Gigi Pak Ponggah

Oleh: Siti Julaika

Ely menyantap makanannya dengan khidmat, hari ini ibunya memasak menu kesukaannya. Sepiring nasi ditemani ikan goreng dan sambal terasi.

“Ah. Enak sekali,” ucap Ely dalam hati.

“El, makan kok lama banget,” celetuk Rini yang tiba-tiba sudah ada di hadapannya.

“Kok kamu sudah di sini? Baru juga aku makan,” balas Ely sembari menyantap kembali makanannya.

“Baru apanya? Aku di sini udah hampir setengah jam nungguin kamu makan. Udah, cepetan, habis itu kita langsung ke lapangan,” tegas Rini dengan nada sedikit jengkel. Ia mungkin telah merasa sedikit jenuh menunggui sahabatnya yang tak kunjung selesai makan. Ely yang duduk di sampingnya hanya cengengesan sambil melanjutkan makannya.

Setelah Ely selesai makan, mereka lalu pergi ke lapangan. Ya begitulah, anak-anak usia SD memang selayaknya baru tau pasal makan, main, tidur. Hari ini mereka ada janji untuk bermain kasti. Sesampainya di lapangan, permainan sudah dimulai sejak beberapa saat yang lalu.

“Kalian kok lama banget sih,” celetuk Riko menghampiri Ely dan Rini.

“Iya, Ely nih makan nggak selesai-selesai,” sahut Rini sembari melirik Ely.

“Iya, iya. Aku minta maaf, habis ibu aku masak enak sih,” balas Ely.

“Emang ibu kamu masak apa? Masak ikan sapi? Jadi anak Pak Ponggah itu emang gitu, ya. Kalau makan harus dikunyah pelan-pelan. Biar bisa di telan,” ejek Riko sembari tertawa terbahak.

Panas rasanya telinga gadis kecil berkulit putih itu, ia memang sering mendapat ledekan seperti itu dari teman-temannya.

“Selalu saja tentang ayah,” celetuknya dalam hati.

Ia hanya berlalu mendengar ledekan seperti itu. Diambilnya pemukul bola kasti, siap untuk bermain. Rini yang berada di depan sudah siap untuk melemparkan bola kasti padanya.

“Hati-hati Rin, nanti kena gigi Ely. Jadi kayak bapaknya nanti dia, hahahaa,” teriak salah seorang temannya yang ada di lapangan. Sontak hal itu membuat semua yang ada di lapangan tertawa terbahak. Ely yang menjadi topik pembicaraan menunjukkan raut mukanya yang kesal, ia membuang pemukul kasti yang ada di tangannya dan berlari mengejar anak lelaki yang meledeknya.

Topik soal ayahnya memang selalu jadi pemicu marahnya Ely, ia tak suka dengan ledekan itu. Ayahnya di juluki Pak Ponggah, dalam bahasa Jawa, ponggah artinya ompong Hal itulah yang selalu jadi bahan ledekan teman-temannya. Ely pun sebenarnya ingin tahu mengapa ayahnya bisa ompong seperti itu, mengingat ayahnya belum lagi berusia lanjut. Umurnya baru sekitar kepala empat, tapi ayahnya tak pernah mau cerita tentang keadaannya.

***

Sehabis magrib Ely duduk di bangku teras rumah. Gara-gara main kasti seharian tadi, ia lupa mengerjakan PR sekolahnya. Jadilah sekarang ia tak dapat jatah nonton TV.

“Itu karena kebanyakan main, nggak boleh nonton TV deh. Kasihan,” Pak Ponggah meledek Ely sambil menyeruput segelas kopi di tangannya. Ely yang sedari tadi sibuk dengan kertas-kertas di hadapannya hanya manyun, memonyongkan bibirnya. Setiap kali ia menatap ayahnya, gigi ompong itu bak meledeknya. Semakin panaslah hatinya, teringat kembali ledekan teman-temannya perihal gigi Pak Ponggah.

Saat mereka tengah asyik-asyiknya bercanda Pak RT datang bertamu.

“Assalamualaikum,” ucap Pak RT.

“Waalaikumsalam, silakan duduk Pak RT,” balas Pak Ponggah sembari mempersilakan Pak RT duduk bergabung bersama mereka di teras depan.

“Wah Ely rajin, ya, belajar,” ucap Pak RT melihat Ely yang tengah sibuk dengan kertas-kertas bergarisnya.

“Ya itu, gara-gara kebanyakan main jadi lupa sama PR nya. Sekarang nggak punya jatah buat nonton,” celetuk Pak Ponggah sembari merapikan kertas-kertas yang berceceran di meja tepat di depan Pak RT duduk.

“Saya tinggal bikin minum dulu, ya, Pak RT,” ucap Pak Ponggah.

“Nggak usah repot-repot, loh, Pak, saya juga cuma sebentar,” balas Pak RT.

