Rivaldo Calvin Zander Fong “Wisudawan Penyabet tiga predikat Sekaligus”

Momen wisuda adalah hal yang paling dinanti-nanti oleh sebagian besar mahasiswa yang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi. Dalam perhelatan wisuda, pastinya akan ada pengumuman yang membanggakan akan raihan prestasi para wisudawan selama menempuh pendidikannya. Begitu pun pemuda dari Etnis Tionghoa satu ini yang mengambil Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Alam (FMIPA) Universitas Tadulako (Untad).

Aldo sapaan akrabnya, pemuda berkacamata yang lahir di Makassar pada 5 Februari tahun 2000 anak tunggal dari pasangan Hengky Fong, ayah, dan Ibu bernama Fenny Ongadi itu menjadi wisudawan berprestasi yang menyabet 3 predikat sekaligus, yaitu wisudawan FMIPA terbaik dengan meraih IPK 3.90, termuda dengan umur 19 tahun dan tercepat dengan lama studi 3 tahun 4 bulan 6 hari.

Aldo yang awalnya bercita-cita menjadi dokter menghabiskan masa kanak-kanaknya di TK Asih Palu. Kemudian saat memasuki jenjang sekolah dasar ia sempat bersekolah di SD Gamaliel Palu hingga kelas 3, dan pindah ke SD Karunadipa Palu hingga menjadi alumni SD tersebut. Di saat anak sebayanya asik bermain di luar rumah, Aldo yang sedari kecil menyukai matematika itu malah asik bermain dengan angka-angka, maka tidak heran jika ia sudah sering mengikuti olimpiade di umur yang terbilang cukup muda.

Memasuki jenjang Sekolah Menengah Pertama (SMP) Aldo memilih kelas akselarasi di SMPN 1 Palu sehingga bisa menyelesaikan pendidikan 1 tahun lebih cepat dari teman-teman seusianya. Namun berasal dari etnis minoritas di Kota Kelor menjadi hal yang sulit dilalui oleh Aldo di masa itu, karena dirinya sering mendapat serangan ucapan rasis oleh teman-teman sebanyanya yang masih polos dan belum paham mengenai indahnya keberagaman kultur Indonesia.

“Hal yang membuat down saya ketika SMP adalah masalah rasisme, dimana saya dari SD swasta dan tiba-tiba masuk di SMP Negeri dan itu berbeda jauh dimana siswa disitu lebih beragam. Dan mungkin bisa hanya saya yang etnis seperti ini di SMP saya pada saat itu. Banyak kata-kata rasis yang menyerang saya. Namun itu juga sekaligus menjadi titik balik untuk menjadi motivasi, mungkin mereka bisa mengejek tapi membalasnya tidak juga harus dengan cara yang sama. Saya menggunakan cara lain, balasnya yah dengan memperlihatkan prestasi. Jadi mereka tidak hanya kenal saya dari Etnis tapi bisa melihat saya dari  prestasi dan pasti lama kelamaan mereka akan sadar bahwa apa yang mereka lakukan selama ini salah,” ungkapnya sambil tersenyum mengenang masa itu.

Ketika masuk jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA) pria berkulit putih itu mulai menggandrungi dan mulai jatuh cinta dengan pelajaran Fisika dan Kimia. Karena kecintaannya tersebut ia mengukir prestasi dari olimpiade fisika dan lulus dengan mendapat nilai 100 ujian nasional kimia.  Hal tersebut yang juga membulat tekadnya untuk lanjut kuliah dengan mengambil jurusan kimia.

Terlahir sebagai anak tunggal, lelaki yang hobi mendengarkan musik dan bermain game tersebut sangat dekat dengan ibunya. Dengan sifat sabar, penyanyang, dan tegas menjadikan Aldo menjadi anak yang disiplin dalam menempuh pendidikan mulai dari hal kecil hingga hal-hal yang besar.

“Jadi sosok mami saya orangnya santai, tapi tegas. Dulu masih kecil saya tidak suka belajar, namun mami saya bilang sama saya kalau saya harus jadi orang yang sukses, mami tidak mau saya menjadi seperti dia. Jadi mulai dari sana mami sudah keras, ketika belajar sering dihukum jika saya hanya main-main. Tapi dari situ saya sadar bahwa mami melakukannya pasti punya maksud dan tujuan, maka dari itu ajarannya yang buat saya menjadi seperti sekarang,” tutur Aldo.

