Dari Novel Corona Virus Hingga Mandela Effect

Novel Corona Virus (2019-nCoV)  yang menggegerkan dunia, begitu menakutkan memang. Pertama kali ditemukan di Wuhan, China pada akhir 2019. Virus yang menyebar begitu cepat pada manusia dan mengganggu sistem pernafasan manusia, lantas kabar ini memenuhi segala media massa, dan menjadi topik pembicaraan dimana-mana.

Setelah berbagai macam pemberitaan, penjelasan secara ilmiah, hingga pers konferensi, setiap kita paham asal muasal novel corona virus. Lalu, masih dalam pemberitaan, berbagai macam isu muncul sebagaimana peristiwa-peristiwa lain, bahwa bencana-bencana, wabah, dan sejenisnya, adalah azab.

Kita melihat kembali peristiwa gempa, tsunami dan likuifaksi, peristiwa-peristiwa lainnya, sebelum corona virus membanjiri percakapan-percapakan. Definisi, penyebab, dan penjelasan lain secara ilmiah disampaikan orang-orang yang paham dan tentunya memiliki kapasitas membahas hal itu. Lalu bermunculan pula dalam pemberitaan bahwa hal itu adalah azab. Jika dalam kasus corona virus, sebagaimana dilansir dalam indozone.id, Pendeta Evangelis mengklaim bahwa virus korona adalah hukuman atau malaikat maut yang dikirim olehTuhan. Pendeta Rick Wiles mengatakan kepada pemirsa di acara web TruNews.

Kita kerap kali menemukan hal ini. Tidak hanya pada kasus corona virus, pada kebiasaan kita sehari-hari, adat istiadat, tradisi, juga demikian. Bahkan hal-hal kecil, semisal memasak sayur bening keasinan. Masyarakat menyebutnya, karena yang masak sudah ingin menikah. Padahal, keasinan, ya, karena kelebihan membubuhkan garam. Hal lain juga terjadi pada perihal adat istiadat melamar. Harus bayar ini, harus penuhi ini, baru dapat dikatakan sah. Mencontoh pada adat lamaran di Timur, tepatnya di Kupang, pihak laki-laki harus membayar uang untuk paman perempuan, orang tua perempuan, pesta lebih dari sekali, sehingga memberatkan pihak laki-laki.

Bergeser dari urusan pernikahan, dalam dunia perkawanan, ada segelintir orang yang tidak lagi percaya hubungan pertemanan laki-laki dan perempuan. Tidak murnilah, tidak ini, tidak itu. Takut kalau ternyata mereka saling suka, dan lainnya. Sampai-sampai segala hubungan antara laki-laki dan perempuan begitu di jarakkan. Memangnya mengapa jika saling suka? Teman tapi menikah itu sah-sah saja, kan? Lagi pula tidak semua hubungan pertemanan di bumi Allah ini menjadi hubungan kekasih. Ada yang lillahi, berteman, berkawan, berjuang, berkorban, dan segalanya, sebisanya, dengan ikhlas.

Mari melihat segala sesuatu secara rasional dan dewasa. Jika itu terkait ilmu pengetahuan, cari penjelasan ilmiahnya. Jika itu berbau percintaan, mari dewasa untuk menyikapi. Jika tidak, pemikiran dan kesimpulan itu akan turun temurun hidup dalam pikiran orang-orang. Hal itu kemudian disebut juga sebagai mandela effect, yaitu sebuah kondisi dimana banyak orang sama-sama memiliki ingatan yang salah akan suatu hal. Contohnya pada film snow white, terdapat suatu adegan saat penyihir bertanya pada kaca ajaib, “Mirror, mirror on the wall…” sementara sebenarnya yang ia katakana adalah Magic mirror on the wall. Namun, sebagian besar kita mengingat kalimat yang pertama.

Psikolog menjelaskan Mandela Effect terjadi karena adanya distorsi ingatan yang disebabkan kekeliruan dalam mengingat kejadian atau pengalaman yang belum pernah terjadi sehingga menciptakan ingatan palsu atau biasanya disebut konfabulasi. Dalam arti yang lebih luas, konfabulasi adalah pengisian kekosongan ingatan dengan cerita yang tidak benar, tapi tidak sepenuhnya bohong.

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Previous articleIndonesia yang Berdaulat
Next articlePengantar Redaksi