HIMSA Untad dan 4Dimensi Bahas Reformasi melalui Cerita

Ket. Foto: Foto bersama Amanatia Junda (ketiga dari kiri) Founder 4Dimensi, pembina Himsa, ketua Himsa, dan beberapa penulis (Foto: dok. Penyelenggara)

(Kamis, 28/11) – Himpunan Mahasiswa Sejarah (HIMSA) Program Studi Pendidikan Sejarah, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad) bekerja sama dengan 4Dimensi bahas Reformasi melalui bincang buku Tank Merah Muda dengan menghadirkan Amanatia Junda. Kegiatan yang digelar di ruang senat FKIP tersebut dihadiri oleh mahasiswa Untad dan pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) Kota Palu.

Hadir mewakili Koordinator Program Studi Pendidikan Sejarah, Pembina Himsa FKIP Untad, Dra Junarti M Hum, dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada penyelenggara kegiatan. Menurutnya kegiatan ini sangat menarik dimana judul buku ini sangat unik dan memberikan pelajaran bagaimana mengumpulkan cerita yang tercecer selama reformasi dalam satu buku.

“Judul buku ini sangat unik. Kita diajak untuk memikirkan bagaimana gambaran di dalamnya. Bagaimana kemudian cerita yang tercecer itu bisa dikumpulkan dan dibukukan. Tema yang sangat menarik untuk sama-sama kita bahas,” ungkapnya.

Dalam materinya, Amanatia Junda salah satu penulis buku “Tank Merah Muda” mengungkapkan bahwa buku “Tank Merah Muda” merupakan buku yang ditulis oleh 6 orang penulis dari 6 provinsi yang berbeda. Berisi tentang cerita-cerita yang tercecer selama reformasi dengan rentang waktu tahun 1998-2004.

“Buku ini berisi tentang cerita dari 6 provinsi yaitu provinsi Jawa Tengah,  Jawa Timur, Aceh, Maluku Utara, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Kami mencoba pulang kampung dan menggali cerita-cerita dalam rentang waktu 1998-2004 yang belum pernah ditulis dalam bentuk sastra. Dalam menulis, kami lebih spesifik ke sastra. Di dalamnya kami menggunakan metode sejarah dan berangkat dari riset. Namun, cerita ini adalah cerita nonfiksi,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa alasan ke-6 orang menulis buku ini adalah kurangnya cerita reformasi dari sudut pandang perempuan. Nama “Tank Merah Muda” sendiri di ambil dari salah satu judul cerpen di dalam buku ini.

“Biasanya cerita reformasi hanya berkutat ada kerusuhan dan penjarahan. Kami berpikir bahwa ada banyak cerita dari perspektif perempuan yang belum disuarakan. Bagaimana perempuan melihat isu politik, dan perusahaan rezim.  Nama ‘Tank Merah Muda’ adalah salah satu nama cerpen didalam buku ini. Didalam buku ini ada sekitar 18 cerpen. Setiap orang menulis tiga buah cerpen, salah satunya yaitu ‘Tank Merah Muda’ yang ditulis oleh Margareth Ratih Fernandes dari Kupang,NTT,” tambahnya. Rin