Amplop Jingga

Oleh: Ikerniaty Sandili

 Pada saatnya, semua yang hadir akan pergi

Semenganga bagaimana pun luka,

pun yang paling meranggas dada

Apalagi hanya persoalan rasa yang memenuhi hati.

 

wajah boleh saja tersenyum

 

(A.)

Aku membolak-balikkan lagi amplop jingga di tanganku. Mencari nama pengirimnya. Ini sudah kali ketiga aku mendapatkan amplop jingga itu. Pesan pendek, dengan tulisan tangan yang sama. Tentu saja aku menebak pengirimnya pastilah orang yang sama. Aku melipat kembali kertas coklat susu, memasukkan ke dalam amplop jingga itu lagi. Amplop jingga itu kuletakkan dalam kotak kecil, di samping komputerku.

Aku meninggalkan rumah bersama bebep, motor matic yang baru saja lunas cicilannya di dealer. Aku mengabiskan separuh gajiku sebagai kuli tinta lepas di sebuah perusahaan media untuk memilikinya. Sebenarnya gaji para jurnalis cukup tinggi. Tapi karena aku baru akan menulis, jika aku suka, jadi baru bisa menerima honor. Itu pun saat aku lagi jalan-jalan. Aku lebih suka melaporkan sebuah tempat wisata, ketimbang berita-berita kriminal yang sering diburu Aarunya, jurnalis senior di tempatku bekerja.

Ia jarang sekali tersenyum, kecuali sedang membaca buku. Itu saja baru belakangan ini. biasanya ia membaca ragam tulisan kriminal, isu-isu politik, pokoknya yang keras-keraslah. Seperti pagi ini ketika aku mendorong pintu kaca kantor redaksi, dan mendapatinya serius membaca sebuah buku, sejurus kemudian ia tersenyum.

“Hei Bang. Tumben senyam senyum baca buku? Biasanya menggerutu. Mengutuk para bedebah yang berhasil membunuh sekian orang. Memaki para koruptor. Buku apa sih?” aku mendongak ke arahnya.

“Lehermu aku lihat sekarang sudah berwujud jerapah. Biasanya juga kamu tidak peduli,” ucapnya. Ia menutup buku di tangannya, matanya memelototiku. Aku menarik leherku.

“Hahahaha, bisa aja bang. Mana ada jerapah imut nan cantik jelita sepertiku?”

“Cih. Cantik, imut, kata-kata kotor.”

“Hah! Sial sekali aku mengganggumu, Bang. Bang Aryo, ada?”

“Kau ingin menggoda Bang Aryo? Pergilah ke ruangannya. Dia sepertinya lebih butuh digoda daripada aku.”

“Dasar tua bangka!” aku meninggalkan Aarunya. Kalian lihat kan betapa belagunya manusia itu? Pantas saja belum menikah sampai sekarang. Parahnya ia tidak mau mengalah pada bocah sepertiku.

Aku mengetuk pintu ruang kerja Bang Aryo, Pemimpin Redaksi. Ia pemilik wajah teduh, yang kata-katanya aduhai, betapa lembutnya, primadona para jurnalis cewek yang tidak lebih dari 3 orang, tambah aku genap 4.

“Lama sekali kau tidak menulis? Lama mengurung diri?” Bang Aryo menyapaku dengan teguran yang memang sudah selayaknya menyadarkanku, bahwa aku bisa saja dipecat hari itu juga.

“Tenang. Kali ini aku membawakanmu 3 draf tulisan sekaligus. Ini untuk menutupi beberapa edisi belakangan aku tidak menulis. Aku jamin, Bang Aryo akan suka. Aku menulisnya dengan hati.” Kuserahkan draf-draf tulisanku. Matanya terbelalak. Berkali-kali pandangannya berpindah antara naskahku dengan wajahku yang imut ini. Saking imutnya, ibuku pengen muntah. Katanya ia mual melihatku yang suka keluyuran siang hari, dan menyebabkan kulit wajahku kusam.

“Kamu yakin? Sudah memikirkan matang-matang?”

Aku mengangguk mantap. “Memang untuk sekarang aku belum terlihat mahir. Tapi dengan kemampuan menulisku, lama kelamaan juga semua akan melihat buktinya.”

“Kamu itu penulis travel blog. Tiba-tiba beralih ke review kosmetik, gak salah?”

“Tapi tulisanku bagus, kan?”

