Intan S. Maasily Mahasiswa Fapetkan yang terus Menguprgade Diri

“Ke depan tidak ada yang dapat saya ceritakan selain pengalaman”

Intan sapaan akrab perempuan asal Banggai Kepulauan yang lahir 21 tahun lalu, di tanah Kaili. Perempuan dengan tinggi 162 cm lahir tepat tanggal 23 Agustus 1998. Lahir dari rahim seorang ibu bernama Mulha Bulanse. Ayahnya bernama Sukarmin Maasily.

Penyuka warna biru itu menghabiskan masa kanak-kanaknya di Kota Palu sejak usia 4 tahun hingga kelas 3 SD, di Sekolah Dasar Negeri Inpres 1 Tanah Modindi. Sejak kecil memang, ia sudah terbiasa melakukan hijrah. Sebelum usia 4 tahun, ia bersama orang tuanya tinggal di Desa Oluno, Kecamatan Bulagi, Kabupaten Banggai Kepualaun. Ketika kelas 4 SD, Intan sudah berpindah ke Ambon, mengikuti kedua orang tuanya yang hijrah. Di Ambon ia menetap menjadi nona ambon hingga kelas 2 SMA Semester 1. Ia lalu ke Kabupaten Banggai Kepulauan, dan melanjutkan sekolahnya di SMA Negeri 1 Tinangkung

Di Ambon, Koordinator Humas Himpunan Mahasiswa Perikanan (Himarin) Untad itu mengenyam pendidikan di SDN 1 Leihitu (Kelas 4-6), SMPN 5 Leihitu (kelas 1 Semester 2), SMP Al-Hilal (Kelas 1 Semester 2 – kelas 3), dan kembali lagi ke SMPN 5 Leihitu (kelas 3 sampai lulus). Sedangkan SMA ia berproses di SMA Negeri 2 Leihitu, lalu SMA Negeri 13 Ambon, dan ke Banggai.

Mahasiswa yang mengidolakan dosennya, Dr. Ir. Fadly Y. Tantu, M.Si dan Russaini, S.Pi., M.Sc., Ph.D., mengikuti berbagai organisasi. Ketertarikannya dengan lembaga kampus telah tumbuh sejak menjadi maba. Himarin kemudian menjadi organisasi pertamanya. Pramuka, juga ia jadikan wadah tumbuh dan berkembang karena sejak SMA basicnya memang di Parmuka. Saat ini ia mnejabat sebagai ketua adat putri Racana universitas Tadulako. Organisasi lainnya ia ikuti pula. Seperti RUBALANG (Rumah Bahari Gemilang) dan Green Student Movement Walhi.

“Kalau Rubalang, waktu itu Kak Tofan, Direktur RUBALANG hadir menjadi pemateri di Latihan Dasar Kepemimpinan. Ia sempat bercerita soal Rubalang dan program-programnya. Saya tertarik, karena menyuguhkan hal yang berbeda. Turun lapangan langsung, bisa dikatakan pengabdian. Kita butuh itu, karena mahasiswa harus ada dan hadir dalam masyarakat. Saya kemudian mencari informasi dan kapan pendaftarannya. Kak tofan itu yang saya tanya-tanya terus. Karena dia juga senior saya di jurusan. Setelah daftar, saya berproses dan bertemu banyak orang. Alhamdulillah, tambah banyak relasi,” ujarnya panjang lebar sambil tersenyum.

Selain organisasi-organisasi itu, kakak dari Nur Fitri Ramadhani S. Maasily dan Khumairah S. Maasily, juga tercatat sebagai tim di komunitas gerakan literasi Aksara Senja di Palu. Komunitas ini disampaikan Intan, sudah bergerak dan berusaha menyebarkan virus-virus literasi di beberapa Provinsi.

Pemilik motto menjadi sebaik-baik manusia yang bermanfaat, mendaftar di Universitas Tadulako pada tahun 2015, dengan pilihan Jurusan PGSD dan Pendidikan Bahasa Inggris, namun tidak lulus. Ia kemudian mendaftar di salah satu kampus di Luwuk. Tahun 2016, ia kembali mendaftar di Untad, dengan 2 pilihan jurusan yang sama, PGSD dan Pendidikan Bahasa Inggris, serta Jurusan Perikanan.

