Asrianti Dg Bintang SPd MPd “Dosen yang Mahir Berbahasa Inggris, Rusia, Khmer, dan Vietnam”

Nama Asrianti dg Bintang mungkin sudah tak asing lagi terdengar di telinga mahasiswa dan dosen di Lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad). Wanita yang memulai karirnya di Kampus Kaktus tahun 2014 pada program studi (Prodi) pendidikan bahasa jurusan pendidikan bahasa dan seni dikenal sebagai sosok dosen muda dengan segudang prestasi membanggakan.

Astri sapaan akrabnya, ia lahir prematur sebagai anak tunggal dari seorang ayah bernama Drs Abdul Amrullah Sahid dan seorang ibu bernama Hj Nurhaeda A Md Keb di Kota Makassar pada 13 Agustus 1993. Saat ini, selain sibuk menjadi dosen di Untad ia juga memegang amanah sebagai Duta Bahasa Negara Perwakilan Sulteng.

Perempuan penyuka tantangan tersebut hanya menghabiskan waktu dua hari dalam Taman Kanak-kanak (TK) sebelum akhirnya meminta untuk keluar dari TK tersebut karena minatnya dengan angka-angka bertentangan dengan pelajaran bernyanyi dan bermain.  Setelah itu, ia melanjutkan sekolahnya pada umur lima tahun di Sekolah Dasar (SD) Inpres Rappocini Makassar dengan masa percobaan selama tiga bulan. Di umur yang terbilang muda pada anak sepantarannya, ia berhasil menyabet rangking satu dan berhasil melewati masa percobaan yang diberikan.

Setelah dirinya lulus dari SD, ia melanjutkan pendidikannya di SMPN 10 Makassar dengan mengambil kelas akselarasi dan di SMAN 4 Palu. Di masa SMP dan SMA, Astri sudah menyukai dunia kelembagaan atau organisasi. Hal ini dibuktikan dengan ia pernah menjabat sebagai ketua Organisasi Intra Sekolah (OSIS) di SMP dan SMAnya  serta menjadi ketua Ambalan Putri Datu Karama dan menjadi Duta Museum Sulteng tahun 2009 sama di tingkat nasional.

Perempuan yang takut akan darah itu sudah bercita-cita menjadi seorang guru sedari kecil, sehingga membuatnya memilih FKIP sebagai fakultas yang ia pilih untuk melanjutkan pendidikannya dalam dunia perkuliahan.  Menurutnya, menjadi seorang guru adalah profesi yang menyenangkan karena banyak hal-hal baru yang dapat ditemukan setiap hari.

“Hal yang menjadi cita-cita saya dari kecil ingin menjadi seorang guru, kecintaan saya dengan anak-anak membuat saya dapat menyalurkan rasa sayang kepada mereka dengan menjadi pengganti orang tua di sekolah. Bagi saya, menjadi guru adalah profesi yang menyenangkan, hidup kita lebih dinamis karena setiap harinya saya akan menemukan sesuatu yang baru. Entah itu perilaku siswa yang menggemaskan, ucapan lucu dari mereka, dan masih banyak lagi pokoknya,” ujarnya.

Di dunia kampus, dirinya juga aktif dan pernah memegang jabatan yang penting di sejumlah organisasi, yaitu Koordinator Biro Kesekretariatan di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP, Sekretaris Umum di BEM Untad, Ketua Umum di Koperasi Mahasiswa, dan Sekretaris di Generasi Baru Indonesia (GENBI). Namun, meski dirinya sibuk dalam memegang amanah di sejumlah organisasi kampus, ia tetap mengedepankan akademiknya. Ini dibuktikan dengan dirinya menjadi mahasiswa penerima beasiswa prestasi Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dari Untad dan beasiswa dari Bank Indonesia (BI) serta pernah menjadi juara 1 lomba mengajar tingkat mahasiswa FKIP tahun 2013.

Masa perkuliahan juga merupakan masa yang sulit untuk dilalui oleh Astri, dimana pada masa itu ia harus kehilangan sosok ayah yang merupakan tulang punggung keluarga. Keadaan seperti itu menuntutnya untuk bisa menjadi seorang yang mandiri dan harus menjadi seseorang yang dapat memanajemen waktu dengan baik. Meskipun ia adalah penerima beasiswa, namun ia tetap harus bekerja paruh waktu sebagai seorang pengajar agar dapat menambah biaya kebutuhan sehari-hari.

