Mahasiswa Untad Ikuti Workshop hasil Eksplorasi Flora-Fauna

Ket. Foto: Foto bersama pemateri, Dr Samliok (tengah, batik merah), Kepala UPT. SDHS, Dr Ramli (kiri Dr. Samliok) bersama peserta workshop (Foto: dok. Penyelenggara)

Mahasiswa Untad ikuti workshop dan pelatihan Eksplorasi Flora-Fauna Banggai Kepualauan: Pengoleksi dan Identifikasi Tumbuhan dan Hewan, yang diselenggarakan UPT.  Sumber Daya Hayati Sulawesi (SDHS), pada Sabtu (16/11). Bertempat  di aula UPT. SDHS, kegiatan dihadiri Dr Ir H Samliok Ndobe MSi sebagai pembicara.

Dalam penyampaiannya, Dr Samliok lebih banyak menjabarkan tentang hewan endemic, Banggai Cardinal Fish (BCF), yang banyak ditemukan di perairan Banggai Laut dan Banggai Kepulauan. Populasi BCF, masih dalam penyampain Dr Samliok, populasi ikan ini terancam punah.

“BCF pertama kali ditemukan oleh ahli zoology muda Walter Alexander Kaudern (Swedia) yang ikut ekspedisi bersama anak dan istrinya di Sulawesi. Ia mengoleksi beberapa biota laut termasuk 2 ekor BCF yang dibawa ke Museum Leiden, Belanda. BCF kemudian menjadi ikan endemic dengan nama latin Pterapogon Kauderni,” jelasnya.

Dr Samliok menambahkan, bahwa BCF ketika bertelur, telurnya mencapa 20-an hingga 70-an butir. Umumnya 45-65 butir. Ikan Endemik tersebut mengerami telurnya selama 20 hari, dan dierami oleh ikan jantan.

Diakhir penyampaiannya, kesimpulan yang dapat dilakukan oleh sejumlah pihak agar populasi ikan endemik ini tetap terjaga, bahwa hampir di semua titik sebaran BCF di Kepulauan Banggai terindikasi evolutionarily Signifficant Unit (ESU).

“Kesimpulan selanjutnya konservasi keanekaragaman plasma nutfah BCF di Kepulauan Banggai. Point ketiga, pelepasliaran BCF pada suatu ESU dari ESU/lokasi lain sangat berpotensi untuk merugikan dari aspek keanekaragaman plasma nutfah. Point keempat, diprioritaskan budidaya in-situ melalui perbaikan habitat/mikrohabitas BCF. Kelima, perlindungan dalam ruang/waktu diperlukan di setiap ESU dan pada puncak pemijahan, keenam, diperlukan upaya pengawasan pada lokasi wilayah penyebaran BCF, dan lain-lain,” simpul Dr Samliok,

Diwawancarai di sela-sela kegiatan, Dr Ramli SP MP menerangkan bahwa kegiatan ini adalah bentuk follow up, dari kegiatan eksplorasi yang telah dilakukan.

“Sebenarnya kegiatan ini merupakan bentuk tindakan dari kegiatan eksplorasi yang kami lakukan di Donggala dan Banggai Kepualauan. Dari eksplorasi itu ada beberapa jenis flora dan fauna yang kami ambil, lalu kami identifikasi di sini. Dari hasil identifikasi itu, kami melakukan workshop ini, agar supaya mahasiswa di Palu, khususnya mahasiswa Untad, dapat tahu bahwa di Banggai itu dengan kordinat tertentu terdapat jenis flora dan fauna endemik. Dari kegiatan ini juga, kalau ada endemik yang ditemukan akan dibuatkan tulisan yang nanti akan dibuat tulisan dan dimasukkan ke jurnal. Harapannya dengan publikasi ini, flora fauna kita yang ada di Sulawesi ini dapat terjaga oleh kita semua. Kedua, kegiatan workshop ini merupakan kegiatan perdana dilakukan oleh SDHS, dan ke depannya, setiap program akan kami buatkan workshopnya,” terang Dr Ramli. Sn