“CADAR”; MAKNA SPIRITUAL SELEMBAR KAIN PENUTUP WAJAH

Oleh: Mahpuddin, S.S., M.Si*)

Agama (Islam) adalah jagat simbolis yang kaya makna. Fungsinya sebagai medium penghubung antara pikiran & hati dengan realitas transenden yang tak terbatas. Simbol memiliki kandungan makna hirarkis, meliputi; fiqhi, syariat, ilmu (hik

mah), cinta dan taqwa. Pada level terbawah, makna dihubungan dengan fiqhi yang strukturnya berisi formula hukum yang bersifat; rigit, pasti, dan objektif. Formula konstruksinya didasarkan pada kaidah-kaidah syariat dengan sistem interpretasi berbasis penalaran deduktif (mantiq). Kesadaran beragama pada level ini selalu dipahami dalam kerangka hukum yang berisi perintah dan larangan. Beragama secara “fiqhi” berlaku mutlak, namun tidak bisa mentotalisasi keseluruhan jagat makna simbolis agama. Pada umumnya kita mengalami stagnasi pada level ini.

Akhir-akhir ini muncul polemik mengenai kedudukan hukum (fiqhi) cadar dalam Islam. Muatan diskursusnya tampak melingkar-lingkar dise

putar kategori; halal-haram, makruh, muba, sunnah dan wajib. Berbeda dengan itu, beragama pada level ilmu (hikmah) yaitu tahapan refleksi atas kesadaran fiqhi menuju ke level cinta (mahabbah). Tanpa ilmu (hikmah), kiranya sulit untuk dapat beranjak ke jenjang kerohanian berikutnya. Hal yang lumrah bahwa para sufi master—adalah para ahli fiqhi, praktisi syariat yang taat sekaligus sebagai petualang pencari kebijaksanaan. Sepanjang petualangan, mereka mencapai iluminasi (hidayah) yang kelak mengubahnya menjadi seorang penghayat & pemabuk cinta Ilahi. Kesadaran cinta melampaui formula-formula hukum (fiqhi).

Formula fiqhi tidak lagi relevan menilai aksi voluntarisme Abu Bakar Assiddiq yang mewakafkan seluruh hartanya buat perjuangan “fii sabilillah”. Bukankan ia memiliki kewajiban syari menafkahi anak dan istrinya? Apa pandangan fiqhi mengenai sikap Mansur Al-Hallaj yang memaafkan orang-orang yang menyiksa dan memutilasi tubuhnya secara pelahan-lahan sampai mati karena ucapannya yang kontroverisal tentang “Anaa Al-haq” (Aku sang kebenaran). Begitu pun Suhrawardi, Syekh Abul Latif, Syekh Siti Jenar yang rela dieksekusi mati demi sebuah keyakinan. Atau Socrates, filsuf besar Yunani yang menerima hukuman mati dengan meminum racun.

Bagaimana pula menjelaskan praktek pengasingan diri para pertapa di kaki pegunungan Himalaya, atau petualangan tanpa tujuan para sufi dan pejalan spiritual. Hidup sebagai pengembara, menggelandang di gua-gua, di hutan belantara, di lembah-lembah sunyi dan di alam liar padang pasir. Setiap hari, siang dan malam menghabiskan waktu berzikir di sepanjang khalwatnya. Melakukan pengasingan diri total—menjauh dari bayang-bayang manusia dan hiruk-pikuk kesibukan dunia modern. Bagaimana memahami para pencinta sunnah rasul yang tetap setia melaksanakan misi dakwah walau harus meninggalkan keluarga dalam segala keterbatasannya? Bahkan Nabi Muhammad mencampakkan kemewahan sebagai pedagang sukses, lalu memilih jalan dakwah dan kemiskinan radikal?

Dalil-dalil rasional akan sulit memahami cara dan laku hidup mereka. Nalar kritis akan terguncang dalam kebingungan untuk menakarnya sebagai ekspresi kewajaran hidup. Cinta ke-Ilahi-an yang memenuhi jagat batin, telah mengubah keseluruhan cara pandangnya tentang arti agama dalam hidup. Agama lalu dipandang lebih dari sekadar kumpulan perintah dan larangan, tetapi sebagai instrumen musikal yang mengantarnya pada momen ekstase penyatuan dengan Kekasih sang Ilahi.

Ajaran dan tarekat hidup para eksentrikus di atas mungkin bukan untuk dinalar, diperdebatkan, alih-alih dijadikan “role-model” bagi masyarakat umum. Kemunculannya di ranah sosial bukan mencari panggung popularitas”—alih-alih menjadi manipulator agama seperti umumnya kelakuan busuk para politisi. Mereka selalu “menyembunyikan diri” dan hanya butuh sedikit “ruang toleransi untuk hidup” seadanya—tidak diusik atau diganggu agar bisa lebih intensif menyelam lebih dalam makna batin dalam agama. Para pemakai cadar, boleh jadi termasuk dalam kategori ini. Mereka adalah kaum “ghuroba” (kelompok minoritas terasing) yang hadir di sekitar kita dan sering disalah-pahami.

Mereka adalah para “pertapa” di abad modern yang sedang menempuh jalan “pengasingan” diri sosial di tengah arus kerumunan massa yang sejak lama kehilangan visi ke-Ilahi-an. Mengasingkan tubuh biologis dari tatapan ekstase selera rendahan. Melampaui kesadaran ragawi, di mana urusan fashionability telah terlampaui sehingga saatnya ditutup rapat dari lirikan mata jahil kaum pria. Mereka ingin dikenali dalam tatapan mata batin sebagai makhluk rohani yang sedang dalam proses “penyucian” jiwa.

