Pengamat Politik Nasional, Rocky Gerung Sambangi Untad

Ket. Foto: Pemaparan materi oleh Rocky Gerung (Foto: sultengraya)

Pengamat Politik Nasional, Rocky Gerung sambangi Untad dalam rangka menghadiri Seminar Nasional yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (Fakum) Universitas Tadulako (Untad). Rocky Gerung hadir sebagai pembicara dalam seminar tersebut yang bertajuk 74 tahun kemerdakaan Indonesia, “Catatan Demokrasi Hari Ini Dalam Merajut Keutuhan Bangsa” di Theater room, pada Kamis (22/08).

Seminar tersebut menghadirkan sejumlah pembicara diantaranya Sekertaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Dr H Hidayat Lamakarate MSi, Kepala Kepolisian Daerah Sulteng, Brigadir Jendral (Brigjen) Polisi Lukman Hariyanto dan pengamat politik nasional Rocky Gerung.

Prof Dr Ir H Mahfudz MP selaku rektor Untad dalam sambutan pembukaannya mengapresiasi kegiatan tersebut, terlebih dengan hadirnya para narasumber. “Saya sangat mengapresiasi kegiatan yang diadakan Fakultas Hukum ini, khususnya tentang catatan demokrasi di Negara kita ini yang mungkin akan dijelaskan lebih detail oleh pemateri,” ungkap Prof Mahfudz.

Dalam materinya Rocky Gerung menilai tentang pemindahan ibu kota di Kalimantan. Menurutnya pemindahan ibu kota tersebut dapat menggangu alam. Pemindahan ibu kota akan meningkatkan frekuensi penerbangan, mengganggu habitat flora dan fauna serta mengurangi pasokan oksigen

“Jika ibu kota dipindah di Kalimantan, Indonesia akan mengalami pengurangan jumlah oksigen. Jika membicarakan environtment ethic, dengan ibu kota yang akan dipindahkan di Kalimantan, dengan alasan apapun pasti akan mengganggu alam. Tentunya pemindahan ibukota akan membuat pertambahan penduduk, pertambahan penggunaan AC, dan merusak lapisan oksigen. Apalagi hutan di Kalimantan merupakan salah satu paru-paru dunia,” paparnya.

Rocky menuturkan bahwa Indonesia perlu oksigen untuk dipamerkan kepada dunia, dan Kalimantan adalah ibu kota oksigen yang bisa dibanggakan. Ia mempertanyakan alasan pemindahan ibu kota. Dirinya menilai bahwa pemindahan ibu kota  hanya karena ide geografis dan historis, belum cukup kuat menjadi alasan.

“Kekurangan oksigen akan menyebabkan banyaknya karbondioksida, dan karbondioksida dapat berbahaya buat kecerdasan. Presiden mengatakan, kita harus memindahkan ibu kota di tengah-tengah NKRI, jadi idenya hanya sekedar ide geografis,” tuturnya.

Beliau menambahkan, bahwa alasan lain dari pemindahan ibu kota adalah, karena Jakarta dibangun dengan arsitektur Belanda yang merupakan warisan kolonial. Adr