Arti Sebuah Komitmen

Oleh: Rani Astriani Mointi

 

“Neng, barusan Riz menelpon. Dia tidak enak karena membuat bunda khawatir.”

Seketika mataku terasa panas mendengar ucapannya barusan.

“Apa? Jadi tadi kau menepi karena telponan dengan Riz?”

“Neng, dengar dulu, kami tidak membincang soal apa-apa selain dia meminta maaf karena tidak enak sama Bunda. Riz mau menelpon Bunda tetapi Neng tahu bukan kalau sinyal di kampung tidak begitu bagus?”

“Ah sudahlah, tega kamu, Rin!”

Aku beranjak penuh amarah meninggalkan Rina. Kuambil helmku dan melangkah setengah berlari. Rina mengejarku, menarik tanganku lalu memelukku. Sayang aku terlanjur murka. Kulepas pelukannya dan mendorong dirinya dariku. Dia terhempas hampir 1 meter. Tapi ia tidak menyerah untuk menghentikan langkahku. Ia kembali mendekat lalu aku membentaknya.

“Tidak usah! Kau telah berkhianat, Rin. Jangan mendekat!”

“Ya ampun Neng, aku tidak bermaksud demikian. Dengar aku dulu. “

Rina berusaha menjelaskan.

Prakkk…

Aku membanting helmku di depannya. Rina diam dan terpaku menatapku. Aku tak peduli, kutinggalkan dia dalam keadaannya yang shock. Kupacu sepeda motorku dengan kecepatan tinggi. Sepanjang jalan pikiranku kosong. Aku kehilangan arah dan tiba-tiba tersadar, aku tak menggunakan helm. Aku segera putar balik dan syukurnya Rina sudah tidak di basecamp. Aku mendapati helmku berada di atas kursi. Pastilah Rina yang meletakkannya di situ.

Rina mengirimkan pesan singkat ke telepon genggamku

”Neng, aku minta maaf. Aku mengaku salah.”

Isi pesan itu hanya kubaca dan enggan kujawab. Aku malas menanggapi. Aku masih sangat kecewa.

“Ayolah Neng, aku serius minta maaf. Neng di mana sekarang?”

Masih tak kuhiraukan pesannya.

Merasa tak puas dengan pesannya yang tak terbalas. Rina menelponku berkali-kali. Aku menolak panggilannya lalu menonaktifkan telpon genggam. Aku marah besar padanya dan berniat tak akan menjumpainya lagi. Aku tak pernah terpikir bahwa akan sangat menyakitkan jika dikhianati oleh orang terdekat. Meski demikian sebenarnya ada rindu untuk sahabatku.

2 hari berlalu, dan aku semakin mencoba tak peduli pada Rina. Entah berapa banyak panggilan dan pesan darinya di ponselku yang berlalu begitu saja.

”Assalamualaikum, kak.”

Fitri menyapaku.

“Waalaikumussalam, Fit. Masya Allah, sejak kapan Fitri tiba?”

“Sudah sekitar 10 menit aku tiba, kak. Mau menyapa kakak tapi aku tidak tega membuyarkan lamunan kakak, karena sepertinya kakak lagi khusyuk. Hehehe.”

“Oh astaga, maafkan aku yang tak menyadari kehadiranmu, dik.”

“Hehehe, biasa saja kak. Aku suka liat kakak kalau lagi melamun, aura keibuannya lebih nampak. Jadi bagaimana kak, kita berangkat sekarang?”

“Baik. Tapi kali ini aku duduk di jok belakang yah, Fitri yang mengemudi.”

“Ashiyaap.” Fitri melempar senyum ke arahku.

Ah Fitri, adik manis yang paling bisa bikin cair suasana hati yang hampir beku. Sejenak aku terlupa bahwa aku tengah dilanda sakit hati level atas. Sebenarnya tak hanya Fitri sih yang pandai mengurai urat wajah menjadi lebih rileks, hampir semua adik-adik perantauanku demikian. Kehadiran adik-adik seperti mereka, membuatku banyak bersyukur pada Tuhan.

Sekitar 30 menit berkendara, aku dan Fitri tiba di tempat bakti sosial dan bersegera bergabung bersama tim yang sudah lebih dulu tiba. Segera aku mengisyaratkan agar semua tim berkumpul lalu duduk membentuk lingkaran.

“Baik kawan-kawan sekalian, kita masih punya 60 menit sebelum kegiatan dimulai. Silakan semua divisi mengecek kembali kelengkapannya, jika ada yang masih kurang segera berkoordinasi. Kita harus memberikan yang terbaik bagi adik-adik peserta. Siapkah kita untuk ini?”