“Kehilangan sosok ayah saat menempuh pendidikan itu sangat berasa terlebih soal biaya. Hal ini yang menjadikan saya harus menjadi pribadi yang mandiri. Saat kuliah, saya juga harus membagi waktu saya untuk belajar, tanggung jawab terhadap jabatan di organisasi, dan bekerja untuk kelangsungan hidup dengan mengajar private di beberapa tempat bimbingan belajar (Bimbel).  Sesuatu yang tidak mudah untuk melewatinya, tetapi saya yakin bahwa Tuhan tidak akan menguji hamban-Nya kecuali sesuai dengan kemampuannya. Saya juga termaksud penerima beasiswa PPA dari Untad dan beasiswa dari BI yang mempermudah saya untuk memikirkan biaya kuliah dan tentunya membuat saya semangat untuk kuliah dan memperoleh IPK 4.00,” ungkapnya.

Mantan guru dan wakil kepala sekolah SMP Labschool Untad Palu tahun 2016-2018 itu mengatakan bahwa sosok kedua orang tuanya selama ini yang menjadikannya sebagai seseorang yang tangguh dalam menghadapi getirnya kehidupan. Ia selalu mengingat sosok almarhum (Alm) ayahnya yang sering memberikan pesan bahwa anak perempuannya harus tangguh seperti pohon, yang harus tetap meneduhkan walau angin kencang dan mencoba untuk senantiasa menghapus rasa benci ketika dunia mencoba menghakimi.

Perempuan yang tidak suka durian tersebut, juga orang yang sangat dekat dengan sosok almarhumah ibunya semasa hidup. Ia menggambarkan bahwa ibunya adalah orang yang selalu memberikan kasih sayangnya dan selalu menjadi sosok yang melidungi kelemahan yang ada pada dirinya. Meskipun kehilangan sosok yang berarti dalam hidupnya, ia tetap ikhlas dan tidak putus asa untuk menggapai masa depan yang lebih cerah.

“Mama selalu memberikan kasih sayangnya untuk melindungi kelemahan diri saya, memberikan pelukan untuk memecahkan kepedihan dan kesedihan serta senyuman yang mengajarkan saya kesabaran. Berbeda tempat antara saya dengan Alm. Papa dan Almh. Mama membuat saya berada pada posisi down untuk menjalani kehidupan namun ikhlas menjadi keharusan dan putus asa harus dihilangkan,” tuturnya dengan senyum dan mata yang berkaca-kaca.

Di masa sekarang, ia memiliki tujuan untuk menjadi pribadi yang lebih tangguh dalam hal kesabaran. Ia memiliki motivasi hidup kebahagiaan dalam tujuan, karena menurutnya apapun yang akan terjadi ke depannya dalam proses menggapai tujuan ia akan selalu bahagia dan akan selalu mengucap syukur terhadap nikmat yang telah diberikan oleh sang Pencipta.

“Saya teringat pepatah cina mengatakan sebuah permata tidak akan dapat dipoles tanpa gesekan, demikian juga seseorang tidak akan menjadi sukses tanpa tantangan. Dalam tantangan itu diperlukan kesabaran dalam menghadapinya, menjadi pribadi selalu bersyukur atas setiap nikmat yang telah diberikan oleh Tuhan. Dengan bersyukur kita akan selalu merasakan kebahagian, motivasi saya dalam menjalani kehidupan ini adalah kebahagian dalam tujuan apapun yang saya akan lewati dalam kehidupan nantinya adalah menuju kebahagian dunia dan akhirat. Jadi do more of what makes you happy! lakukan semua dengan senang dan jangan lupa selalu bersyukur,” pungkas dosen muda FKIP tersebut dengan senyum pertanda semangat.

Dosen yang mahir menggunakan bahasa Inggris, Rusia, Khmer, dan Vietnam itu juga pernah menjadi juara 1 dalam lomba penyuluhan minat baca tingkat provinsi Sulteng Tahun 2017, Juara 1 lomba mengajar antar dosen Untad pada lomba penerapan bahan ajar antar dosen tahun 2018, serta pernah mewakili Sulteng ke Swiss pada pelatihan anak berkebutuhan khusus tahun 2017. Selain itu sekarang ia aktif sebagai penulis opini di beberapa media cetak Sulteng. AW

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here