Gator Timbang S.T M.T Dosen yang Menempati Ruang di Hati Mahasiswa

Gator Timbang S.T M.T, dosen yang tak asing lagi di mata mahasiswa jurusan Arsiktektur. Pria kelahiran Palopo ini, menjejakkan kaki pertama kali di bumi kaktus pada tahun 1998. Satu tahun kemudian, ia menjadi dosen Arsitektur setelah mengikuti berbagai proses seleksi sebagai tenaga kerja. Ia dikenal memiliki sikap tegas dalam mengajar juga sedikit killer. Baginya, cara mengajarnya lumayan “kejam”, tapi, anehnya justru banyak mahasiswa yang senang ketika ia mengajar dan menilainya baik.

Pria yang memakai pakaian semi kokoh tersebut, menuturkan pada masa adaptasinya, ketika pertama kali berada Universitas Tadulako sebagai lingkungan barunya, ia selalu bersikap baik dan terbuka kepada sesama dosen. Ia mengungkapkan bahwa penyesuaian tersebut tidak begitu terasa, karena ia lalui dengan hati yang legowo.

Anak ketiga dari lima bersaudara ini, dalam sehari-hari menjadi pengajar selain menerapkan prinsip yang diyakini ia selalu mencoba menjaga kedekatan dengan rekan sesama dosen, pegawai di jurusan, dan rekan di LPPMP. Kedekatan tersebut, ia bangun melalui sikap toleransi yang diterapkannya. Hal ini juga ia jadikan sebagai tolok ukur dalam memperbarui diri untuk lebih baik ke depannya.

Alumni almamater Universitas Hasanuddin ini, mengatakan ia terbiasa dalam bersikap tegas dan disiplin karena didikan orangtuanya. Ia juga selalu berhati-hati dalam bertutur kata. ia mengimbuhkan bahwa nilai yang ia yakini harus dibagikan kepada semua orang. Ia selalu berusaha agar bisa memberikan energi positif di setiap ia mengajar. Walaupun dengan pembawaan sikap yang tegas dan disiplin yang melekat dalam dirinya.

“Saya terbiasa bersikap tegas dan disiplin karena didikan orangtua. Saya juga berusaha berhati-hati dalam bertutur kata. Bagi saya nilai yang diyakini harus dibagikan kepada semua orang dan selalu berusaha untuk memberikan energi positif di saat saya mengajar,” ucapnya dengan senyum yang merekah.

Ayah satu orang anak ini juga merupakan seorang yang filosofis. Terbukti saat memberikan nama kepada anaknya yang bernama Andika Putra Bhayangkara. Ia mengatakan bahwa nama harus memiliki makna dan nama tersebut ia berikan karena bertepatan dengan peringatan Hari Bhayangkara.

Ia selalu menjunjung tinggi sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Meski perbedaan dan latar belakang sering ia temui, tidak menjadi suatu hambatan dalam berhubungan sosial. Ia mengungkapkan bahwa perbedaan tersebut sudah sedari kecil ia dapati, bahkan dilingkup keluarga besarnya. Sebagai umat kristiani, berbaur dengan agama lain merupakan hal yang biasa ia hadapi. Ia menuturkan bahwa memiliki seorang adik yangmenjadi muallaf, yang kini telah menikah dan berdomisili di Kendari, Ibu Kota Sulawesi Tenggara. Menurutnya, perbedaan itu indah. Melalui perbedaan, kita dapat menambah wawasan dan informasi, serta memiliki pandangan yang luas tentang makna kehidupan.

“Hidup dalam perbedaan sudah sedari kecil saya jalani. Perbedaan tersebut kemudian bukan menjadi hambatan saya dalam berhubungan dengan orang-orang sekitar. Bahkan keluarga saya ada yang Muslim. Sebagai umat Kristiani, saya sudah terbiasa dengan perbedaan tersebut. Saya bisa menambah wawasan dan informasi serta memiliki pandangan yang luas tentang makna kehidupan,” ungkapnya.

Toleransi yang ia terapkan dalam kehidupan sehari-harinya, membuatnya menyesuaikan diri dengan non-Kristen. Jika berkomunikasi dengan muslim, ia mengucapkan assalamualaikum. Juga dengan agama lainnya. Di rumahnya, ia menyediakan space untuk muslim beribadah. Hal ini lebih kepada jika ada tamunya yang muslim, lalu ingin beribadah di rumahnya.

Di penghujung tahun ini, bertepatan dengan momen Natal, ayah satu anak tersebut memaknai Natal dengan perubahan dalam hal yang baru. Ia mengungkapkan, Natal bukan semata-mata merayakan hari kelahiran Yesus, tetapi bagaimana kita bisa melahirkan sesuatu yang baru dalam diri agar lebih baik lagi.

“Saya memaknai Natal bukan semata-mata untuk merayakan kelahiran Yesus. Natal adalah momen untuk membawa suatu perubahan dalam hal yang baru. Entah untuk diri sendiri atau orang lain,” ucapnya.

Ia bercerita, ada satu momen Natal yang membuat ia terenyuh ketika mengingatnya. Kala baru saja resmi menjadi dosen di Bumi Tadulako, membuatnya harus merayakan Natal tanpa sanak keluarga. Ia menuturkan, itu adalah momen Natal yang begitu menyedihkan sekaligus pertama kali jauh dari keluarga tercinta. Apalagi iringan lagu Natal yang syahdu menemaninya semakin menambah kesedihannya merayakan Natal tanpa sanak keluarga.

“Ada satu momen Natal yang kalau saya ingat sangat menyedihkan. Saat baru saja menjadi dosen di Untad sekitar bulan September, saya harus merayakan Natal di sini. Itu merupakan Natal yang begitu menyedihkan buat saya karena pertama kali jauh dari keluarga,” ucap Gator, dengan mata berkaca-kaca.

Di balik ketegasannya, ia memiliki sifat yang melankolis. Ia mudah terbawa suasana, terlihat dari tatapan matanya yang juga ikut bercerita tentang perjalanan hidup yang telah ia lalui. Saat dalam perjalanan tugas ke Parigi, ia bertemu dengan salah seorang pegawai yang membantunya kala itu mengurus administrasi yang ternyata adalah mantan mahasiswanya dahulu. Ada perasaan haru dan bangga yang ia rasakan ketika mahasiswanya dapat mengingat dirinya. Ia merasa bahwa gaya didikannya yang tegas dan disiplin a.k.a killer, memungkinkan mahasiswa tidak mengingatnya.

“Saat itu dalam perjalanan tugas ke Parigi, saya bertemu dengan salah satu pegawai yang membantu mengurus administrasi dan rupanya itu adalah mahasiswa yang pernah saya ajar dulu. Momen itu membuat saya haru dan bangga, karena saya merasa metode didikan yang tegas dan disiplin dari saya memungkinkan mahasiswa tidak menyukai saya, bahkan mengingatnya,” tutur Gator dengan suara khasnya.

Tak banyak yang tahu, bahwa pria bertahi lalat di pipi bawah sebelah kanan itu sebenarnya memiliki jiwa yang melankolis. Hatinya mudah tersentuh, mudah pula terharu dan mengeluarkan air mata. Sehingga kembali pada momen Natal, ia menyimpan pengalaman Natal tanpa keluarga yang dalam.

Perihal menjadi dosen, sama halnya menjadi guru, mengajar dan mendidik. Hal tersebut memiliki kepuasaan tersendiri ketika mendapati ara mahasiswanya yang telah menjadi orang-orang sukses. Baginya menjadi tenan dosen adalah panggilan jiwanya.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here