Andriawan Marcelino, Peraih Berbagai Macam Penghargaan

Marcel, sapaan mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Tadulako (Fahum Untad), yang memulai kuliahnya pada tahun 2016. Lahir di Bumi Kaktus pada 4 Agustus 1998, dari pasangan Daju Abdullah (ayah) dan Minarti (Ibu).

Mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi tersebut adalah bungsu dari Jefri dan Della, kedua kakaknya yang telah bekerja dan bahu membahu bersamanya memenuhi kebutuhan keluarganya, terlebih setelah ayahnya tidak lagi bekerja sebagai buruh.

Di Kampus Kaktus, nama Marcel tidak lagi asing didengar. Mengikuti kompetisi menulis dan lomba serta berpartisipasi dalam ragam event, alumni SDN 3 inpres Birobuli itu kerap kali membawa pulang kemenangan. Termasuk baru-baru ini ia menjadi salah satu pembicara dalam forum international, di Kuala Lumpur, Malaysia. Ia berbagi pengalaman tentang bagaimana remaja memiliki peran dalam negoiasi perserikatan bangsa-bangsa.

Tidak hanya itu, sejak SMP, Marcel yang tinggal di Jalan Anoa 1 Lorong Pemuda Pancasila, Palu, memang sudah mulai terlibat berkegiatan. Tidak heran kemampuannya yang terus terasah membawanya memenangkan berbagai macam lomba.

Pemuda yang bercita-cita kuliah Magister di Negara Eropa itu, pernah mendirikan Headline Creative Communication dalam Ikatan Duta Sanitasi Sulteng – Periklanan Majalah Sanitasi Remaja (2011-2012). Peraih juara II Poster Pemilihan Duta Sanitasi Sulawesi Tengah tahun 2011, juga pernah menjadi ketua Historical Student Education Indonesia (2014-2015), Ketua Ikatan Duta Sanitasi Sulteng (2015-2016), Penggagas Program #Friendsfor future (2015-2016), serta Sekretaris Umum Forum GenRe Sulteng (2016-2019).

Perjalanannya menjadi mahasiswa di Untad berawal dengan tidak ada rencananya ia kuliah Untad. Ia memang memilih Untad sebagai pilihan ketika mendafar di SNMPTN. Akan tetapi di waktu yang sama, ia diterima di salah satu Perguruan Tinggi di Pulau Jawa. Juara 1 Lawatan Sejarah Daerah Regional Sulawesi (2015) itu, menemukan beberapa kendala yang mengharuskannya memilih Untad.

“Awalnya saya tidak berencana kuliah di Untad, meski kampus ini menjadi salah satu pilihan saya di SNMPTN. Saya diterima di salah satu PTN di Jawa, tapi karena beberapa halangan, saya memutuskan untuk kuliah di Untad, Fakultas Hukum sebagai satu-satunya pilihan saya. Karena pilihan itulah, saya selalu mendengar stigma orang-orang yang menyayangkan mengapa saya memilih Untad,” ujar pria berkaca mata itu.

Pemenang pertama Duta Sanitasi Nasional (2015) tersebut mencoba membuktikan bahwa Untad adalah salah satu PTN terbaik di Indonesia. Ia mengamati bahwa dewasa ini, ia melihat anak-anak tidak ingin bersekolah di daerahnya sendiri. “Saya ingin membuktikan bukan dari fasilitas Untad, tapi dari kampus-kampus lain, dengan lomba atau kegiatan baik tingkat Provinsi maupun tingkat nasional bahkan tingkat international. Sampai disini, saya mempelajari satu hal. Bahwa tidak ada satu manusia atau makhluk hidup pun yang bisa menentukan kualitas bagus atau tidak, selain manusia itu yang menentukan kualitas dirinya,” ujarnya sambil tersenyum.

