Prodi Antropologi Untad Peringati Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dengan Seminar

Ket. Foto: Suasana kegiatan Seminar Nasional di Gedung Aula FISIP (Foto: Awan Afrialdi/MT)

Peringati hari anti kekerasan terhadap perempuan, Program Studi (Prodi) Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisip) Universitas Tadulako (Untad) gelar Seminar Nasional (Semnas) bertajuk “Gender, Feminitas dan Seksualitas dalam Kajian Kebencanaan di Sulawesi Tengah” bertempat di Gedung Aula FISIP, pada Senin (25/11).

Kegiatan Semnas tersebut menghadirkan 3 pemateri, yakni Prof Ilmi Idrus MSc PhD (Rektor Universitas Muslim Maros dan guru besar Antropologi FISIP Universitas Hasanuddin), Drs Irwan M Hidayana MA PhD (Dosen Antropologi FISIP dan ketua Program Pascasarjana Universitas Indonesia) dan Muthmainnah Korona SE (Ketua Komisi A DPRD Kota Palu serta aktivis perempuan dan anak).

Kegiatan dibuka langsung oleh Dekan FISIP Untad, Dr Muhammad Khairil SAg MSi. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa tema yang diangkat dalam Semnas ini sangat menarik dalam banyak kajian ilmiah pasca bencana. Dan ia berharap kegiatan tersebut mampu menjadi wadah untuk berbagi ilmu pengetahuan.

“Tema ini menjadi tema yang menarik dalam banyak kajian ilmiah khususnya pasca bencana gempa. Dan begitu banyak hal yang kita harapkan khususnya kegiatan ini mampu menjadi tempat untuk berbagi ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Sementara itu, Resmi SSos MHum selaku ketua panitia berharap, kegiatan itu bisa bermanfaat bagi kemajuan perempuan Indonesia khususnya di wilayah Sulawesi Tengah (Sulteng). Serta bisa memberikan kontribusi terhadap pemenuhan hak-hak perempuan.

“Semoga apa yang kita laksanakan bisa bermanfaat bagi kemajuan perempuan di Sulteng khususnya dan perempuan Indonesia pada umumnya, serta dapat berkontribusi dalam memperjuangkan hak-hak perempuan,” harapnya.

Pada kesempatan yang sama, Prof Ilmi dalam materinya menjelaskan bahwa pada situasi bencana, perempuan adalah korban yang paling rentan, karena absennya perempuan dalam pendidikan kebencanaan.

“Pada situasi bencana, korban yang paling rentan adalah perempuan. Ini dikarenakan kurangnya edukasi mengenai kebencanaan pada mereka. Maka dari itu, perlu adanya pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran mengenai masa pra, tanggap, dan pasca bencana,” jelasnya.

Senada dengan Prof Ilmi, Drs Irwan menutukan bahwa kerentanan perempuan dalam situasi bencana juga diakibatkan oleh norma sosial gender yang ada di masyarakat.

“Norma sosial gender seringkali membatasi akses perempuan terhadap sumber daya, sehingga menjadikan mereka lebih rentan menjadi korban daripada laki-laki ketika ada bencana,” tuturnya.

Selain itu, Muthmainnah pada akhir materinya mengatakan pentingnya peran perempuan dalam menguatkan fungsi legislasi dengan mendorong regulasi yang memberikan perlindungan khusus kepada perempuan, anak dan kelompok rentan lainnya. AW/Rin

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here