Untuk memahami mereka, ada baiknya kita memakai pendekatan tertentu seperti cara kerja studi fenomenologi. Suatu pendekatan riset alternatif yang kini menjadi primadona khususnya dalam studi komunikasi interaktif kontemporer. Sekurang-kurangnya ada dua prinsip kekhasan studi ini; (1) “bracketing” yaitu tahapan menangguhkan segala “prasangka” yang terkait pengetahuan di masa lalu mengenai subjek penelitian. Bersamaan dengan itu, peneliti mesti melakukan reduksi eidetis—yaitu sikap tidak buru-buru menilai fragmen-fragmen tindakan subjek yang cenderung berubah berdasarkan situasi aktual; (2) peneliti dituntut melakukan pengenalan dengan “intuition”. Suatu instrumen riset dalam fakultas kesadaran manusia—semacam daya kepekaan rasa yang muncul secara spontan melalui kedekatan dan keakraban intersubjektivitas. Kalau rasio bekerja dalam distansiasi, maka intuisi beroperasi dalam peleburan rasa. Pada momen ini peneliti akan memahami (verstehen) subjek dalam kehangatan, cinta, kepedulian dan empati.

Dalam filsafat intersubjektivitas, Martin Buber memperkenalkan konsep “I and Thou” (Aku dan Engkau). Perjumpaan Aku dan Engkau menciptakan sebuah pengalaman dialog, dimana dua subjek otonom saling membuka diri membentuk identitas “ke-kita-an atau peleburan horizon. Peleburan itu tidak dimaknai sebagai Aku mendeterminasi Engkau dan begitu pun sebaliknya. Peleburan itu adalah ruang pemahaman bersama, namun tidak bersifat total. Tetap tersisa ruang privat otonom di antara keduanya yang memungkinkan kesepahaman dan keakraban—sekaligus tercipta ruang perbedaan dan “keasingan”. Peleburan horizon adalah medan tegangan yang bersifat dinamis, tidak pernah selesai atau ketida-tuntasan. Dalam ketidak-tuntasan tersebut ada ruang misteri dimana Aku membiarkan Engkau tetap menjadi Engkau dalam keberlainannya.

Kata Rabiatul Adawiah—pencetus tarekat sufi “Mahabbah” (cinta)–pengalaman cinta telah melenyapkan jarak—-saat itulah Aku mengenali hakekat Iblis, namun sekaligus membiarkannya tetap menjadi Iblis dalam keberlainannya.

Cadar, memang bukan ukuran ketakwaan seseorang, tetapi bukan alasan untuk menafikan pengenalan dengan mereka. Boleh jadi di lubuk hati terdalam mereka tengah berlangsung gejolak cinta ke-ilahian, sehingga tidak tersisa ruang untuk memusuhi siapa pun—bahkan termasuk kepada pihak-pihak yang memfitnahnya sebagai penganut ideologi kekerasan. Secara pribadi banyak mengenal mereka sebagai penghayat agama yang tulus. Kalau pun ada aksi terorisme yang melibatkan pemakai cadar—tidak lalu bisa digeneralisasi. Mereka umumnya masyarakat biasa yang jauh dari gemuruh politik kekuasaan. Selembar kain penutup di wajahnya merupakan simbolis determinasi diri total kepada Yang Ilahi yang pemaknaannya tidak lagi terbatas sebagai perkara fiqhi belaka, tetapi sebuah penghayatan eksistensial yang menyiratkan pesan relasi cinta sakral antara hamba dan Tuhannya.

Mereka sepenuhnya sadar—beragama seperti itu tidaklah mudah di tengah-tengah lingkungan sosial yang cenderung menilainya sebagai praktek beragama yang tidak lazim. Memakai cadar adalah resiko dari sebuah komitmen eksistensial yang membawanya pada tegangan psikologis. Demi sebuah keyakinan, secara terpaksa harus melakukan distansiasi dimana jarak sosial terbentuk sekaligus pesan permaafan. Seolah2 hendak berkata “maaf, bukan bermaksud mengecilkan arti penting “kehadiran kalian” namun dengan cara ini aku bisa lebih fokus dan terasa dekat dengan “Yang Ilahi”.

Mungkin kita menilainya sebagai sikap individualistik yang mesti dikritisi. Secara spiritual para eksentrikus menjalankan fungsi kemanusiaan melalui jalan sunyi yang tidak dikenali kebanyakan orang. Melalui intensi kedekatan dengan Yang Ilahi, boleh jadi itu alasan tertunda datangnya “bencana kubro”–semacam murka Sang Pencipta atas kelakuan manusia modern yang sudah melampaui batas kewajaran. Dengan zikir, munajab dan doa-doa yang keluar dari hati yang suci, mereka sedang memulihkan luka-luka dan mengembalikan sistem metabolisme alam semesta demi terciptanya keseimbangan kosmik—wallahu ‘alam bissawab.

Ada baiknya kita lebih banyak melihat ke dalam guna refleksi diri. Suatu kisah, di atas sebuah bukit sunyi yang letaknya di pinggiran pusat kota. Tinggallah seorang pertapa bersama seorang muridnya. Setiap malam selepas khalwat, sang sufi berdialog dengan muridnya; “perhatikan baik2 kesibukan orang-orang kota di lembah sana—sejak pagi hari hingga larut malam mereka sibuk mencari nafkah, mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya—terperangkap, melingkar-lingkar dalam siklus rutinitas. Lahir, tumbuh dewasa, tua, sakit dan mati. Dalam siklus itu mereka mengalami suka-duka, canda-tawa maupun tangis dan derita—melingkar-lingkar dalam pusaran samsara yang tiada henti hingga tiba saat menemui ajalnya. Coba renungkan dalam-dalam, untuk tujuan itukah manusia lahir ke dunia ?

 

*) Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi FISIF UNTAD

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here