MEMAKNAI BELA NEGARA

oleh : Shofia Nurun Alanur S, S.Pd.,M.Pd
(Alumni Program Studi PPKn FKIP Untad angkatan 2012)

Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 1945 merupakan momen paling bersejarah. Sebab kita terlepas dari belenggu penjajahan negara kolonial, baik Belanda dan Jepang, serta penjajah bangsa asing lainnya. Sudah cukup ratusan tahun bangsa ini ditindas, dicaci, dijadikan perbudakan, bahkan banyak yang terbunuh, hingga gugur di medan Perang. Aceh, Maluku, Sulawesi, Jawa, semua daerah sudah menyisahkan sejarah perang pahlawan kita melawan penjajah. Seperti Pattimura yang digantung pada tahun 1817 Masehi, Christian Martha Tiahahu yang mati kelaparan di atas kapal sehingga jenazahnya di buang di lautan. Masih banyak kisah pahlawan lain yang begitu sadis terdengar kisahnya ditelinga kita. Itu sebabnya setiap bulan Agustus, juga dilakukan upacara tabur bunga di lautan, untuk mengenang para pahlawan yang gugur di lautan.

Kini, kita hanya bisa mengenang kisah mereka. Lewat pelajaran di sekolah, cerita di buku, bahkan di museum-museum yang ada di wilayah Republik Indonesia. Makam mereka pun seringkali dikunjungi oleh masyarakat. Tetapi, bukan hanya mengenang yang mesti kita lakukan. Kita harus melakukan bentuk pertahanan dan penjagaan, agar negeri ini tetap merdeka. Sekarang, bukan lagi saatnya angkat senjata. Tetapi, saatnya untuk mempertahankan kemerdekaan yang kita sebut dengan bela negara.

Kesadaran bela negara menjadi bagian penting dari strategi nasional bangsa dan negara Indonesia guna menghadapi berbagai ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan. Sejarah berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang diperoleh melalui perjuangan panjang dan penuh pengorbanan, tidak dapat dilepaskan dari peran dan kontribusi dari seluruh komponen bangsa. Negara dan bangsa Indonesia mengerahkan segenap daya upayanya dalam rangka mencapai tujuan nasional sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945, yaitu melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia.

Bela negara juga telah diamanatkan dalam Pasal 27 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi “Setiap Warga Negara Berhak dan Wajib ikut serta dalam upaya pembelaan negara”. Selanjutnya dalam Pasal 30 ayat (1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945, berbunyi “Tiap-tiap Warga negara berhak dan wajib ikut serta dalam usaha pertahanan dan keamanan negara”. Penjabaran lebih lanjut tentang pembelaan negara tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 9, yang menyebutkan bahwa bela negara adalah sikap dan perilaku warga negara yang dijiwai oleh kecintaannya kepada NKRI yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945 dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sikap dan perilaku tersebut tidak begitu saja muncul menjadi kesadaran setiap warga negara sejak lahir, sehingga perlu ditumbuhkembangkan sejak dini serta senantiasa dipelihara dan dikembangkan secara berkesinambungan melalui pembinaan kesadaran bela negara.

Hakikat pembinaan kesadaran bela negara adalah upaya untuk membangun karakter bangsa Indonesia yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme serta memiliki ketahanan nasional yang tangguh guna menjamin tetap tegaknya NKRI yang berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 dan terpeliharanya pelaksanaan pembangunan nasional dalam mencapai tujuan nasional. UU Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara Pasal 4 menyebutkan bahwa pertahanan negara bertujuan untuk menjaga dan melindungi kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI, dan keselamatan segenap bangsa dari segala bentuk ancaman. Pasal tersebut menunjukkan bahwa yang harus dibela dari negara adalah kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa.

Ancaman merupakan salah satu bentuk usaha yang bersifat untuk mengubah atau merombak kebijaksanaan yang dilakukan secara konsepsional melalui segala tindak kriminal dan politis. Ancaman bisa berasal dari dalam maupun luar negeri. Ancaman dari Luar Negeri berupa Agresi, Pelanggaran Wilayah oleh Negara Lain, Spionase/Mata-mata, Sabotase dan Aksi teror dari Jaringan Internasional. Sedangkan dari Dalam Negeri berupa Pemberontakan bersenjata, Konflik horizontal, Aksi teror, Sabotase, Aksi kekerasan berbau SARA, Gerakan separatis dan Perusakan lingkungan. Ancaman Nonmiliter merupakan ancaman yang tidak bersenjata akan tetapi apabila tetap dibiarkan, akan membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah negara dan keselamatan segenap bangsa.

