan setiap bulannya, dengan dihargai per kilonya sebesar Rp. 800.

Pecinta Almamater Untad itu, mengaku bahwa komunitas yang ia cantumkan tersebut dimulai di tahun 2017 bertepatan di tanggal yang sama dengan ulang tahunnya yang ke-27. Berbekal kepedulian akan lingkungan sehat, ia bekerja sama dengan pihak Pegadaian sehingga menamakan komunitas sekaligus usahanya itu sebagai Bank Sampah Emas Duta Recycling, dengan menyongsong tema “Mengubah Sampah Jadi Emas”.

Dengan begitu, masyarakat dapat menukarkan sampahnya menjadi emas di Pegadaian. Bukan hanya Pegadaian, Dinas perindustrian dan Dinas Lingkungan Hidup turut ikut andil dalam menerapkan program tersebut. Karena menurut Kafrawi, pihak pemerintah juga memiliki tujuan yang sama seperti yang ia lakoni, namun karena kurangnya sosialisasi dari pemerintah, menjadi kurang maksimalnya mengatasi masalah lingkungan terutama sampah plastik. Oleh karena itu, menurutnya Bank Sampah dapat dijadikan sarana dalam menyelesaikan masalah lingkungan tersebut.

“Jadi di Bank Sampah atau tempat pengelolaan limbah plastik itu, saya mengajarkan kepada masyarakat, bagaimana dalam mengelola sampah plastik di lingkungan kita sendiri, agar sampah tersebut bisa memilki nilai ekonomis. Jadi dilakukan pemberdayaan kepada masyarakat terlebih dahulu, agar mereka dapat memilah berbagai jenis plastik sesuai yang dibutuhkan oleh pihak perusahaan. Dengan begitu, penghasilan yang mereka dapatkan biasanya berkisar 3 sampai 4 jutaan tiap bulannya,” tutur Dosen yang sangat menyukai mata kuliah Kewirausahaan.

Pria yang mengakhiri sekolah dasarnya di SDN Pengawu di tahun 2002 dan menamatkan dirinya di SMPN 5 Palu pada tahun 2005 itu, mengatakan bahwa sampah tersebut dikumpulkan dan dipilah oleh masyarakat sendiri, kemudian diolah di Pabrik hingga menjadi cacahan plastik atau bijih plastik, yang selanjutnya dikirim ke Surabaya sebagai bahan baku pembuatan plastik rumah tangga, seperti kursi, meja, penutup botol dan lain sebagainya. Ia berharap ke depannya dapat membuat sendiri produk jadi tanpa harus mengirimnya ke Surabaya.

Di samping dapat bernilai ekonomis, Pria yang baru melewati satu semester menjadi Dosen Untad tersebut, mengaku sangat mencintai lingkungan yang bersih dan bebas sampah. Dengan melihat kondisi sampah di Kota Palu yang kian meningkat, ia melihat peluang bisnis yang bisa dikembangkan dari tumpukkan sampah tersebut. Dengan ide sampah daur ulang, Kafrawi berharap sampah yang dibuang di TPA sampah merupakan sampah yang sebenar-benarnya, yakni yang sudah tidak bisa didaur ulang lagi. Selain itu, dengan adanya project seperti ini membuat terbukanya lapangan kerja bagi pengangguran. AFT