Bang Aryo mengangguk. Tapi matanya masih meminta penjelasan. Ia terus memelototiku. Orang-orang di kantor ini memang hobi memelototi orang.

“Aku tertekan. Ibuku setiap hari bicara soal skin care, dan kawan-kawannya itu. Yah, daripada aku menjadikan skin care itu beban, mending menjadikannya sumber uang, kan?”

“Gak logis.”

“Ah Bang Aryo. Bang Aryo orang pertama di jagat bumi Allah ini yang mendukung apa pun keputusanku. Kenapa begitu mencurigaiku? Sesekali mencernalah dengan perasaan. Tidak melulu jurnalis itu bicara soal logika, Bang.”

Sebenarnya Bang Aryo ini lebih cocok kupanggil Om. Usianya tidak jauh berbeda dengan almarhum bapak. Tapi sejak masuk di kantor ini, aku terbawa rekan-rekan kerjanya, memanggilnya Abang juga. Aku dengar dari ibu, Bang Aryo teman bapak, meski bukan kawan karib.

Bang aryo membolak balikan naskahku. Ia akhirnya menggeleng mantap. Aku keluar dari ruangannya dengan wajah lesu. Bulan ini kilometer jalan-jalanku mesti ditunda. Aku bergegas pulang. Aarunya kulihat sedang bersiap-siap.

“Hei, kenapa?” tanya Aarunya. Aku menggeleng. Sedang tidak punya nafsu berdebat dengannya. Aku hanya ingin pulang, menyeduh kopi, mengunci pintu kamar, memutar playlist musikku, lalu membaca buku.

“Mau ikut liputan denganku?” aku menggeleng. Tapi gelengan kepalaku percuma. Telah sepersekian detik lebih dulu ia menarik tanganku, lalu membonceng di jok belakang bebep. “Kau yang bawa motor, ya.”

Aku tak berdaya. Ia menunjukan alamat yang kami tuju. Selama ini, tidak pernah ada laki-laki manapun yang duduk bersama bebep. Penumpangku semuanya perempuan. Ah bebep, jangan marah padaku, ya.

“Bang, kamu liputan apa sih?”

“Kasus penyuapan,” jawabnya anteng, sambil bersiul. Dipikirnya jalan raya ini hutan, dimana burung-burung akan datang menyahuti siulannya. “Seorang politisi yang menyogok pegawai administrasi Kampus untuk memanipulasi dokumennya. Ia ingin beralih profesi menjadi dosen.”

“Oh ya?” aku penasaran dengan kasus ini. kenapa politisi itu ingin menjadi dosen?”

“Yap. Politisi ini seorang ibu yang masih cantik. Punya seorang anak perempuan, yang dengar-dengar penulis lepas. Kita akan tahu nanti jika sudah di lokasi.”

Perasaanku mulai tidak enak. Bebep diperintahkannya berbelok ke kiri setelah lampu merah Jalan Pandjaitan. Seingatku kantor ibu ada di jalan yang sama. Meski aku tidak pernah berkunjung.

“Bang, apakah nama politisi itu Aftah Rahmi?” aku menatapnya dari kaca spion. Memastikan matanya ketika menawab tanyaku. Aku yakin, mata lebih mampu menjawab. Itu kenapa orang-orang di kantor suka memelototi orang.

“Tepat sekali! Kamu memikirkannya selama perjalanan? Bagaimana bisa kamu menebaknya?”

Aku tidak menjawabnya. Dadaku bergemuruh kencang. Aku tahu apa yang sedang aku lakukan. Mengantar Aarunya, seorang wartawan senior menemuiku ibuku. Aku juga sudah dapat menerawang apa yang akan terjadi. Tidak ada yang bisa lepas dari investigasi Aarunya, si mata belati tajam.

Kantor ibu sepi. Seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tapi mobilnya menempati lokasi parkir. Aku mengikuti Aarunya di belakang. Hatiku semakin kacau. Aku yakin ibu tidak bersalah. Mungkin ini hanya prank. Tapi dugaanku berbalik arah. Aarunya membawa bukti. Ia menyodorkan bukti-bukti itu dengan sopan di depan ibu. Ibu akhirnya mengangguk, mengiyakan dirinya bersalah. Aarunya puas, ia merekam segala pengakuan ibu. Lalu mengajakku  mengantarnya kembali ke kantor.

“Politisi itu terbukti bersalah,” Aarunya tersenyum puas. Aku hanya mengangguk. Kurasa pilihanku tepat tidak menampakkan wajahku di depan ibu. Bagaimana perasaannya jika tahu, putri semata wayangnya ini, yang membawa wartawan itu?