Adanya bentuk ancaman yang mengancam kedaulatan negara, membuat setiap negara memiliki kepentingan nasionalnya masing-masing yang terkadang berbenturan antara negara satu dan lainnya. Kondisi tersebut membuat negara perlu survive mengingat semakin kuatnya persaingan dan tidak ada yang dapat menjamin bahwa sebuah negara akan tetap selamanya ada atau tetap berdiri. Untuk itu, agar tetap hidup, negara harus dibela dan dilindungi dari berbagai macam bentuk ancaman.

Tugas membela negara tidak bisa hanya digantungkan pada Tentara Nasional Indonesia (TNI) maupun Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) semata. Sebagaimana sistem pertahanan semesta, bela negara harus melibatkan segenap komponen bangsa, termasuk di dalamnya seluruh warga negara, lembaga negara, lembaga kemasyarakatan, hingga partai politik (suprastruktur dan infrastruktur politik).

Membela negara berarti mempertahankan bangsa. Jika sebuah negara aman, maka segala aktivitas akan aman. Beribadah, bersekolah, bahkan mengembangkan bakat dan meraih cita-cita, bangsa dalam kondisi yang aman. Keikutsertaan warga Negara Indonesia dalam upaya pembelaan negara merupakan hak dan kewajiban konstitusional setiap warga Negara yang diwujudkan dalam sikap dan perilaku yang dijiwai oleh kecintaan kepada negara dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara. Pemenuhan hak dan kewajiban tersebut ditujukan untuk membentuk kekuatan pertahanan negara dalam rangka menjaga kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa.

Setiap komponen masyarakat harus sigap. Sebab ancaman bukan hanya dalam bentuk angkat senjata, tetapi ancaman ideologi, pemahaman, bahkan perang antar kelompok dapat memecah belah bangsa, seperti kelompok yang ingin mengganti ideologi negara.  Pendiri bangsa seperti Soekarno, KH. Hasyim Asyari, serta pemuda muslim maupun dari berbagai etnis dan agama, telah menetapkan Pancasila sebagai ideologi pemersatu. Bahkan Pancasila, lahir berdasarkan rahmat Allah swt. Pancasila tidak terlepas dari nafas dan usaha para ulama. Kemerdekaan yang kita raih pula, tidak lepas dari campur tangan para ulama. Seperti Sayyid Idrus Bin Salim Al Jufri, yang memberikan “Al Khairaat” sebagai hadiah. Lembaga yang mencerdaskan anak bangsa saat dulu di masa penjajahan, ketika penjajah membodohi kita, Sayyid Idrus berjuang mencerdaskan agar bangsa bebas dari kebodohan.

Indonesia adalah bangsa yang cinta damai tetapi lebih mencintai kemerdekaan. Makna kemerdekaan sangat berharga dan merupakan hak asasi manusia. Alinea pertama Pembukaan Undang-undang Dasar 1945 menyebutkan “bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”. Sedangkan pada alinea kedua berbunyi “dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentausa menghantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur”. Makna kalimat “… telah sampailah …” memperlihatkan pengertian adanya proses perjuangan panjang dengan kerja keras dan penuh pengorbanan. Sejarah membuktikan bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia bukan seperti bangsa yang memperolehnya sebagai “hadiah”, tetapi dengan “berdarah”. Bung Karno menggambarkan kesaktiannya dengan kata-kata “otot kawat balung wesi” sehingga “ora tedas tapak paluning pande” (“tidak mempan dihantam palu”). Indonesia dalam berjuang, tanpa mengeluh karena selalu dengan semangat “rawe-rawe rantas malangmalang putung”. Sekeras dan sekuat apapun rintangan akan dihadapi dengan sekuat tenaga. Indonesia adalah bangsa berjuang keras dan penuh dinamika dalam mencapai kemerdekaannya.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here