Meneladani BJ Habibie dengan Sebaik-baik Cara

Indonesia bahkan dunia baru-baru saja berduka. Kepergian bapak BJ Habibie menyentuh titik sedih kita, tidak hanya dijagat maya, melainkan pada setiap perbincangan-perbincangan. Almarhum menyisakan kenangan akan dirinya dengan sebaik-baiknya. Meninggalkan karya. Meninggalkan pesan-pesan kebaikan. Dan sejumlah tentangnya.

Kebaikan sudah selayaknya menjadi tujuan hidup kita. Berbuat baik terus, dan terus sampai tidak ada waktu lagi untuk berbuat baik. Kita tidak tahu kebaikan mana yang diterima lingkungan terlebih Tuhan. Begitu bapak BJ Habibie terus berikhtiar. Pada banyak pemikiran yang ia tuangkan dalam buku, dalam manuskrip-manuskrip wawancara, file-file audio visual pada berbagai kanal televisi bahkan media sosial, Habibie selalu memberikan motivasi dan pesan-pesan untuk anak muda dengan paket komplit; pendidikan, masa depan, cita-cita, kemauan, semangat, kerja, dan juga asmara.

Ia lebih dari layak menjadi teladan. Kita patut mencuri motivasi dan kata-katanya dari dokumen yang ada, karena berjumpa sudah tidak bisa. Menjadi sepertinya pun rasa-rasanya perlu. Muluk-muluk itu baik, tapi melangkah dari yang sederhana itu paling baik. Misalnya saja kita menjadi teladan dan orang baik untuk orang-orang di sekitar kita. Sehingga mengambil intisari semangat beliau, juga cara mengenang paling baik.

Tapi ada pula yang berlebihan mengenang kisah dan segala hal terkait BJ Habibie. Beberapa waktu kemarin, ketika kita duka masih menyelimuti kita, ada vidio yang memperlihatkan orang-orang ramai di pusara BJ Habibie. Bertangisan, sambil merekam vidio dengan kamera depan, seolah ingin menunjukan ke publik, betapa terpukul dan sedihnya mereka kehilangan sosok BJ Habibie. Namun tidak sedikit yang menilai itu berlebihan. Mengenang kok seperti itu.

Di dekat kita, jika ditinggal sanak family, rasa-rasanya hati hancur berkeping-keping. Banyak yang tidak bisa mengusai emosi lalu menangis meraung-raung. Tapi ada pula yang menjadi orang-orang kuat. Merelakan dan mengenang dengan cara yang baik. Menjadi pemuda-pemuda yang terus belajar, berkarya, menyeimbangkan kehidupan di dunia dan akhirat. Membekali diri dengan IPTEK dan IMTAQ sebagaimana yang disampaikan almarhum. Pemuda perlu menyelaraskan keduanya, IPTEK dan IMTAQ, biar seimbang, tidak ada yang lebih condong. Sehingga tidak ada penyimpangan-penyimpangan, tidak ada norma-norma yang dilanggar, tidak ada rasisme, dan segala bentuk kekhilafan lainnya. Termasuk ketika segala fase kita rasakan, kita akan kembali pada dua hal itu.

Mari meneladani dengan sebaik-baiknya, pun mengenang. Sebagaimana Indonesia mengenang dengan mengabadikannya dalam kisah-kisah. Di luar negeri, namanya abadi dalam maha karyanya. Di semesta ini, malaikat mencatat segala kebaikan dan budi luhurnya. Universitas BJ Habibi (nama baru Universitas Negeri Gorontalo resmi diganti pada Agustus 2017) akan menjadi pengobat rindu selain segala tentangnya yang abadi.

Selama jalan Putera terbaik bangsa, pemimpin teladan, lelaki setia, bapak Prof. Dr. Ing. Bacharuddin Jusuf Habibie.

Abadi segala tentangmu, pun kau di keabadian.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here