HIMAART’lie Turut Hidupkan Film Indie di Palu

Ket. Foto: Pembawa acara pada saat menyampaikan rangkaian kegiatan KOLOSAL (Foto: dok. Panitia Penyelenggara)

Himpunan Mahasiswa Arsitek Untad (HIMAART’lie) bekerja sama dengan Komunitas Kolosal (Kolaborasi Visual), kembangkan film-film independen di Kota Palu. Kolaborasi tersebut dikemas dalam agenda Pemutaran dan Diskusi Film, pada Sabtu s.d Minggu (31/08-01/09) di Museum Sulawesi Tengah.

Ada 2 film yang diputar dan didiskusikan bersama Adetriyan (Sutradara Film dan Selaku Pendiri Kolosal) dan Fatimah Liliani (Produser, Director SODOC FESTIVAL). Kedua film tersebut yakni film dengan judul “Diorama Halaman Terakhir” dan “NOGI 1975”.

HIMAART’lie turut serta dalam kegiatan tersebut dengan harapan turut menghidupkan film-film indie. Hal tersebut disampaikan Ketua HIMAART’lie, Ghifar, saat diwawancarai reporter Media Tadulako. Ia mengatakan film-film indie haruslah mendapat dukungan.

“Kami ingin menghidupkan film indie di Masyarakat, sehingga tidak hanya film-film di bioskop saja yang disukai, melainkan film-film indie pun demikian. Karena film indie mempunya nilai-nilai sosial terhadap masyarakat,” tutur Ghifar.

Masih menurut Ghifar, meski sebagai mahasiswa Arsitektur tidak beririsan langsung dengan dunia perfileman, film tetap memberikan sumbangsih yang besar dalam disiplin ilmu mereka. “Karenanya kami terlibat dalam kegiatan ini, walaupun disiplin ilmu kami dibidang Arsitektur, tetapi kita semua tidak terlepas dari dunia film, yang memberikan  informasi tentang bangunan-bangunan tradisional, dan bisa menjadikan referensi untuk pengambilan gambar yang baik dan benar saat membuat dokumenter perihal bangunan-bangunan, sesuai dengan disiplin ilmu kami,” lanjutnya.

Film “Diorama di Halaman Terakhir” diangkat berdasarkan kisah nyata, seorang Seniman teater di Solo, Jawa Tengah, yang ditinggalkan istri dan anaknya. Sama halnya dengan Film “Diorama di Halaman Terakhir”,  film “NOGI 1957” berangkat dari cerita seorang Raja di Kabupaten Sigi, tepatnya di desa Beka.

“Film “Diorama Halaman Terakhir”, adalah kisah seorang bapak yang ditinggal istri dan anaknya akibat perceraian. Hidup si bapak itu tidak lagi sempurna. Hal tersebut menurut si bapak menjadi halaman terakhir bagi hidup-nya. Sedangkan film “NOGI 1957”, berkisah tentang seorang Raja di Sigi. Saya pernah mendengar cerita menarik dari Kakek Saya yang juga keturunan Raja di Sigi. Beliau melanjutkan sekolah di Jawa dan meninggal di sana, tetapi Saya hanya mengetahui sebatas itu saja. Itulah kenapa Saya tertarik untuk mengangkat kisah-nya, karena sejauh ini sudah mulai dilupakan,” ungkap Adetriyan.

Kurang lebih 300-400 lebih penonton selama 2 hari dilaksanakan agenda tersebut. Peserta memberikan apresiasi dan respon yang positif terhadap kedua film tersebut. Fkr

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here