Menghindari Keliru Dengan Berpikir Kritis

Oleh: Moh. Fahri*

Saat ini banyak masyarakat yang sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain hanya dengan  masalah-masalah  yang  pada  dasarnya  sangat  sepele.  Bahkan  masyarakat  kita dianggap sebagai “rakyat  yang  mudah diadu domba”. Ketika sebuah isu panas tersebar melalui berbagai media, masyarakat akan mulai merespon dengan cepat untuk menentukan mana yang disetujui dan tidak disetujui, mana yang benar dan yang salah, serta mana yang baik  dan tidak  baik.  Proses pengambilan keputusan  yang  tergesa-gesa tersebut  membuat masyarakat sangat mudah berselisih paham, bertikai, hingga berkonflik. Keadaan tersebut dapat membuat seseorang dapat mengalami tindakan pengucilan bahkan sampai pada pembunuhan.

Contohnya saja kasus Bullying yang menimpa remaja SMP bernama Audrey, ia mengalami pengeroyokan yang dilakukan oleh 12 orang teman kelasnya. Audrey pun menjalani perawatan di Rumah Sakit dan karena kesal, ibu dari Audrey pun menyebarkan kejadian yang menimpa anaknya melalui facebook, sehingga berita tersebut tersebar melalui berbagai  linimasa.  Bersama  dengan  tagar  #JusticeForAudrey  kasus  tersebut  akhirnya menjadi  viral  dan  banyak   menyita  perhatian   masyarakat   khususnya  kalangan  tokoh masyarakat dan juga kalangan artis.

Beberapa hari setelah viralnya kasus tersebut, muncul sebuah isu yang menyatakan bahwa Audrey tidak sebaik yang dipikirkan, hal itu dibuktikan dengan postingan-postingan akun  facebook  Audrey yang  agak  vulgar.  Seketika  sebagian masyarakat yang tadinya mendukung Audrey berbalik menyalahkan Audrey atas apa yang ia alami. Hal itu menimbulkan perdebatan panjang selama sepekan mengenai apa yang benar dan salah, serta apa yang pantas dan tidak pantas, padahal Audrey tetap merupakan korban kekerasan dalam peristiwa tersebut. Ada banyak hal yang dapat menyebabkan Audrey dan para pelaku melakukan hal tersebut, parahnya adalah kebanyakan masyarakat hanya memikirkan satu kemungkinan dari satu sudut pandang saja. Ini baru dari satu contoh kasus saja, masih ada banyak contoh-contoh lain yang dapat membuat masyarakat terpecah belah dengan mudah, apalagi jika isu yang diperdebatkan berkaitan dengan isu-isu politik.

Peristiwa seperti contoh di atas disebabkan oleh pendidikan kita dari SD sampai SMA selama 12 tahun yang tidak pernah mengajarkan siswanya cara untuk berpikir, kita hanya diajari  bagaimana  cara  untuk  menghafal  dan  mengulang  informasi  sehingga  kita  selalu dipaksa untuk menerima informasi begitu saja, tanpa pernah diajari bagaimana caranya agar dapat  menganalisa  informasi,  mengelola  informasi,  dan  mengevaluasi  informasi.  Bahkan

dalam kasus yang dialami Audrey masyarakat dengan mudahnya menyalahkan seseorang tanpa berpikir mengenai segala kemungkinan yang dapat terjadi.

Oleh karena itu, salah satu solusi agar masyarakat dapat menentukan pilihan dengan baik, dan dapat memilah mana informasi yang asli dan yang palsu adalah dengan berpikir kritis. Salah satu metode berpikir ini banyak menghasilkan orang-orang sukses yang melegenda pada zaman dahulu misalnya tokoh terkenal Karl Marx, dengan penolakannya terhadap sistem upah yang berimbas pada perjuangan kelas buruh. Tokoh revolusioner Che Guevara dalam perjuangannya ketika  menolong  masyarakat  yang  terkena penyakit  parah dengan melawan penguasa otoriter Kuba. Di Indonesia sendiri ada R. A Kartini yang mempertanyakan kesetaraan dan memperjuangkan hak bagi kaum perempuan.

Berpikir kritis sendiri merupakan sebuah proses ketika kita berpikir dengan lebih lambat  untuk  mencoba mengonstruksikan hal yang kita pikirkan  agar dapat  mengambil kesimpulan terbaik. Sehingga, berpikir kritis dapat mencegah opini publik menjadi kebenaran tanpa dasar. Bahkan lebih jauh lagi, berpikir kritis tidak terikat pada aturan dan kebudayaan serta mitos yang mengikat masyarakat karena berpikir kritis berarti mempertanyakan semua hal  yang  terjadi.  Metode  ini  sendiri  berlandaskan  pada  logika,  yang  menitikberatkan kejelasan persoalan dalam proses komunikasi agar supaya logika dapat berfungsi untuk memfilter semua opini yang dapat menimbulkan ketimpangan makna.