“Sebenarnya saya ingin kuliah di luar Palu. Tapi orang tua tidak izinkan karena mungkin masih khawatir. Jadinya yang terdekat di Palu. Meski demikian, saya bersyukur. Karena sejauh ini, saya sudah mampu beradaptasi. Terlebih teman-teman angkatan, ada kedekatan emosional. Karenanya saya juga punya teman dekat, Ardi, Nurul, Riska, dan Nazar. Jadi segala sesuatu ada baiknya.”

Saat ditanya terobosan yang sudah ia lakukan, Intan mengaku belum banyak yang dilakukan. Tapi ia mengapresiasi segala upaya-upaya kecil yang sudah dilakukannya. Meski saat ini ia sudah terhitung sebagai mahasiswa semester atas. Ia tertarik berlembaga karena awalnya kagum dengan para senior dan dosennya, yang memiliki wawasan luas. Dinilainya, dengan berlembaga, wawasan orang tentu saja akan bertambah.

Hanya memang, ia sedikit kesulitan membagi waktu antara kuliah dan berlembaga, dengan lembaga yang ia ikuti lebih dari satu. Tetapi semua itu mampu diatasi, terlebih saat sudah menemukan polanya. Jadi tidak ada yang dikorbankan.

Jika dilihat dari pengalaman berlembaganya sejak masih menjadi mahasiswa baru, Intan terhitung mahasiswa yang “lambat” memberanikan diri mengikuti event-event berskala nasional. Ia tidak begitu percaya. Namun karena ingin mendobrak streotype tentang perempuan yang tidak boleh kuliah jauh, baiknya di rumah saja, dan lain-lain, ia memberanikan diri. Mencoba terus mengupgrade dirinya.

Usahanya membuahkan hasil. Ia menjadi 1 dari 30 peserta Pengajar Jelajah Nusa (PJN tahun 2019), dan ditugaskan selama kurang lebih 1 minggu di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera selatan. Sebuah kebanggaan karena menyisihkan tujuh ribuan pendaftar. Program PJN menjadi program keduanya berskala Nasional, setelah sebelumnya mengikuti agenda Himpunan Mahasiswa Perikanan Indonesia (Himapikani) di Malang. Ia kemudian kembali terpilih menjadi kapten toleransi baru-baru ini di Jakarta.

Penyuka buku-buku sejarah itu, mengaku ketekunannya belajar dan terus mengembangkan diri karena pernah menjadi korban Bully ketika SD. Bullyan itu dapatkan dari lingkungan orang-orang terdekat, karena tidak menadapat peringkat kelas. Saat SD ia pernah diikat kakinya karena dinilai nakal oleh gurunya. Ia sudah beberapa kali diberitahu, tetapi karena suka berjalan sana-sini di kelas, sehingga mendapat perlakuan demikian.

Berangkat dari hal itu, si sulung itu belajar keras dan berhasil mendapat peringkat 2 pada kelas 5 SD.  Lalu saat SMA di SMAN 2 Leihitu, ia berhasil menyabet juara 2 umum se-SMAN 2 Leihitu.

“Saya dari SD pernah jadi korban bully. Saya juga nakal waktu kecil, hehehe. Sering saya dapat nol. Saya akhirnya berusaha. Jadi bully-bully itu menjadi cambuk untuk saya agar terus maju. Saya kemudian berhasil mendapatkan nilai yang baik. Itu bertahan hingga SMA. Nah saat kuliah, saya tidak berorientasi pada nilai lagi. nilai bukan segalanya, meski sedikit pusing kalau ada mata kuliah yang bermasalah. Tapi sejauh ini mampu diatasi. Yang penting itu kita mengupgrade diri terus. Saya berkeinginan berkeliling indonesia dengan event atau program yang saya ikuti yang fully funded, hehehe. Saya pikir dengan terus melibatkan diri dalam agenda-agenda kebaikan, itu menjadi hal-hal yang dapat saya ceritakan ke depan. Pengalaman, karena saya hanya punya pengalaman untuk dibagi,” ungkap alumni TK Adhiyaksa Palu.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here