Tidak hanya itu, menurutnya, ibunya adalah sosok yang selalu memberikan dia motivasi selama ini dan selalu mendukung apapun yang ia kerjakan. Momen yang paling ia ingat sekaligus memberikan semangat ialah ketika dirinya gagal masuk Universitas yang menjadi tujuan awalnya. Sosok ibu menguatkannya dengan ucapan di manapun kamu kuliah lakukan yang terbaik dengan niat yang berasal dari hati, dengan itu kamu pasti akan menjadi orang yang  hebat.

Kemudian ibunya selalu berpesan dimanapun kamu berada dan apapun yang kamu kerjakan, lakukan hal itu dengan baik, sepenuh hati dan penuh dengan rasa tanggung jawab, sehingga apa yang kamu kerjakan dapat berdampak bagi orang banyak. Dan satu hal yang terpenting dalam hidup ini adalah jangan pernah mengecewakan orang lain. Maka dengan pesan-pesan itu, ia berhasil membawa ibu tercinta naik ke podium dengan rasa bangga untuk menerima penghargaan yang ia dapatkan saat ia wisuda.

Mantan Koordinator Divisi Informasi dan Komunikasi, Organisasi Persekutuan Mahasiswa Kristen Sains (Prisma Sains) menjelaskan bahwa masa perkuliahan adalah hal yang paling penting untuk belajar bagaimana mengatur waktu yang baik. Menurutnya, mahasiswa harus bisa menentukan skala prioritas dan tujuan sedari awal saat masuk kuliah, mulai dari belajar, organisasi, dan istirahat sehingga selama menempuh studi semua hal bisa termanajemen dengan baik.

Wisudawan yang mengambil penelitian dengan judul “Pembuatan dan Karakterisasi Membran dari Polieugenol Dengan Berat Molekul Tinggi” tersebut, menceritakan perjalanan dalam penelitiannya yang sudah dimulai sejak ia menginjak awal semeter 5. Saat itu ia sudah mengajukan satu judul penelitian namun ditolak oleh dosen pembimbingnya. Hal itu tidak membuatnya menyerah, ia kemudian meminta saran dengan dosen pembimbinganya dan mencari berbagai literatur guna mencari penelitian yang bagus dan tepat.

Dengan kerja keras dan semangat akhirnya judul penelitiannya diterima, sehingga ia mulai melakukan penelitian di laboratorium. Tak mudah baginya untuk mengejar predikat lulusan tercepat. Ia butuh dua bulan dari tahap proposal hingga yudisium dengan tak ada jeda untuk bersantai-santai di rumah.

“Risiko penelitian saya tinggi, karena jika salah sedikit akan gagal semuanya. Dari awal proposal hingga saya yudisium itu dua bulan. Mungkin orang bilang cepat sekali, dan mungkin mereka banyak yang berpikir enak sekali bisa secepat itu. Namun, orang tidak mengetahui apa yang jadi perjuangan selama dua bulan. Jadi saat penelitian itu saya mulai dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore dari senin sampai jumat. Sabtu dan minggu saya manfaatkan untuk mencari literatur dan menyusun laporan skripsi,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa penelitian yang ia lakukan tidak terlepas dengan kegagalan, namun ia selalu dikuatkan oleh ibu dan dosen pembimbingnya untuk jangan pernah menyerah. Aldo juga sempat masuk rumah sakit sehari sebelum dirinya maju yudisium karena tubuhnya sudah mencapai batas.

“Penelitian ini bukan tanpa hambatan, karena dari proses pertama saya sudah banyak gagal. Satu yang selalu ditekankan mama dan dosen pembimbng saya jika gagal harus coba lagi. Setelah step 1 selesai lanjut step 2, nah disitu saya gagal lagi, Saya hampir putus asa tapi ingat lagi pesan yang tadi. Nah pada saat saya mau diyudisium saya sakit parah karena dua bulan terakhir saya kurang istirahat dan harus dirawat di rumah sakit. Namun saya berusaha untuk hadir pada saat yudisium, saya masih merasa sakit dan kurang fit, masih pucat dan keringat dingin saat itu. Tapi puji tuhan kerja keras yang saya lakukan tidak sia-sia,” tambahnya.

Lelaki Alumni FMIPA tersebut mengagumi pesepak bola dunia, Lionel Messi. Menurutnya Messi adalah sosok yang hebat dan pekerja keras serta sering mendapat banyak penghargaan atas prestasinya. Maka dari itu ia ingin menjadi sosok yang seperti yang di idolakannya, namun dalam jalan dan pilihannya sendiri. AW