Rektor UNTAD Tandatangani MoA dengan HISH The University of Newcastle

Ket Foto : Prof Dr Ir H Mahfudz MP bersama Prof Tim Roberts saat penandatanganan MoA (Foto : Humas Untad/WEB)

Rektor Universitas tadulako (UNTAD), Prof Dr Ir H Mahfudz MP kembali mempererat jejaring kerjasama dengan The University of Newcastle (UoN), Australia. Penguatan kerjasama itu dituangkan dalam penandatanganan Memorandum of Agreement (MoA) dengan Prof Tim Roberts, Direktur Hunter Innovation and science Hub (HISH) UON, pada Jumat (2/8).

Prof Mahfudz menyampaikan bahwa MoA itu merupakan tindak lanjut MoU (Memorandum of Understanding) yang sudah ditandatangani oleh rektor sebelumnya untuk dua kali 5 tahun yakni 2011-2015 dan 2015-2020.

“Kesepakatan yang baru ditandatangani itu terkait penguatan kerjasama akademik antara UNTAD dalam hal ini IPCC (International Publication and Cooperative Center) UNTAD yang dikoordinatori oleh Taqyuddin Bakri SPd MPd dan HISH UON dalam hal kerjasama yang fokus pada proofeading di bawah koordinasi Prof Tim Roberts dari HISH,” jelas Prof Mahfudz.

Selain penandatanganan MoA, tercapai juga kesepakatan antara Rektor, Prof Mahfudz dengan Prof Tim Roberts untuk menggelar International Conference. Hasil dari kegiatan itu nantinya adalah artikel yang luarannya akan dipublikasi di jurnal international terindeks scopus.

Terkait International Conference, ujar rektor, kegiatan akan dilaksanakan pada 4 sampai dengan 6 November 2019. Untuk itu, dimohon dosen UNTAD yang memilki hasil penelitian untuk segera membuat draft manuscript karena seluruh manuscript akan disajikan dalam international conference tersebut. Selain ajang kolaborasi juga ajang edukasi dalam penyajian scientific paper. Terkait layanan proofreading, saat ini sudah tujuh artikel yang telah diproofreading oleh anggota HISH UoN.

“Pelaksanaan International Conference akan di handle oleh dewan professor UNTAD, sementara publikasinya oleh pihak IPCC. Kita berharap akan ada minimal 100 artikel terpublikasi. Tema umum conference adalah agrimendical and environment sustainability. Jadi ini interdisipliner sehingga dapat dimanfaatkan oleh dosen UNTAD untuk mengikuti conference ini,” ujar Prof Mahfudz.

Dalam kesempatan lain, Taqyuddin Bakri SPd MPd selaku koordinator IPCC mengatakan guna peningkatan publikasi karya ilmiah, IPCC akan mengolah artikel dan mengkaver hingga keseluruhan pendanaan.

“Artikel dari dosen Untad akan kami olah di IPCC, selanjutnya di translate, proofreading dan dikirim ke jurnal yang relevan. Sebagian atau keseluruhan dari pendanaan akan dicover oleh IPCC,” ujar Taqyuddin.

IPCC merupakan perubahan nama dari center for International Article Publication (Cef-InaP), yang ada sejak 2018 silam. Perubahan itu dilakukan sejak maret 2019 untuk target publikasi artikel dan kerjasama untuk peningkatan publikasi ilmiah dapat ditingkatkan. Pada tahun 2019, IPCC akan mengkaver 40 persen dari target rektor Untad.

“Kalau target Pak Rektor untuk tahun 2019 itu 125 artikel, dan yang coba diambil atau dicover oleh IPCC itu sekitar tiga puluh hingga empat puluh persennya. Yang lain itu tentu ada dari fakultas-fakultas, baik yang dikirim melalui perorangan atau konferens,” lanjut Taqyuddin.

Kelayakan karya akan dinilai oleh tim khusus yang akan bertanggungjawab hingga pada penyesuaian template jurnal tujuan.

“Kalau layaknya itu dari tim. Jadi kita punya tim. Dosen-dosen muda baik dosen PNS (pegawai Negeri Sipil), non PNS maupun dosen tetap BLU (Badan Layanan Umum) itu ada di tiap-tiap fakultas. Kalau misalnya ada artikel dari fakultas tertentu, akan ditangani oleh tim yang berasal dari fakultas itu. Setelah itu dimasukkan ke IPCC, IPCC distribusikan ke tim, nah tim itu yang garap sampai ke tahapan siap untuk dikirim. Tahapan siap dikirim berarti sudah disesuaikan dengan template jurnal tujuan. Jadi yang masuk itu insya Allah layak,” jelas Taqyuddin. Tq/Md