Serempak tim menyahuti mantap,

“InsyaAllah Siap!”

Masing-masing tim bergerak dan mempersiapkan segala perlengkapan pendukung kegiatan. Semua terlihat sangat sibuk. Pun aku sibuk mengamankan hatiku agar tidak khawatir berlebih dan mempercayakan semua pada teman-teman tim.

Aku berjalan mengitari lokasi kegiatan, menyapa tim di tengah kesibukan mereka, dan lebih sering melempar senyum. Aku berharap apa yang kulakukan bisa membuat mereka merasakan kehadiran leader mereka.

Tepuk tangan, sorak-sorai  dan tawa renyah anak-anak mewarnai sepanjang pelaksanaan kegiatan. Sebuah isyarat bahwa mereka menikmati suguhan kegiatan kami. Aku puas, semua tim pun tersenyum penuh kemenangan. Peluh membasahi wajah tim hebatku. Aku bangga pada mereka. Dan kesuksesan agenda ini membuatku kembali mengumpulkan kewarasan. Iya, hatiku mulai berdamai dan sedikit menyesali sikapku yang keras pada Rina. Aku segera mengirim pesan singkat padanya.

“Sudah tidak sibuk? Kutunggu di pos 4, samping sungai kecil.”

Baru sekitar 2 menit aku berdiri menatapi pemandangan dekat sungai, tiba-tiba seseorang menubruk dan memelukku dari belakang. Ah sepertinya aku mengenal seseorang itu. Pasti Rina. Belum sempat aku bertutur, tangisnya pecah. Astaga, aku tak tega. Aku coba membujuknya.

“Eh jangan menangis, kayak anak kecil, malu diliat orang.”

Bukk… Bahuku ditinjunya.

“Neng tega! Neng tidak tahu yah rasanya dicuekin sahabat terdekat?”

Aku membalik badan menghadap padanya.

“Sudah dulu menangisnya, dengar aku bicara dulu. Rina kira aku tidak tersiksa? Aku rindu kamu, Rin. Aku kepikiran terus.”

“Neng, aku minta maaf, aku  tahu aku salah. Aku siap Neng marah, aku siap Neng maki-maki tetapi kumohon Neng jangan bersikap dingin.”

“Baguslah kalau Rin sadar bahwa itu adalah kesalahan. Sesungguhnya aku tidak butuh klarifikasi atas apa yang Rin bincangkan dengan Riz di telpon. Aku merasa terkhianati karena Rin sudah pernah janji bahwa Rin tidak akan berhubungan via apapun dengan  Riz sampai proses lamaran hingga prosesi akad nikah kalian selesai. Ingat Rin, komitmen itu jauh lebih penting dari apa yang dikomitmenkan. Rina sahabatku, maka jangan tanyakan kenapa aku sampai sekecewa ini. Tapi sudahlah semoga ini menjadi pelajaran bagi kita semua. Aku minta maaf jika kemarin aku sangat keras sama Rina.”

Aku mengulurkan tangan kananku ke arah Rina. Sekejap Ia meraih tanganku lalu memeluk dan kembali terisak. Sebenarnya butiran kristal dari mataku sudah hendak berlomba membentuk anak sungai di pekarangan wajahku. Kucoba menahannya sekuat hati. Berhasil namun dadaku seolah bergemuruh dan sesak. Bukan karena aku masih sakit hati tetapi karena aku tak tega telah membuat Rina berderai-derai air mata. Aku terlalu keras padanya. Mungkin lebih tepatnya aku agak kasar padanya.

“Terima kasih, Neng. Terima kasih atas pelajaran berharganya. Terima kasih mau memaafkan kekeliruanku. Aku menyayangimu, Neng.”

“Ayolah, tangisnya dicukupkan dulu, nanti diliat teman-teman tim yang lain. Nanti disangka Rina habis aku pukul.”

Aku menyapu air matanya dengan pergelangan jaketku. Rina  tersenyum haru menatapku. Lalu aku mencoba melucu meski agak garing dan mengajak Rina kembali membaur dengan seluruh tim. Kami semua kemudian berkemas sembari memutuskan akan melakukan evaluasi sekaligus ramah tamah di sebuah warung sederhana di pinggiran kota. Kawan-kawan tim ini memang bersahaja menurutku. Mereka orang-orang visioner, tetapi soal makan, mereka tidak banyak memilih, asalkan bisa mengenyangkan itu sudah cukup.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here