Perayaan Natal Oikumene PERMAHKOTA Untad, FISIP Jadi Tuan Rumah

Ket. Foto: Suasana perayaan Natal (Foto: dok. Penyelenggara)

Lembaga Persekutuan Mahasiswa Kristen Oikumene (PERMAHKOTA) Universitas Tadulako (Untad) gelar ibadah Perayaan Natal Tahunan Universitas bertajuk “Hiduplah Sebagai Sahabat Bagi Semua Orang” dengan subtema “Special Friends”, pada selasa (3/11) bertempat di Gereja Toraja Sion Anutapura Palu.

Perayaan Natal Oikumene Untad kali ini, juga menjadi ibadah perayaan natal yang istimewa khususnya bagi Persatuan Mahasiwa Kristen FISIP Untad. Pasalnya, dalam Acara tahunan yang berada dalam naungan Lembaga PERMAHKOTA tersebut, tahun ini FISIP berkesempatan menjadi tuan rumah pelaksana.

Dalam perayaan Natal Oikumene tersebut, hadir pula Pendeta Mayor Kriston Harinei S Th, sebagai pembawa khotbah. Dalam khotbahnya, Pendeta Mayor Kriston menyampaikan bahwa tema khotbah yang diangkat memiliki jangkauan yang luas. Hiduplah sebagai sahabat bagi semua orang, mampu melintasi ruang dan waktu, menerobos sekat pemisah yang tercipta oleh perbedaan-perbedaan yang terbentuk oleh sebuah konsep sosial yang terbangun di masyarakat.
“Dunia menawarkan suatu konsep, yaitu dalam sebuah persahabatan kita mempunyai sekat-sekat pemisah, yaitu perbedaan yang ada diantara kita. Baik itu suku, agama, hobi bahkan ekonomi pun ikut serta menjadi sekat pemisah dalam sebuah persahabatan,” ucap Pendeta Kriston.

Masih menurut Pendeta Mayor, ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa manusia memerlukan seorang teman ataupun sahabat. Yang pertama yaitu, manusia terlahir sebagai makhluk sosial.

“Manusia Membutuhkan orang lain, untuk berdiskusi, untuk bercerita dan untuk menjadi penolong. Bahkan hingga elemen masyarakat yang tidak kita sadari, seperti penjual sayur, ikan, dan lain sebagainya merupakan bagian penting dalam kehidupan kita. Bukan menjadi orang yang menutup diri, dikarenakan perbedaan-perbedaan yang ada diantara kita semua,” imbuhnya.

Lebih lanjut, alasan lainnya mengapa manusia harus hidup bersahabat, karena manusia terlahir segambar dan serupa dengan Allah. Sehingga, sebagai sesama, tidak ada alasan untuk menyakiti hati orang lain karena semua sama di mata Tuhan.

“Sebagai ciptaan yang serupa dan segambar dengan Allah, kita diutus ke dalam dunia, bukan untuk saling menyakiti, saling memfitnah , ataupun saling bermusuhan, namun untuk saling mengasihi satu sama lain. Hidup berdampingan rukun dan damai. Dalam persahabatan sebenarnya Tuhan sedang memproses kita melalui sahabat-sahabat kita. Persahabatan seumpama cermin. Dimana ketika kita bercermin, maka kita akan melihat tingkah kita, apa yang salah dan benar dari hidup kita, maka setelah mengetahui kelemahan kita, maka kita akan mengoreksi kesalahan yang ada dalam diri kita. Sama halnya dengan sahabat. Tugas mereka adalah seperti cermin, memperlihatkan dan mengatakan, juga memperbaiki kesalahan yang ada dalam diri maupun kehidupan kita. Membantu kita menjadi orang yang lebih baik lagi,” tambahnya.

Pendeta Kriston mengatakan bahwa dalam Perayaan Natal tersebut, tercatat pula sebagai perayaan hari kelahiran Yesus kristus yang datang ke dunia menjadi Tuhan dan Juru Selamat serta menjadi sahabat bagi seluruh umat manusia.

“Yesus Kristus lahir ke dunia menjadi sahabat sejati bagi kita semua. Dia sahabat bagi semua orang yang mempunyai masalah, sahabat orang orang yang ditolak oleh dunia. Dan dia sahabat yang rela mati dikayu salib untuk mengorbankan hidupnya, sebagi ganti dosa kita semua,” ujarnya.

Diakhir khotbahnya ia mengungkapkan bahwa semua manusia baiklah menjadi sahabat bagi setiap orang. Jadikan diri sebagai Special Friend bagi semua orang. “Jangan lagi ciptakan sekat sekat perbedaan yang akan menjadi alasan kita untuk tidak bersahabat dengan orang lain. Yesus Kristus lahir ke dunia membawa pesan damai, Dia rela mati dikayu salib untuk kita semua. Yesus Kristus menjadi teladan buat kita, bahwa kita harus mengasihi dan menjadikan sahabat setiap orang, sekalipun orang tersebut adalah orang yang telah menyakiti hati kita,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, usai ibadah perayaan Natal Oikumene, ditemui reporter Media Tadulako, Dr Christian Tindjabante MSi selaku ketua panitia mengungkapkan bahwa tema ini merupakan ajakan bagi semua individu yang berada di Universitas Tadulako untuk hidup menjadi sahabat bagi semua orang tanpa membeda-bedakan.

“Mari kembali membangun hakikat kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang saling membutuhkan. Dengan tema perayaan Natal kali ini, diharapkan menjadi inspirasi bagi umat kristiani dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.  Seperti yang sudah disampaikan tadi dalam pesan damai oleh Hamba Tuhan, bahwa kita manusia tidak berarti apa-apa tanpa pertolongan orang lain. Melalui tema ini kami mengajak untuk kita, dapat membangun relasi dan persahabatan yang lebih intim tanpa melihat agama, suku, dan ras yang ada,” ungkap Ketua Panitia yang juga merupakan Pembina PMKF Untad. Jnk