Muhammad Sulaiman Zubair SSi MSi PhD Apt Temukan Senyawa Anti Kanker Dari Tanaman Endemik Morowali

Apa yang menjadi alasan bagi tim bapak, melakukan penelitian terhadap  tanaman ini?

Begonia sp atau yang lebih dikenal dengan nama Benalu Batu ini, merupakan tumbuhan yang hanya ditemukan di kawasan gunung yang ada di kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng). Tumbuhan ini pun sudah empiris dikenal sebagai anti kanker, sebagian besar masyarakat di Sulteng maupun di luar, sudah menggunakan dengan mengkonsumsi simplisia herbalnya yang banyak dijual di toko-toko herbal, Benalu Batu ini mempunyai kemampuan anti kanker. Selain itu, berdasarkan informasi dari masyarakat di sana juga, ada seorang nenek yang mengkonsumsi tanaman ini, ternyata berkhasiat menyembuhkan kankernya dan pada akhirnya banyak masyarakat yang menggunakannya. Berdasarkan itu, makanya kami tertarik untuk meneliti tanaman Benalu Batu ini.

Tahapan apa saja yang tim bapak lakukan dalam meneliti tanaman benalu batu ini?

Penelitian tentang tanaman ini, sudah kami mulai sejak tahun 2014. Awalnya penelitian ini merupakan penelitian mahasiswa bimbingan saya dalam kegiatan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), dalam penelitian ini kami mengekstrak tanaman ini menggunakan metanol yang merupakan salah 1 pelarut polar. Ekstrak metanol tanaman ini, kami uji aktivitasnya secara invitro di Laboratorium (Lab) terhadap 2 sel kanker, yaitu sel kanker payudara dan sel kanker rahim, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ekstrak metanol Benalu Batu mampu menghambat aktivitas ke-2 sel kanker tersebut. Ekstraksi tanaman ini kami lakukan di Lab Farmasi FMIPA Untad dan Uji invitro untuk anti kankernya, kami lakukan di lab Parsitologi di Fakultas Kedokteran Universitas Gadja Mada. Hasil penelitian ini, kami publis di jurnal nasional terakreditasi pada tahun 2016.

Kami kemudian melanjutkan penelitian ini di Insinas (Insentif Riset Sistem Inovasi Nasional). Di Insinas kami mendapatkan pendanaan untuk meneliti senyawa kimianya. Dari penelitian ini, kami menghasilkan 2 paper yang masing-masing di publis di jurnal Natural Product Research dan Scopus Q2. Hasil pengujian terhadap tanaman Benalu Batu, kami menemukan senyawa baru yang belum pernah dilaporkan oleh peneliti lain, senyawa itu termasuk golongan glikosida steroid atau saponin, yaitu beta sitostrol glukopironosida, yang berpotensi sekali menghambat sel kanker payudara dan kami juga menemukan senyawa glukosida triterpnoid. Selain identifikasi struktur senyawa barunya, kami juga melakukan penelitian terhadap mekanisme kerja dari senyawa ini terhadap sel kanker, apakah apoktosis atau mikrosis. Ternyata hasilnya apoktosis, yaitu obat membunuh sel kanker secara terprogram, bukan karena nyeri. Pada tumbuhan ini, kami juga menemukan senyawa Cucurbitasin yang bisanya ditemukan di tanaman Cucurbitacea (suku tumbuhan labu).

Kami juga melakukan uji lanjutan, untuk mengetahui dosis aman dari penggunaan senyawa obat dari tumbuhan ini. Selanjutnya, kami juga melakukan identifikasi terhadap tanaman ini, karena Benalu batu sebenarnya bukan jenis benalu, tetapi tanaman ini masuk di kelompok Begonia atau bunga-bungaan. Namun, karena tumbuh di dekat batu, akhirnya masyarakat sekitar menyebutnya Benalu Batu. Untuk mengidentifikasi tanaman ini, kami bekerjasama dengan Pak Wisnu dari LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), beliau adalah salah 1 ahli tumbuhan Begonia di Indonesia.

Dari hasil identifikasi, menunjukkan bahwa ternyata tanaman ini berbeda dengan Begonia yang lain dan merupakan spesies baru dari tanaman Begonia. Pada Tahun ini, penemuan kami ini akan dipublikasikan bersama di Jurnal Pitotaksa. Untuk meneliti tumbuhan ini, saya juga bekerjasama dengan Walied M. Alarif, Mohamed Ali Ghandourah dan Syariful Anam dari Universitas King Abdul Aziz, serta Ibrahim Jantan dari Universitas Kebangsaan Malaysia.

Kata bapak, tanaman ini sudah dikonsumsi dan digunakan sebagai obat kanker juga oleh masyarakat. Menurut pandangan ilmiah, apakah cara masyarakat mengkonsumsi tanaman ini sudah tepat?

Secara tradisonal, masyarakat biasanya menggunakan tanaman ini dengan cara di rebus, lalu meminum airnya. Itu kalau dari segi saintifik memang sudah betul, karena air juga merupakan salah satu pelarut polar yang mampu menarik senyawa glikosida. Semoga senyawa yang kami temukan ini, juga bisa tertarik dengan cara tradisional itu. Akan tetapi, cara tradisional ini memiliki efek samping yang secara saintifik juga bisa didukung, karena glikosida itu menyebabkan diare, akibat interaksi glikosida dengan usus. Olehnya saya menyarankan, untuk masyarakat yang mengkonsumsi tanaman ini dengan cara tradisional, sebaiknya saat meminumnya juga dibarengi dengan meminum obat anti diare, yang tentunya dari herbal juga.

Apa Yang Bapak Harapkan Dari Hasil Penelitian Ini?

Penelitian ini, sangat penting untuk pengembangan sebuah produk. Sejauh ini, tanaman ini sudah terjual dalam bentuk kemasan herbal simplisia, ke depannya kami ingin membuat produk yang terstandar, dengan menggunakan penanda senyawa yang sudah kami temukan untuk standardisasi tanaman ini kedepan. Nanti untuk produk ini, kami akan kembangkan dalam bentuk kapsul dan akan kami tentukan dosis amannya berapa. Kami juga akan kerjasama dengan industri untuk mendistribusikannya sebagai obat kanker yang berpotensi.

Tumbuhan ini memiliki potensi yang besar dan memiliki nilai keunikan tersendiri, sebagai tanaman endemik yang hanya bisa tumbuh di Sulteng, khususnya Kabupaten Morowali. Olehnya itu, saya juga berharap agar masyarakat Morowali bisa bangga, karena punya tanaman spesial yaitu Benalu Batu. Saya harap, karena hanya tumbuh di sana dan spesiesnya baru, mudah-mudahan masyarakat bisa menjaga dan memeliharanya agar tetap ada. Kalau bisa kawasan itu tidak dieksploitasi untuk kegiatan yang lain.Vv