Orang Gila VS Orang Gila

Oleh: Adrian Christianto Katili*

 

“Orang Gila, orang gila, orang gila.” anak-anak itu terlihat sangat senang denganku. Aku pun senang dengan mereka, senang karena ada yang menyukaiku, senang karena ada yang peduli denganku. Aku tertawa dan menari-nari, mereka tampak semakin bahagia.

Perkenalkan namaku Hendri. Namun aku biasa dipanggil gila oleh orang-orang di sekitarku. Setiap pagi aku selalu melakukan hal yang sama

“Woy orang gila ngapain kamu di depan rumah gue!” aku memegang barang yang ku dapatkan dari depan rumah orang itu

“Itu barang gue! Balikin!” ia merampas ban sepeda rusak yang kuambil dari depan rumahnya

“Pergi loe!” ia mendorongku

“Dasar orang gila,” batinku. Apa yang salah dengan orang itu? setelah aku pergi dari situ ia kembali meletakkan barang tak terpakai itu di depan rumahnya. Sudah sekitar dua minggu benda itu teronggok begitu saja di sana. Menjadi sampah yang tak pernah ia buang atau singkirkan.

***

“Hendri! Hendri!” wanita itu memanggilku dari jauh. Aku mulai berlari ketakutan

“Hendri! Elo mau kemana!” ia berteriak sambil berlari menuju tempatku berdiri.

Sebagai satu-satunya orang waras di lingkungan itu, aku selalu menjadi incaran orang-orang gila yang tak senang akan keberadaanku. Setiap hari aku terus dikejar oleh orang-orang yang iri akan kewarasanku. Apa yang salah dengan wanita itu? kenapa ia selalu saja mengejar-ngejarku setiap hari. Aku berlari semakin kencang, aku menoleh ke belakang tampak wanita itu tertinggal jauh. Aku berhenti dan mengatur nafasku lalu tertawa karena kali ini adalah rekorku yang kesepuluh sebagai pemenang lari jarak menengah

“Mau lari kemana loe?” seorang pria menutup kepalaku dengan karung. Gelap, aku tak dapat melihat apa-apa. Aku dipaksanya berjalan mengikuti mereka. Sekitar setengah kilometer, mereka lalu berhenti. Karung yang menutupi kepalaku dibuka. Tempat yang tak asing lagi buatku

“Hendri kamu kemana aja, nak?” seorang wanita paruh baya memelukku.

“Mama kangen sama kamu. Kamu jangan pergi lagi, nak. Ibu kesepian tanpa kamu dirumah ini.”

Aku melihat sekeliling. Aku dikelilingi orang-orang yang dulunya kupanggil keluarga. Aku tersenyum sumringah, bagaimana bisa aku pernah tinggal di rumah sakit jiwa ini

“Ngapain lagi kita harus ngurusin dia, Ma? Dia itu udah nggak waras, Cuma bikin malu keluarga kita aja tau!” seru seorang perempuan yang tadi mengejarku

“Kamu nggak boleh gitu, Riska. Biarpun keadaannya sudah seperti ini dia itu tetap kakak kamu,” wanita paruh baya itu tersenyum padaku.

Aku terkekeh. Bagaimana mungkin wanita sinting ini bisa menjadi adikku?

“Orang Gila,” kataku terkekeh.

Laki-laki yang dari tadi menjagaku lalu menamparku. “Kita pasung aja dia Ma! Supaya dia nggak kabur-kabur lagi!” serunya emosi.

“Jangan Hendra! Kurung aja dia di gudang tapi jangan pasung dia! Kamu ingat kan kalau terjadi apa-apa sama dia kamu nggak bakal dapet apa-apa nantinya.”

Lelaki itu lalu memaksaku berdiri. Lalu di bawanya aku di sebuah tempat kumuh dan gelap. Aku didorongnya. Ia mengunci pintu dari luar.

