Ruang Diskusi Bukan Lagi Solusi

Tanggal 28 Oktober kita sama-sama tahu adalah Hari Sumpah Pemuda. Lalu 10 Nopember, hari pahlawan. Kedua tanggal itu memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Ada satu titik yang bisa kita tarik benang merah yang menjadi poros kedua tanggal itu saling berhubungan. Pemuda. Ya, pemuda.

Hari Sumpah Pemuda, tentu kita masih ingat bagaimana sejarah menjadi saksi sehingga dideklarasikan tanggal itu. Begitu juga peristiwa 10 Nopember yang mengerikan. Pemuda kini wajib bersyukur, karena medan juang tidak lagi seberat dan sesulit dahulu, meski tetap menantang. Jika dahulu, berjuang untuk tanah air, kita mengandalkan otot, angkat senjata, berperang, sekarang tidak lagi.

Perjuangan pemuda abad ini, lebih kepada tantangan bergerak untuk sama-sama mencerdaskan kehidupan bangsa. Jika bicara soal kecerdasan kita tidak kembali pada bangku sekolah, kali ini kita kembali kepada pemuda. Pemuda menjadi tonggak peradaban bangsa. Sehingga dewasa ini, sebagai sebagian insan yang tidak melupakan sejarah, kita memperingati hari-hari itu dengan upacara bendera, dialog, talkshow, seminar, bahkan yang paling sederhana diskusi.

Kita duduk melingkar, membahas isu-isu terkini. Kondisi politik, ekonomi, kampus, dan lainnya. Kita mencatat, masing-masing berpendapat kemudian adu argumen untuk menemukan solusi. Tidak hanya isu-isu terkait politik, isu literasi juga demikian. Pegiat-pegiat literasi kini di setiap lapak baca, melingkar berdiskusi membahas permasalahan minat baca yang belum berkembang secara signifikan.

Setelah lingkaran diskusi itu bubar, rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan menguap di udara. Begitu seterusnya. Tidak ada followup. Kita tidak lebih dari seseorang yang sedang galau, menemukan teman untuk berbagi kegalauan (bercerita), maka kegalauan kita itu berkurang bahkan hilang. Selesai. Begitu juga ligkaran-lingkaran diskusi itu. Kita terlalu cepat berpuas diri. Setelah diskusi itu selesai, keresahan kita selesai pula. Lalu apalah permasalahan terselesaikan? Masalah keresahan kita, sebenarnya adalah perihal pribadi. Buktinya ketika selesai berdiskusi resah kita hilang, solusi kita dapatkan. Padahal permasalahan yang sesungguhnya, belum menemukan solusi.

Ruang-ruang diskusi kini tidak lebih dari ajang pamer antar individu dan lembaga. Setiap orang dan lembaga memaparkan kegiatan yang sudah lembaganya buat. Lalu menyarankan lembaga lainnya berbuat ini-itu. Lalu saran-saran itu hanya tersimpan dalam catatan. Tidak ada tindakan.

Maka ruang-ruang diskusi, bukan solusi, melainkan turun, action, evaluasi, bergerak lagi, lalu refleksi. Refeksi kita mestilah mendalam. Misalnya peran pemuda terhadap pembangunan daerah. Kita bisa merefleksikan dari karang taruna yang ada di setiap desa. Sudahkah program-program karang taruna itu menyeluruh? Menjawab permasalahan di desa? Sudahkah program pengembangan SDM jalan?

Kita lihat sejauh ini, program karang taruna tidak jauh-jauh dari lomba olahraga, dan tour. Tidak lebih. Dari tahun ke tahun demikian. Wajar saja SDM kita tidak bertambah. Lalu masihkah kita menjadikan ruang diskusi sebagai solusi? Jika peruntukkan diskusi untuk menyusun strategi untuk action, maka kita bisa menerawang keberhasilannya. Jika hanya sekadar pemantapan isu, mohon maaf, sebagai pemuda, kita perlu lebih gagah dalam bertindak untuk menemukan solusi.

Karenanya, saat diskusi harus ada rencana yang dirancang. Setelah diskusi, followupnya lebih mudah. Sebab diskusi-diskusi selanjutnya langsung membahas rencana tindakan, kemudian action.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here