Dia Disini

*Adrian Christianto Katili

“Dia di sini! Ayah dia di sini!” teriak Putra, anak semata wayangku.

Sudah yang kesekian kalinya, ia terbangun karena mimpinya. Tak bisa kusalahkan, untuk anak seusianya ia terlalu muda untuk menerimanya.

***

Sudah seminggu sejak kepergian Rani, isteriku. Meninggalkan aku dan putera semata wayang kami. Sudah seminggu juga aku harus cuti dari pekerjaanku, karena Putera tak bisa kutinggalkan. Kata psikiater yang kudatangi, aku harus bersamanya sampai kondisi kejiwaannya stabil. Karena aku satu-satunya orang yang dekat dengannya.

Nafasnya terengah-engah, peluh bercucuran dari wajahnya. Ia tampak begitu ketakutan. Ia menggenggam tanganku. Aku mendekapnya.

“Sudah, dia tak ada lagi di sini, Cuma ada kita di sini,” kataku menenangkannya.

“Tidak ayah, tidak, dia ada di sini ayah, Pu-tera li-hat l-ang-sung,” ucapnya terisak.

“Itu cuma mimpi kamu aja nak, ayo, tidur lagi, ayo,” kataku lalu menina bobokannya.

***

Kukebut motorku menyalip setiap kendaraan di depanku. Jantungku berdegub begitu kencang. Pikiranku kalut. Fokus focus, mereka baik-baik saja batinku. Isteriku dan puteraku baik-baik saja. Polisi pasti sudah di sana. Dari jauh dapat kulihat bayangan rumahku. Di depan sana ada dua mobil polisi yang terparkir rapi dikerumuni tetangga sekitar. Setidaknya perasaanku bisa tenang. Kuparkir motorku. Kulihat anak semata wayangku menangis histeris di pelukan seorang polwan, kedua telapak tangannya berdarah.

“Dimana isteriku? Dimana isteriku?” tanyaku pada salah satu petugas.

Belum sempat ia menjawab pertanyaanku, bunyi sirine ambulans memecah suasana.

***

“Tidak!” aku terbangun.

Kulirik jam dinding di kamarku, pukul 03:00 pagi. Sejak kepergian isteriku aku sering mendapat mimpi buruk. Kuputuskan untuk bangun. Putera tertidur pulas tepat di sampingku. Aku tersenyum melihatnya. Teringat kembali saat dimana aku dan Rani pertama kali melihatnya, ia langsung menarik perhatian kami. Aku turun dari tempat tidurku. Beranjak ke dapur.

***

“Mama mana, Nak? Mamamu mana?”

Ia mematung, tatapannya tampak kosong. Lalu kulihat beberapa orang turun dari ambulans lalu masuk ke rumah.

“Biarkan aku masuk!” kataku mencoba menerobos garis polisi yang mengelilingi rumahku. Aku harus melihat isteriku, aku harus tahu apa yang terjadi padanya. Itu dia, itu isteriku. Dia terbaring tak bergerak, berlumur darah. Dibawa keluar dengan tandu oleh dua petugas kesehatan.

“Anda harus tenang pak, kami akan mencari tahu siapa pelakunya,” kata salah seorang polisi.

***

“Dia disini!” jerit Putera yang membuyarkan fikiranku.

Secepatnya aku berlari ke kamar. Kudapati Putera duduk di pojok kamar, gemetaran.

“Kamu kenapa Putera?”

“Aku melihatnya Ayah, dia ada di sini! Dia di sini,” jawabnya terisak.

“Dia siapa, Nak? Nggak ada siapa-siapa di sini, cuma kamu dan ayah,”

“Tidak ayah, tidak, dia ada di sini ayah, di kamar kita,” ucapnya.

Tangannya yang gemetar menunjuk ke arah kamar mandi ruangan ini. Aku mengambil pentungan di samping tempat tidur. Lalu perlahan menuju ke kamar mandi. Suasana lengang. Tepat di bingkai pintu kamar mandi. Langkah berikutnya semua menjadi gelap.

***

Seberkas cahaya jatuh tepat di mataku. Mataku mengerjap-ngerjap, mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Kepalaku terasa berat. Tepat di depan pandanganku, langit-langit dapur. Kenapa aku bisa di sini. Aku mencoba untuk duduk, namun tak bisa. Kedua tangan dan kakiku terikat. Kucoba memanggil-manggil Putera. Namun tak ada suara yang keluar. Mulutku terbalut kain. Ku coba semampuku melihat sekitar. Lantai tempatku terbaring penuh dengan darah, hanya saja ia membentuk sesuatu yang tak aku mengerti. Dimana Putera batinku. Apa dia terluka? Sedetik kemudian aku melihatnya. Dia berdiri tepat di sampingku. Tangannya berlumuran darah. Ia lalu mendekatkan kepalanya di telingaku.

“Dia di sini Ayah, aku sudah memperingatkanmu,” katanya berbisik.

“Dia yang membunuh ibu, dia juga yang akan membunuhmu,” sambungnya. Aku melihatnya tersenyum.

“Kalian salah karena memilihku.”

***

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here