***

Seberkas cahaya masuk melalui sela-sela ventilasi ruangan ini. Aku duduk di pojok ruangan. Tak pernah habis pikir olehku kenapa aku bisa dilahirkan di keluarga yang tidak waras. Ayahku sudah lama meninggal karena ketidakwarasannya. Ia selalu mencintai uang lebih dari dirinya sendiri. Bodohnya lagi semua uang yang sudah susah payah ia kumpulkan hanya diwariskan kepadaku. Begitu beruntungnya aku karena bukan hanya ayahku  yang gila, ibuku dan kedua saudaraku juga orang gila.

Ibuku hanyalah seorang wanita yang tergila-gila akan harta. Adik perempuanku adalah perempuan gila yang selalu telanjang bersama laki-laki. Sedangkan adik laki-lakiku adalah orang gila yang selalu menyakiti  dirinya sendiri dengan jarum suntik. Tak pernah ada kehidupan waras yang kualami di rumah itu.

Suara pintu terbuka pelan.

“Hendri ayo makan dulu,” wanita itu masuk dengan membawa sepiring nasi dan telur

“Mama suapin ya?”  katanya lagi, lalu mendekatkan sesuap nasi ke mulutku.

Aku menghamburkannya lalu tertawa.

Apa yang dia pikirkan? Aku bisa makan sendiri. Memang wanita gila,” batinku.

“Kamu nggak boleh gitu. Kamu harus makan,” Ia kembali menyuapiku. Aku kembali mempermainkannya sambil terkekeh.

“Kamu ini bodoh ya! Sudah jadi orang gila masih saja merepotkan! Kamu pikir kami masih peduli sama kamu! Kalau bukan karena surat warisan ayah kamu yang bodoh itu aku nggak akan menjadi seperti orang bodoh” ia lalu membanting pintu itu dan meninggalkanku dalam keheningan.

***

Selama tiga hari mereka terus mengurungku dan memaksaku dengan cara apapun untuk menulis sesuatu yang tak kupahami. Dan untuk hari ini sepertinya ada yang berbeda. Biasanya wanita paruh baya dan laki-laki itu yang akan memaksaku. Namun hari ini tidak.

“Hari ini gue yang akan dapat warisan bokap dan loe harus mau tanda tangan?” bentak perempuan, yang dijuluki adikku.

Aku menggeleng dan menatap pulpen yang ia bawa. Perempuan itu kemudian tersenyum  lalu melepaskan ikatan di tanganku. Aku mengambil pulpen dari tangannya dan mencoret-coret kertas itu

“Orang gila, orang gila, orang gila,” ledekku.

“Loe cari mampus ya?” ia hendak menamparku. Namun kutangkis dan mengajaknya menari, agar ia bisa menghilangkan emosinya. Ia memberontak mencoba mendorongku, tetapi ia terjatuh. Tanpa aba-aba aku meninggalkan rumah sakit jiwa itu dan keluar dari sana dengan langkah tertatih. Aku berjalan tanpa arah dan tujuan.

Berbagai tatapan orang-orang gila kembali menjadi menyorotiku. Aku tak pernah habis pikir dengan semua orang-orang ini. Mereka menganggap diri mereka waras dalam kegilaan mereka. Mereka membunuh diri pelan tanpa mereka sadari. Mereka menyiksa diri mereka sendiri tapi mereka terus melakukannya.

Banyak hal di tempat ini yang membuat kewarasan orang memudar. Dari jauh aku melihat orang-orang gila, keluargaku, mulai mengejarku. Aku kembali berlari hingga sebuah benda besar menghampiriku dengan cepat. Semuanya putih. Tak ada lagi tempat yang dipenuhi dengan orang gila. Hanya ada aku dan kewarasanku.

***

*) Lahir di Ujung Pandang, pada tanggal 09 September 1998. Mahasiswa Prodi Bahasa Inggris, FKIP Untad.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here