Di kampus Untad, Marcel mulai mengikuti berbagai lomba, termasuk lomba debat dan pulang membawa kemenangan. Ia dan timnya merupakan lawan debatnya dari kampus yang berbeda ketika SMA. Pada 2017, ia dan tim menyabet juara I Debat Konstitusi Mahkamah Konstitusi tingkat Provinsi Sulteng. Satu tahun selanjutnya ia mendapatkan juara 1 debat MPR RI tingkat regional, dan juara 1 debat mahasiswa Indonesia tingkat regional kopertis IX, pendebat terbaik I debat mahasiswa Indonesia tingkat regional kopertis IX, dan juara III Kompetisi Debat Mahasiswa Indonesia tingkat regional.

Tidak hanya itu, laki-laki yang tanpa sengaja kata-katanya menyuntikkan motivasi bagi orang lain, pernah menjadi juri LBDI Provinsi Sulteng, Indonesia Delegated In International Student Exchane Indonesia – Malaysia. Tahun 2019, ia mendapatkan Silver medali, International Youth Research Championship-Malaysia, Panelis in International Youth Meeting for SDGs 2020 – Hongkong, dan Best Paper in AYIMUN-Malaysia.

“Pertama kali ikut lomba karya tulis, tahun 2015, saat SMA. Saya hanya coba-coba tapi akhirnya menang. Alhamdulillah, Juara 1 Karya Ilmiah Remaja Museum Sulawesi Tengah. Saya mulai semangat dan mematahkan stigma-stigma yang ada. Kemudian saya sadari bahwa sekadar menulis itu tidak cukup. Harus bisa berbicara atau berkomentar di depan umum.

Saya lalu ketemu dengan teman debat saya dari SMA. Saat SMA kami sama-sama lawan debat berbeda sekolah. Lucunya di Untad, kami bertiga di Fakultas Hukum menjadi satu tim. Ada pelajaran hidup lagi yang saya dapatkan. Bahwa sebenarnya lawan itu tidak ada. Karena semuanya belum tentu, bisa jadi hari ini lawan, tetapi besok malah jadi kawan dan sahabat kita,” ungkap Marcel.

Mengenai kesempatan menjadi pembicara di Malaysia, yang juga merupakan capaian terbesarnya hingga saat ini, lelaki perfeksionis itu ingin Untad semakin terkenal tidak hanya di tingkat Nasional tapi juga Internasional.

“Ada kejadian lucu yang saya alami ketika di Malaysia. Orang-orang bertanya pada saya what came form? Saya jawab Tadulako University. Hah? Dimana itu? Tanya mereka lagi. Mereka bingung. Yang mereka kenal hanya Universitas Indonesia, ITB. Saya kemudian bilang, di Indonesia banyak sekali Perguruan Tinggi terbaik. Salah satunya di Universitas Tadulako. Saya tidak ragu untuk  bilang kalau Untad itu salah satu yang terbaik. Buktinya, mahasiswa Untad sedang bersama mereka,” katanya penuh semangat.

Menulis ia pilih sebagai jalannya berkeliling bumi Tuhan ini, bermula ketika ia menjadi salah satu mahasiswa yang menerima beasiswa Bidikmisi. Ia memang bayar pajak, tapi ia merasa perlu melakukan sesuatu untuk negara sebagai bentuk rasa terima kasih. Karya tulis membuka jalannya, menjadikan ia seorang manusia keren yang terus mengemukakan ide-idenya, dan pulang ke tanah Kaili dengan kemenangan.

Hal mendasar lainnya, ungkap marcel, adalah motivasi. Yang pertama selalu memotivasinya adalah orang tuanya. Ibunya layaknya motivator unggul baginya, menjadi tameng ketika ia kena marah bapak. Ibunya, adalah sosok paling sabar yang ia temui. Yang memberikan waktunya setiap hati 1 sampai 1,5 jam untuk mendengarkan si bungsu bercerita apa saja.

