SOSOK HABIBIE TELADAN DALAM PENDIDIKAN DAN AGAMA

Bulan september 2019, tepatnya tanggal 11 hari Rabu, seluruh masyarakat Indonesia dikagetkan dengan berita meninggalnya Presiden Republik Indonesia yang ke tiga, Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie. Setelah berkali-kali berita hoaks tersebar tentang meninggalnya beliau yang tengah sakit parah, kini beliau benar-benar menghadap sang Maha Pencipta.

Habibie ialah Presiden RI terpilih menggantikan posisi Soeharto yang mengundurkan diri pada 21 Mei 1998. Beliau menjabat selama 1 tahun 5 bulan dan menjadi Wakil Presiden RI ke tujuh dengan lama jabatan 2 bulan 7 hari. Beliaulah presiden yang masa jabatannya terpendek diantara yang lainnya. Meskipun demikian, Habibie justru menjadi idola dan kebanggaan seluruh rakyat Indonesia, khususnya penulis sendiri.

Kisah habibie selalu dikenang oleh setiap orang, mulai dari kecerdasannya, kepemimpinannya, agamanya, dan kehidupan percintaannya. Beliau memiliki tingkat religiusitas yang tinggi. Beliaulah yang pertama kali memperkenalkan istilah IPTEK (ilmu Pengetahuan dan Teknologi) serta IMTAQ (Iman dan Takwa).

Habibie berpandangan bahwa dalam pengamalan ilmu, tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai keagamaan. Sebab, ilmu pengetahuan yang kita miliki diraih berkat nilai agama tersebut. Misalnya, nilai keyakinan dan ketuhanan. Habibie dalam menemukan teori tentang pesawat terbang, beliau meyakini bahwa semuanya adalah atas berkat dan izin dari Allah Yang Maha Kuasa. Kita dapat melihat beliau melalui sebuah film yang berjudul “Rudy Habibie”, tentang bagaimana Ia tetap mengamalkan ibadah salat di tengah kehidupan hedonis di negara Jerman.

Dari Habibie kita belajar bahwa kemajuan dan perkembangan IPTEK yang dicapai manusia dari masa ke masa tentu tidak lepas dari penyelidikan manusia terhadap alam semesta beserta isinya. Pasalnya IPTEK menggali sumber pengetahuannya dari alam. Dan Islam sebagai agama yang diturunkan Allah yang menyeru manusia untuk melakukan penyelidikan dan eksperimen tentang alam adalah menjadi faktor kemajuan itu.

Secara tegas Allah memerintahkan manusia untuk belajar terhadap sesuatu, membawa dan menulis hal-hal yang ada di sekitarnya, serta memahami tanda-tanda kekuasaan dan petunjuk dari-Nya. Hanya orang yang beriman dan berilmu pengetahuan sajalah yang oleh Allah akan diangkat derajatnya, sehingga hidup di dunia bahagia dan sejahtera, serta di akhirat sentosa. Stimulus untuk manusia dalam mengembangkan IPTEK telah diberikan oleh Tuhan sejak dahulu, yang terlihat dalam firman-Nya Surah Ar rahman ayat 33,  bahwa manusia diberi tantangan untuk melintasi langit dan bumi. Artinya “Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan”. Selain itu, dalam Al Qur’an Surah Al Jaatsiyah ayat 13 yang artinya “Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir”.

Jika seorang ilmuan mendekati alam dengan iman kepada Tuhan, imannya akan diperkuat oleh kegiatan ilmiahnya. Jika tidak demikian, kajian alam tidak dengan sendirinya akan membawa kepada Tuhan. Keyakinan religius bisa memberikan motivasi yang baik dengan kerja ilmiah. Dengan pengetahuan ilmiah dapat memperluas cakrawala keyakinan religius dan bahwa perspektif keyakinan religius dapat memperdalam pemahaman kita tentang alam semesta.

Demikianlah, harapan dan cita-cita pendidikan di Indonesia. Mencerdaskan kehidupan bangsa tidak serta merta hanya memperkuat sisi akademik, tetapi bagaimana hati dan segala amal perbuatan dapat terus berubah ke arah yang lebih baik, yaitu keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia. Sebagaimana dalam konstitusi negara, UUD NRI 1945 Pasal 31 ayat 3  bahwa pemerintah mengusahakan dan menyelanggarakan satu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Untuk itu, mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) perlu selalu diperkuat dan dipertegas pelaksanaannya, agar tercapai tujuan nasional dan tujuan pendidikan. Imam Al Ghazali pernah mengatakan bahwa Tujuan seorang peserta didik menuntut ilmu di dunia adalah untuk menghiasi dan memperindah hatinya dengan keutamaan. Seorang peserta didik dituntut untuk mensucikan diri dari akhlak yang rendah dan sifat-sifat yang tercela, karena ilmu itu ibarat ibadah jiwa, salatnya hati dan mendekatnya ruh kepada Allah SWT.

Sebagaimana Al Qur’an Surah Al Qashash ayat 77 yang artinya “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”.

Teringat Sayyid Idrus Bin Salim Al Jufri atau guru tua yang kita kenal, pernah mengatakan bahwa ilmu dan akhlak harus berjalan beriringan. Jika manusia menginginkan sebuah kemuliaan, maka iringi ilmu dengan akhlak yang mulia. Sebagaimana syair beliau dalam Buku Yanggo, dkk tahun 2013, bahwa Orang yang berilmu dan beradab akan mendapat tempat di hati masyarakat. Sedangkan orang jahil lagi congkak pasti tidak akan disanjung dan dipuja oleh umat masyarakat. Demikianlah bagaimana Habibie dikenang, dengan ilmu dan akhlaknya, bahkan ia menjadi idola bagi anak muda. Beliau berpesan, untuk anak muda jangan berhenti berkarya dan menuntut ilmu, serta tetap menjadi hamba Allah yang beriman dan bertakwa serta taat agama.