Dies Natalis Ke-19, Sanggar Seni Bahana Hidupkan Pertunjukan Teater

Ket. Foto: Salah satu adegan saat raja setan akan mengadili setan yang ketahuan berguru pada manusia (Foto: dok. Panitia)

Sabtu (02/11) Bertempat di Taman Budaya Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), Sanggar Seni (SS) Bahana tampilkan Lakon Zetan sebagai rangkaian dari Dies Natalis ke-19.

Dalam peringatan hari jadi Sanggar Seni Bahana ke-19 tahun, panitia pelaksana beserta pengurus memilih seni teater sebagai salah satu tangkai seni yang ditampilkan. Hal ini berkenan dengan semangat para anggota SS Bahana untuk terus menghidupkan teater di kota Palu.

Alasan Lakon Zetan dipilih pada pementasan tersebut, karena lakon tersebut menggambarkan jati diri para anggota SS  Bahana, yang notabene mahasiswa FKIP. Hal itu disampaikan  Rian selaku sutradara ketika diwawancarai awak Media Tadulako.

“Kami memilih lakon Zetan ini karena di dalam adegan-adegannya menceritakan tentang perjuangan seorang guru. Nah, Bahana itu sanggar yang ada di Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP, otomatis semua anggotanya memang dididik untuk menjadi guru. Sudah menjadi identitas kita,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Rian menjelaskan tentang pesan moral dari teater tersebut. Ia mengatakan bahwa manusia disadarkan untuk terus belajar.

“Dari konflik yang dihadirkan, itu terlihat bagaimana setan bersikeras sampai berdarah-darah untuk belajar. Ia mendatangi seorang guru dan memaksa untuk diajari. Seharusnya manusialah yang melakukan itu, bukan setan. Manusia harusnya bisa mengungguli setan, bukan sebaliknya. Manusialah yang harusnya sadar bahwa salah satu tugas utamanya hidup adalah untuk terus menuntut ilmu,” jelasnya.

Sementara itu, Nasir menjelaskan pesan moral yang disampaikan dalam lakon tersebut, bahwa manusia harus terus disadarkan untuk terus belajar. Selain itu, teater dewasa ini mulai mendapat urutan sekian ketika pagelaran seni.

“Saya pribadi melihat bahwa seringnya ketika ada pagelaran-pagelaran, baik oleh Sanggar Seni atau Event-event Organizer manapun, yang ditampilkan adalah seni musik. Saya resah melihatnya, meski seni-seni itu tidak ada yang salah. Olehnya itu kami di Bahana mencoba untuk mengisi ruang teater agar tetap lestari,” ujar Nasir.

Nasir juga berharap di usia ke-19, SS Bahana terus eksis berkarya. Sehingga eksistensi Bahana tidak hanya di kampus atau pun di kota Palu, melainkan di kancah Nasional.

“Di usia ini, saya berharap Bahana terus melahirkan berbagai karya. Semoga ke depannya Bahana mampu dikenal tidak hanya di kampus dan di kota Palu, tetapi sampai pada tingkat Nasional. Ini sebenarnya adalah harapan kami bersama,” harapnya. RAM