“Mama saya selalu bilang setiap kali saya ikut kompetisi, ketika kita punya peluang, peluang itu harus kita buka dengan kunci kita. Ketika peluang itu terbuka, apa yang kita harapkan ada di dalamnya. Mama saya juga bilang, kita hidup harus punya tujuan. Biasanya kan orang bilang, ah saya malas ikut lomba nanti kalah, nanti capek, inilah itulah. Ibu saya selalu menyemangati satu tujuan yang dia bilang percaya saja Allah itu punya banyak pintu. Kamu cuma punya satu kuncinya. Tapi yakin kalau kamu masukkan kunci itu di pintu yang tepat, pasti di dalamnya akan banyak sekali jalan keluar. Tapi jika kunci itu belum masuk di pintu yang tepat, jangan paksakan ia terbuka. Karena yang akan kamu dapatkan tidak sesuai dengan keinginanmu.

Sementara sosok bapak baginya cukup digambarkan dengan 3 kata, disiplin, tegas, dan non kompromi. Cara bapaknya menegur juga lumayan unik. “Kalau saya belum pulang ke rumah karena masih kerja tugas, bapak saya akan bilang seperti ini Nak, masih tahu jalan pulang kan?

Alumni SMPN 9 Palu itu menemukan banyak sekali kesulitan saat ingin menulis juga mengikti lomba. Diantaranya mata kuliah. Terlebih pada lomba debat yang ia ikuti. Ia dan tim latihan hingga jam 3 atau 4 subuh, itu sudah termasuk menyusun skenario mosi, dan mendiskusikannya. Kerap kali ia bolos kuliah, seminggu atau dua minggu tidak mengikuti perkuliahan.

Dari sekian banyak kesempatan yang membuatnya semakin percaya diri, Marcel pernah merasa dirinya berada di titik minder. Kala itu ia mengikuti lomba pemilihan duta GenRe Sulteng. Di benak kebanyakan orang, duta adalah representasi cantik, ganteng, langsing, tinggi. Bahkan ibunya sampai berkali-kali memastikan keputusannya, meski akhirnya memberi dukungan penuh.

“Saya pernah merasa minder dan tidak percaya diri saat mengikuti pemilihan duta Genre 2017, karena tampilan fisik saya yang gemuk. Mama saya juga sempat tidak yakin, sampai kemudian ia bilang, apapun yg kamu dapatkan jangan pernah kecewa. Saya kemudian menargetkan dapat juara 1. Tapi saat pengumuman saya juara 2. Saya kecewa. Disitu saya sadar, bahwa untuk ajang-ajang seperti ini memang tampang nomor satu. Saya legowo ketika mama saya bilang, percayalah nak, rezeki tidak akan tertukar.

Beberapa waktu kemudian, saya lalu ditelepon pihak BKKBN untuk wakili juara pertama ke tingkat nasional. Orang-orang mulai ngomongin saya. Kata mereka untuk ke tingkat nasional, saya bayar. Karena tidak mungkin saya yang peringkat 2, dan tampang standar ini terpilih. Tapi saya kembali bertekad, bahwa menjadi duta bukan hanya perosalan ganteng dan cantik saja. Di tingkat nasional, berempat dari Sulteng, nama saya yang masuk 10 besar. Saya cukupkan harapan saya sampai disitu. 9 orang lawan saya itu, keren-keren semua. Saya bilang ke diri saya, okeh sampai disini. Saya mundur. Wassalam. Tapi siapa sangka saat nama yang masuk 5 besar dibacakan, saya tidak ada pada urutan kelima. Saya pikir keempat, tapi hasilnya adalah saya peringkat 3,” tutur alumni SMA Labschol untad palu panjang lebar, sambil mengenang moment itu.

Pemilik slogan hidup, ketika kamu berdiri di satu titik yakinlah Tuhan ada belakangmu dan tidak akan meninggalkanmu, pada 2016 juga menjadi Indonesia Delegated In International Conference Of Law Of The City and Air Space, Netherland, Belanda, dan Asia Delegated International Youth Research For Socail and Economic Preneur, Turkey.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here