Dosen Untad Peroleh Sertifikat Reviewer Internasional

Ket. Foto: Foto bersama para peserta pelatihan dan uji kompetensi reviewer di Bandung (Foto: dok. Dr Rosmala Nur MSi)

Setelah mengikuti Pelatihan dan Uji Kompetensi Reviewer oleh Kemenristekdikti, Dr M Rusydi H MSi, Dr Rosmala Nur MSi, Prof Dr Ir Effendi MSi dan Dr Ir Samliok Ndobe MSi berhasil meraih sertifikat reviewer internasional. Seleksi yang diikuti 100 reviewer utusan universitas se-Indonesia itu dilaksanakan di Bandung (6-11/08).

Saat di temui di ruangannya (03/10), ketua LPPM Untad, Dr M Rusydi H MSi menuturkan bahwa selain ke-4 dosen yang telah tersertifikasi tersebut, Untad juga kembali mengirimkan 13 dosen untuk mengikuti kegiatan yang sama yang dilaksanakan di Makassar (16-22/09). Ia berharap 13 dosen tersebut, dapat lulus dan bisa tersertifikasi seperti mereka, agar semakin banyak reviewer asal Untad yang diakui oleh Kemenristekdikti.

Dr Rusydi mengatakan, reviewer berperan penting dalam suatu output penelitian maupun pengabdian. Ia berharap, dengan mengikut pelatihan dan uji kompetensi, kualiatas penelitian yang ada di Untad akan semakin meningkat.

“Dalam panduan penelitian seorang reviewer bertanggung jawab terhadap output yang dihasilkan oleh penelitian peneliti. Beratnya tugas ini, maka seorang reviewer harus dilatih dan diuji. Untuk mengikuti ini, dosen yang kita kirim harus memenuhi syarat tertentu. Saya berharap dengan adanya pelatihan reviewer itu, hasil review-nya semakn bagus dan kualitas penelitian yang ada di Untad semakin bagus juga, karena di review oleh orang-orang terlatih,” tandasnya.

Ia menambahkan, saat ini Untad memiliki 20-an reviewer yang ditugaskan oleh Rektor. Hanya saja baru 4 orang yang tersertifikasi. Sehingga, hanya 4 reviewer tersebut yang bisa me-review penelitian dan pengabdian yang berasal dari luar Untad di jika dibutuhkan. Sedangkan sisanya hanya menjadi reviewer internal untuk penelitian dan pengabdian yang berasal dari Untad, karena belum tersertifikasi.

Dr Rosmala Nur MSi, ditemui di ruang Deakan FKM (23/09) menuturkan bahwa untuk didelegasikan mengikuti kegiatan yang membuatnya menjadi salah 1 reviewer yang diakui Kemenristekdikti itu, para dosen harus memenuhi berbagai persyaratan. Ia mengungkapkan, karena tingginya syarat untuk suatu penelitan, maka syarat untuk menjadi reviewer juga harus lebih tinggi.

“Sayaratnya yaitu H index minimal 2, harus ada jurnal internasional terindex scopus, pernah mendapatkan hibah penelitian di 3 tahun terakhir, pernah menjadi ketua peneliti dan beberapa syarat lainnya. Syarat untuk menjadi reviewer cukup berat, karena yang di-review  syaratnya tinggi, maka yang me-review juga harus lebih tinggi. Dites dulu bagaimana pengetahuan tentang penelitian, bagaimana me-review rekam jejak orang yang akan di-review, sampai teknik me-review secara online,” ungkap wakil Dekan bidang Umum dan Keuangan FKM itu.Vv

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here