Ada tiga alasan penting mengapa berpikir kritis itu sangat diperlukan oleh masyarakat

Indonesia. Pertama, Pembuatan Keputusan. Pembuatan keputusan masyarakat  di zaman sekarang seringkali dipengaruhi oleh faktor gengsi yang membuat mereka tidak memikirkan apa dampak yang akan diperoleh jika hanya fokus pada satu aspek saja. Dalam kehidupan sehari-hari pun seperti itu, baik dalam mengenakan pakaian, pemilihan makanan, serta keadaan lainnya terlalu berlawanan dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Masyarakat terkadang terlalu memikirkan apa yang dipikirkan oleh orang lain sehingga keputusan yang dibuat tidak berdasarkan keinginannya sendiri bahkan sampai menjadi kerepotan  akibat pilihan tersebut.

Kedua, Informasi Yang Berlebih. Setiap hari kita selalu disuguhi oleh banyak informasi mulai dari berita, iklan, gaya hidup  dan  sebagainya.  Misalnya  dari contoh  berita,  kebanyakan  masyarakat  akan  emosi duluan tanpa mengetahui kebenaran berita yang kita baca. Hal ini juga yang menyebabkan banyak masyarakat termakan hoax dengan mudahnya, tanpa menggunakan metode berpikir kritis masyarakat dapat membagikan informasi yang aktual dan juga tepat sasaran kepada orang lain. Sehingga, tidak akan ada informasi yang dapat memicu kontroversi bagi masyarakat, hal ini tentu dapat menjadi acuan agar setiap informasi yang didaptkan dapat di saring dengan baik.

Ketiga, Demokrasi. Dalam demokrasi, semua hak politik masyarakat itu setara. Sehingga semua orang punya hak untuk memilih dan menentukan bagaimana keadaan negara atau dengan kata lain semua hasil yang diperoleh adalah keputusan bersama. Jika masyarakat mengambil keputusan yang irasional  tentu  saja  akan  berakibat  buruk  bagi  negara  sehingga  akan  mengakibatkan terciptanya hukum yang buruk bagi masyarakat, selain itu salah satu kelemahan demokrasi adalah kecenderungan hasil yang manipulatif. Orang-orang yang memiliki jabatan serta kekuasaan bisa saja memanfaatkan masyarakat dengan dalih demokrasi sehingga mereka dapat menggiring opini masyarakat hal ini tentu akan berimbas pada terpilihnya pemimpin yang buruk.

Ketiga permasalahan tersebut dapat diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis. Hal tersebut akan membantu kita ketika mengambil keputusan yang baik bagi diri sendiri, dan penggunaan informasi yang lebih bijak, serta meningkatkan partisipasi politik yang lebih baik dalam  menentukan kebijakan.  Proses dalam berpikir  kritis sendiri selalu  diawali dengan pertanyaan mengapa, untuk mencari tahu sumber, isi, dan tujuan dari informasi yang didapatkan agar informasi tersebut dapat diolah dengan baik. Setelah itu akan diukur apa-apa saja pengaruh yang diberikan oleh informasi tersebut. Pertimbangan mengenai berbagai macam kemungkinan akan mengurangi dampak yang buruk bagi masyarakat. Sehingga setiap keputusan yang berpotensi keliru dapat difilter dengan baik oleh logika dalam berpikir kritis.

Metode berpikir kritis sebaiknya diajarkan ke generasi dengan tingkat  yang  lebih rendah, mungkin berkisar pada remaja berusia 13 atau 14 tahun ketika duduk di bangku SMP. Sehingga generasi baru tersebut nantinya akan mempunyai kemampuan menganalisis persoalan, tanpa ada beban dan tekanan agar mereka dapat mengatakan kejujuran tanpa keengganan sedikitpun.

Menurut Jordan Peterson, cara terbaik untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis adalah dengan menulis. Sebab jika seseorang mengerti caranya menulis maka orang tersebut akan mampu berpikir kritis. Dan orang-orang yang mampu menulis serta berpikir kritis adalah orang yang dapat melakukan segala sesuatu secara efektif. Dan itulah hal yang membuat mereka menang dalam setiap pertarungan.

*) Moh. Akbar adalah mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP UNTAD angkatan 2017