1 Oktober adalah Perihal G30SPKI

Ada sejumlah peristiwa yang terjadi pada kita, lingkungan kita, dan bangsa kita, Bangsa Indonesia. Bersyukur saat ini kita mampu menikmati segala yang ada. Mungkin dengan minum teh sambil membaca buku atau mengklik situs peristiwa-peristiwa penting Bangsa Indonesia. Termasuk peristiwa yang diperingati pada tanggal 1 Oktober.

Menyebut tanggal 1 Oktober, kiranya ingatan kita meski tidak mengalami lansung kejadian itu, pastinya masih berputar-putar sejarah Gerakan 30 September PKI. Kita tentu tahu apa yang terjadi masa itu. Buku-buku pelajaran kita sudah membahasnya. Tidak ketinggalan situs-situs website menyajikan data itu. Yang lagi booming juga demikian. Kita tinggal mengklik, akan ada orang yang dengan manis menjelaskan tentang peristiwa mengerikan itu melalui akun youtube.

Ada berbagai informasi tentang ini beredar di internet. Ada yang bilang dilebih-lebihkan, ada pula yang bilang itu benar adanya. Kita coba mengulas sedikit saja dari sebagian data yang ada. G30SPKI adalah gerakan yang ingin menggulingkan rezim orde lama, masa pemerintahan Presiden Soekarno, lalu mengubah Indonesia menjadi negara komunis. DN Aidit kemudian memimpin gerakan ini yang juga merupakan Ketua PKI (Partai Komunis Indonesia).

Maha pentingnya peristiwa ini, entah berhenti kapan, setiap tanggal 30 September, sering dilakukan pemutaran film GS30PKI dan berlangsunglah diskusi-diskusi. Dahulu, pada masa orde baru, setiap tanggal 30 September TVRI selalu menayangkan film pengkhianatan G30S/PKI dan diwajibkan siswa Sekolah Dasar hinga SMA untuk menontonnya di seluruh Indonesia.

Dilansir dari historia.id, film Pengkhianatan G30S/PKI melukiskan bagaimana para perwira tinggi Angkatan Darat (AD) yang diculik ke Lubang Buaya, digambarkan mengalami penyiksaan hebat. Tubuh mereka disayat-sayat dan diperlakukan secara biadab. Bisa jadi, gambaran itu terinspirasi dari laporan-laporan berita yang dimuat Berita Yudha pada 9 Oktober 1965. Koran milik tentara itu bahkan menyebut tentang para jenderal yang dicukil matanya serta alat-alat kelamin mereka dipotong oleh para aktivis Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani), sebuah organ perempuan yang menjadi bagian dari PKI.

Kenyataanya tidak seperti itu. Dalam laporan visum et repertum yang didapat sejarawan Ben Anderson dan diungkapkan dalam “How did the General Dies?” jurnal Indonesia, April 1987, disebutkan bahwa keadaan jenazah hanya dipenuhi luka tembak.

Pada masa Soeharto, tanggal 30 September, diperintahkan untuk menaikkan bendera setengah tiang, dan keesokkan harinya tanggal 1 Oktober bendera dinaikkan penuh. Setelah Soeharto lengser, kebiasaan ini tidak lagi seketat dulu. Setiap tanggal 1 Oktober, secara serempak Upacara Bendera dilakukan. Hal ini sebagai simbol kemenangan atas pancasila yang mampu menangkal ideologi Komunis.

Dewasa ini, apa yang harus kita lakukan sebagai generasi bangsa? Tentu saja terus belajar, dan tidak melupakan sejarah.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here