Ciptakan Yuris Kompetitif dan Profesional, Fakultas Hukum Gelar Debat Konstitusi Tingkat Sulteng

Ket. Foto: Foto bersama para pemenang Debat Konstitusi (Foto: Dok. Panitia Penyelenggara)

Association of Tadulako Law Research and Debaters (ATLAS), Fakultas Hukum (FH), Universitas Tadulako (UNTAD) gelar Debat Konstitusi tingkat Sulawesi Tengah (Sulteng) sebagai rangkaian dari Tadulako Law Fair. Selama dua hari Jumat s.d Sabtu (06-07/12) dan bertempat di ruang kelas Fakultas Hukum, tim Universitas Muhammadiyah Palu keluar sebagai juara pertama.

Tadulako Law Fair merupakan kegiatan tahunan Fakultas Hukum, yang terdiri dari dua agenda yaitu Seminar Hukum dan Lomba Debat Konstitusi. Seminar Hukum selesai terlaksana pada Kamis (05/12), bertempat di Aula Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA). Berbeda dari tahun sebelumnya yang dikelola oleh tenaga dosen, tahun ini ATLAS dipercaya sebagai panitia dengan membawakan tema debat  “Berlindung di bawah Payung Konstitusi”.

Sebanyak 5 Perguruan Tinggi di Sulteng terdaftar sebagai peserta, yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Hukum dan HAM (STIH-HAM) Parigi, Universitas Muhammadiyah Palu, Universitas Muhammadiyah Luwuk, Universitas Madako, dan Universitas Tompotika Luwuk.

Ditemui reporter Media Tadulako, Rita Oktaviani selaku Ketua Umum ATLAS mengungkapkan alasan pemilihan tema dalam lomba debat agar setiap tingkah laku warga negara harus berlandaskan pada konstitusi Indonesia, yaitu UUD 1945.  Ia juga mengatakan, kegiatan tersebut bertujuan mencetak mahasiswa hukum yang kompetitif dan profesional.

“Pemilihan tema didasarkan pada realitas lemahnya konstitusi dalam lingkar pergaulan. Bagaimana segala perilaku kehidupan kita harus berdasar pada aturan konstitusi bangsa Indonesia, yaitu UUD 1945. Meskipun kita berdebat terkait masalah sosial, politik, atau jauh dari ranah hukum, kita harus tetap kembali lagi pada konstitusi. Melalui kegiatan ini, tujuan kami mencetak yuris-yuris yang kompetitif dan profesional dapat terlaksana, ” imbuhnya.

Pada kesempatan yang sama, Muflih Gani selaku Ketua Panitia mengatakan syarat utama peserta yaitu harus mahasiswa aktif jurusan hukum. Ia menambahkan, mahasiswa UNTAD tidak diperbolehkan mengikuti ajang debat, guna menghindari subyektifitas penilaian dan memberikan kesempatan bagi mahasiswa di Perguruan Tinggi lain untuk bersaing.

“Syarat utama lomba debat, peserta harus tercatat sebagai mahasiswa aktif jurusan hukum di Perguruan Tinggi. Masing-masing Perguruan Tinggi mengirimkan 3 mahasiswa dalam satu tim. Untuk mahasiswa UNTAD, kami tidak bisa memberikan tempat untuk berpartisipasi sebagai peserta, untuk menghindari subyektifitas penilaian dewan juri dan kami juga ingin mengenalkan bahwa Sulteng memiliki yuris-yuris yang hebat tidak hanya ada di UNTAD saja,” tambahnya.

Risky Syafa’at selaku Pembina tim Universitas Muhammadiyah Palu menuturkan sangat bersyukur dan bahagia atas kemenangan timnya. Ia berharap selepas kegiatan tersebut, Perguruan Tinggi yang berada di Sulteng bisa saling bersinergi menciptakan mahasiswa berprestasi. FHA