Pak Ponggah tetap bersikeras membuatkan minum, ia lalu masuk ke dalam rumah untuk membuatkan minum dan mengambil sedikit cemilan.

“Jadi anak orang hebat kayak Pak Ponggah itu memang harus rajin. Supaya bisa membanggakan orang tua,” ucap Pak RT sembari membuka-buka buku Ely.

Ely yang masih manyun perihal gigi ompong ayahnya hanya mengangguk-angguk, membolak-balik kertas di hadapannya.

“Kamu malu ya, karena gigi ayah kamu ompong?” tanya Pak RT.

Sontak pertanyaan itu membuat Ely menatapnya.

“Iyalah Pakde, habisnya teman-teman selalu ngeledek Ely, Pak Ponggah, Pak Ponggah. Ah, Ely sebel,” kata Ely dengan nada kesal.

“Harusnya kamu bangga punya ayah kayak Pak Ponggah,” lanjut Pak RT lagi.

Ely menatap Pak RT dengan bingung, apanya yang harus di banggakan? Gigi ompong itu? Ah terserahlah. Ely hanya tetap memanyunkan bibirnya.

“Kamu tahu nggak kenapa gigi ayah kamu ompong?” tanya Pak RT. Ely hanya membalasnya dengan menggelengkan kepala. Pak RT tersenyum.

***

“Pak, pipanya yang di atas sana tersumbat sampah, jadinya air nggak bisa lewat,” pungkas Pak Edi setengah tergopoh-gopoh.

“Waduh yang di atas sana? Susah dibersihkan, soalnya itu yang sambungan, lubangnya lebih kecil,” ucap Pak RT dengan nada bicara sedikit kebingungan, ia mengusap dahinya yang telah dibasahi keringat. Sudah sebulan terakhir ini air keran di desa mereka mati. Sudah berkali-kali pula di cek pipa-pipa dan paralon tempat jalannya air, tapi baru kali ini ditemukan penyebabnya.  Apalagi kalau bukan sampah yang menyumbat di sebuah pipa sambungan.

“Biar saya coba bersihkan,” sahut Pak Heru yang sudah siap dengan peralatannya.

“Beneran ini, Pak Heru? Tapi yang di atas sana itu susah loh, Pak,” pungkas Pak RT.

“Iya biar saya coba. Saya kasihan dengan ibu-ibu di rumah, mereka pasti sangat mengharapkan keberhasilan kita. Toh sekarang sudah jelas penyebabnya,” lanjut Pak Heru. Pak Heru lalu pergi bersama dua tiga orang rekan sekampungnya.

“Wah jalanan di sini licin, biar saya saja yang pergi, kalian tunggu di sini,” pinta Pak Heru pada beberapa orang yang mengikutinya di belakang. Mereka kemudian mengiyakan permintaan Pak Heru. Dengan hati-hati Pak Heru berjalan menuju sambungan pipa yang di maksud. Beberapa saat kemudian ia sudah berada di tempat sambungan pipa itu.

Pak Heru membuka sambungan pipa itu dengan perlahan-lahan. Sesaat kemudian sambungan pipa tersebut berhasil dibuka, ia kemudian mengeluarkan sampah-sampah yang menjadi biang dari menyumbatnya air. Mereka yang ada dibawah bersorak bahagia melihat keberhasilan Pak Heru. Akhirnya air yang selama ini ditunggu-tunggu mengalir juga.

Sesaat setelah mengeluarkan sampah-sampah yang menyumbat, Pak Heru berniat menutup kembali sambungan pipa yang ia buka. Tanpa ia sadari air dengan volume besar di pipa yang ia pegang bertemu dengan ujung pipa di depannya mental menghantam wajahnya. Sontak Pak Heru terpental ke belakang. Hal itu membuat semua orang terkejut. Mereka mengkhawatirkan Pak Heru.

“Pak Heru, giginya…” ucap salah seorang warga yang menghampiri Pak Heru.

***

“Gitu, makanya gigi ayah kamu ompong. Dia itu orang hebat, coba kalau dia nggak pergi benerin pipa itu, mungkin sampai saat ini orang-orang masih menimba air di sumur,” ucap Pak RT mengakhiri ceritanya.

“Wah ternyata ayah sehebat itu! Aku bangga punya ayah kayak ayah!” pungkas Ely dalam hatinya.

Pak Ponggah kemudian datang membawa segelas kopi di nampan.

“Ayah… aku sayang ayah,” ucap Ely sembari memeluk ayahnya yang sedang berjalan.

“Kenapa kamu? Ayah masih bawa kopi loh, nanti kamu ketumpahan, duduk sana di tempatmu,” perintah Pak Ponggah yang sedang digelandoti anak bungsunya itu.

“Ely sayang ayah,” lanjut Ely yang tak menghiraukan perintah ayahnya dan  tetap menggelandotinya. Pak RT yang duduk di kursi rotan depan meja hanya tersenyum melihat tingkah bocah cilik kelas tiga SD itu.

***