Dr Amiruddin Kade MSi “Dosen yang Selalu Ingin Bermanfaat”

 “Saya itu orang yang paling mengutamakan bagaimana bisa bekerja sama dengan semua orang yang punya niat yang baik, bagaimana membangun sebuah tim kerja yang baik. Moto saya adalah bermanfaat bagi orang lain, punya banyak teman dan tidak punya musuh”.

Dr Amiruddin, sapaan akrab dosen kelahiran Bone Selatan, 50 tahun silam, tepat 3 Juli 1969. Lahir dari keluarga petani dengan ekonomi pas-pasan tidak menyurutkan semangatnya untuk mengenyam pendidikan, hingga bisa berada pada posisi ini.

Mendengar namanya, tentunya hanya segelintir masyarakat Untad yang tidak mengenalnya. Pembawaan dirinya yang nampak selalu happy, suka bercanda, dan tentunya semangat. Terlibat bertim dengannya, selalu menjadikan suasana mencair. Terlebih kegiatan yang dilakukan di luar Untad dan Palu.

Putra bungsu dari 9 bersaudara ini, menyelesaikan S1-nya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Ujung Pandang yang sekarang beralih nama menjadi Universitas Negeri Makassar, dengan beasiswa Ikatan Dinas. Dosen yang telah mengabdikan dirinya di Universitas Tadulako sejak 1994 ini, kemudian melanjutkan pendidikan magisternya di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan beasiswa BPPS. Barulah setelah lama mengabdi, ia berhasil menyelesaikan pendidikan Doktornya dengan biaya pribadi.

Dosen yang kini menjadi sekretaris LPPMP Universitas Tadulako (Untad) itu, bercerita mengenai perjuangannya sejak awal mengajukan diri sebagai tenaga pengajar di Untad 25 tahun silam. Ayah dari Fitri Inda Pratiwi (mahasiswa Akuntasi Untad), Sri Rezeki Amalia (mahasiswa Fakultas Hukum Unhas), Muhammad Yusuf dan Muhammad Hanif ini baru berhasil memiliki rumah sendiri di tahun 2005. Banyak pengalaman, baik suka maupun duka yang ia peroleh. Namun semua itu justru semakin meningkatkan semangatnya untuk menjadi lebih baik.

“Saya dari kalangan yang bukan orang kaya, orang tua saya petani. Sejak pindah ke Palu dan mengajar di Untad, 2005 baru punya rumah tetap. Saya tidak pernah merasa terlalu susah, karena tidak pernah berpikir lebih dari kemampuan, kalau dari segi finansial, saya tidak pernah berpikir terlalu luar biasa. Tapi dari sisi ide-ide, saya selalu berusaha berpikir lebih dari orang lain, hingga saya pernah menjadi dosen berprestasi dan  alhamdulillah diberi banyak amanah di Untad ini untuk dikerjakan,” tuturnya.

Meski sempat terkendala biaya saat mengenyam pendidikannya, saat ini, Suami dari Rismawati S.Pd itu, hanya menganggap cara bagaimana ia selalu bisa berbuat baik kepada orang lain dan selalu bisa bekerja sama dengan semua orang, bagaimana membentuk suatu tim kerja yang baik sebagai tantangan untuknya. Dosen Pendidikan Fisika ini, selalu senang dan bersyukur apabila diberi kepercayaan untuk hal-hal yang mengandung manfaat bagi banyak orang, terutama untuk masyarakat Untad.

“Saya bangga karena selalu sehat dan diberi amanah. Alhamdulilla saya dipercaya memimpin tim di Untad. Dan bersama tim, saya bisa memberikan manfaat yang lebih banyak kepada orang lain. Salah satu yang berkesan untuk saya adalah amanah menjadi ketua tim Akreditasi. Walaupun kampus kita ini belum akreditasi A, tapi sudah mendekati. Perjuangan, dengan kondisi Untad saat ini, kami sudah mencoba, ternyata ya masih B, tapi bisa dibilang ini B besar, sudah mendekati A. Dengan kondisi Untad saat ini, memang perlu perjuangan yang tidak semulus universitas lain. Tapi, dengan itu kami tidak merasa berkecil hati dan yakin bahwa universitas kita ini akan besar dan akan masuk dalam jajaran universitas yang besar. Saya selalu berkeyakinan bahwa kerja dalam tim itu jauh lebih baik daripada bekerja sendiri,” tandasnya.

Dosen yang mengidolakan almarhum BJ Habibie dan Prof. Dr. Ir. H. Muhammad Basir Cyio SE., MP  itu, bercita-cita menjadi seorang guru besar. Berbekal 127 publikasi yang 2 diantaranya telah terpublikasi di  jurnal luar negeri dan 1 artikel terindeks Scopus dengan judul “Effect of Jigsaw Strategy and Learning Style to Conceptual Understanding on Senior Hight School Students” yang di publikasikan oleh International Journal Emerging Technologies in Learning, masih berupaya untuk terus meningkatkan publikasinya hingga 200 angka kredit penelitian, guna memenuhi syarat mewujudkan keinginannya menjadi seorang Profesor.

“Cita-cita yang belum tercapai adalah menjadi guru besar karena semua dosen tentu ingin menjadi guru besar. Saya masih harus terus berusaha terutama untuk karya-karya ilmiah. Saya masih berusaha bagaimana bisa menjadi guru besar dan bisa bermanfaat bagi orang lain di universitas ini. Untuk itu, alhamdulillah bulan ini saya punya publikasi internasional terindeks scopus, saya terus berupaya supaya saya punya karya ilmiah sebanyak mungkin dan tentunya bermanfaat. Tinggal itu upaya yang terus saya lakukan untuk menjadi guru besar, karena kalau dari persyaratan yang lain alhamdulillah sudah cukup. Alhamdulillah dalam upaya ini, universitas juga sangat membantu saya dan tim dalam upaya-upaya pencapaian itu. Untuk saat ini publikasi penelitian saya sudah 127 diantaranya 2 sudah terpublikasi di luar negeri dan scopusnya 1, tapi saya butuh sekitar 200-an angka kredit penelitian, karena saya lektor kepala golongan 4A,” ungkapnya dengan senyum khasnya.

Dalam semangatnya menebar manfaat untuk kampus tercintanya ini, Dr. Amiruddin telah meraih banyak kepercayaan dan prestasi. Selain menjabat sebagai sekretaris LPPMP Untad sejak 2017 hingga sekarang, ia pun pernah menjadi ketua Prodi Pendidikan Fisika (2004-2008), sekretaris PSG (2007-2012), ketua panitia sertifikasi guru (2013-2016), ketua tim akreditasi institusi, ketua tim penyusun Rencana Strategi Universitas 2020-2024, ketua tim penyusun draft Permenristekdikti tentang standar pelayanan minimum Untad, ketua tim penyususn visi misi Untad 2020-2045, ketua tim penyusun rencana strategi Bisnis Untad 2020-2024, tim penyusun draft Permenristekdikti tentang pembagian tugas jabatan di lingkungan Untad, sekretaris panitia pemilihan Rektor 2019-2023, Auditor mutu nasional dan instruktur nasional SPMI. Vv