Aku masih menemani Aarunya hingga ke ruang kerja Bang Aryo. Tapi di sana tidak ada siapa pun. Beberapa dokumen sedikit berhamburan di meja kerjanya, termasuk naskah tulisanku dan sebuah amplop jingga. Kulirik alamat tujuannya, alamat rumahku. Pikiranku langsung tertuju pada amplop jingga yang sering kuterima. Cepat kuraih amplop jingga itu dan memasukkannya dalam saku jaketku.

“Bang, kalau misalnya dalam kasus-kasus yang kau liput, pelakunya adalah orang yang kau kenal baik dan dekat, apa yang kau lakukan?” aku menarik tangan Aarunya. Pria itu menghentikan langkahnya.

“Langit, kebenaran tetaplah kebenaran. Sekalipun itu orang-orang terdekatmu.” Itu kali pertama Aarunya memanggil namaku, Langit. Ia melepaskan tanganku, lalu mengobrak-abrik isi ranselnya. Mencari telepon genggamnya.

“Hendak menelpon siapa?” aku memburunya. Wajahku lesu.

“Bang Aryo, kau kenapa?” aku menggeleng. Setelah teleponnya mati, wajahnya kini yang lesu dan kusut. Ia mondar-mandir seperti setrikaan.

“Ada apa? Bang Aryo bilang apa? Kenapa langsung mati sebelum kau bilang apapun?” buruku dengan wajah yang kini menegang.

“Bang Aryo minta kasus ini ditutup tanpa alasan. Tidak boleh diberitakan. Aneh.”

“Bang aku pulang dulu ya.” Aarunya hanya mengangguk. Aku tahu ia masih bertanya soal sikap bang Aryo yang tidak seperti biasanya. Aku menelpon ibu. Ia di rumah. Segera kupacu bebep menuju rumah. Ingin segera kutanya langsung pada ibu. Mungkin ia terpaksa, dijebak, atau ada sesuatu yang tidak ia sampaikan pada Aarunya. Tapi langkahku terhenti ketika kudapati seorang laki-laki menenangkan ibu.

“Aku jamin berita ini tidak akan diekspos mediaku juga media lainnya. Kau dengar sendiri aku menelpon wartawan itu untuk berhenti dengan kasus ini, kan?” laki-laki itu kembali menenangkan ibu. Aku mendekat dengan langkah pelan.

“Kenapa kau baik sekali, Aryo?” suara ibu kudengar tenang.

“Aku masih yang dulu, Aftah. Masih menunggumu. Aku mengirimimu amplop Jingga, kau tidak membacanya?”

Ibu memilih diam. Bingung. Aku menyadari sesuatu. Amplop jingga yang ada dalam saku jaketku. Kubuka amplop itu. Tulisannya kukenali, tulisan tangan yang sama dengan surat dalam amlpop jingga yang kuterima.

“Apakah amplop jingga itu seperti ini? dengan tulisan begini?” aku memperlihatkan amplop di tanganku, dan mendekat pada pasangan itu.

“Langit…”

Aku tidak merespons Bang Aryo yang kaget denganku dan amplop di tanganku.

“Aku yang menerima amplop-amplop jingga itu. Setiap kali Pak Pos mengantar, ibu selalu tidak di rumah. Tadi aku menemani Aarunya ke ruang kerja Bang aryo, kudapati amplop yang sama. Jangan bilang, Bang Aryo meminta Aarunya menutup kasus Ibu karena ibu kekasih hatimu?”

“Kau sudah tahu, Senja?”

Aku mengangguk. “Aku menemani Aarunya, wartawan itu, menemui ibu. Tapi tidak ikut masuk.”

Bang Aryo masih mematung. Tangannya masih menggengam tangan ibuku, si politisi itu. Aku mengerti mengapa ibu sering memintaku dengan halus untuk meninggalkan dunia pemberitaan.

***

Aku, Langit Senja. Penulis lepas yang membaca seluruh syair-syair jurnalis ternama di kotaku dalam amplop jingga untuk ibuku. Aku tahu Aarunya sedang kebingungan akut. Dan aku masih belum selesai berpikir. Mana ada cinta seperti ini? setia tapi membunuh kebenaran, juga dapat mengorbankan idealisme.

Aku masih memang amplop jingga itu.

 

Senja pun mengutuk cemburu

Menawarkan warna di ujung tunggu

 

(A.)