Dr. Nasmia, S.Pi., MP Gunakan rumput laut sebagai Pakan Ikan dan Udang dengan inovasi IMTA

 

Edisi ini, kami berkesempatan berbincang dengan Dr. Nasmia, S.Pi., MP, perihal penelitiannya tentang rumput laut.

Apa Judul Penelitian Anda dan tim?

PENGENDALIAN PENYAKIT IKAN DAN UDANG DENGAN PAKAN BERBASIS RUMPUT LAUT DAN IN0VASI BUDIDAYA INTEGRASI MULTIDISIPLIN YANG RAMAH LINGKUNGAN

Mengapa Anda tertarik dengan penelitian ini?

Sulawesi Tengah merupakan daerah dengan penghasil rumput laut. Sementara rumput laut itu banyak mengandung senyawa-senyawa, anti bakteri, anti virus, karena itulah saya mau kaji, dan melakukan penelitian. Karena selama ini, kan, khususnya di dalam budidaya tambak, kita menemukan pengobatan dengan menggunakan antibiotik dari kimia. Sedangkan rumput laut, ada potensi yang menghambat, salah satunya anti bakteri itu.

Rumput laut dalam kehidupan masyarakat, banyak manfaatnya. Banyak nilai ekonomisnya, sehingga dibudidayakan. Di sepanjang pantai, sebenarnya banyak rumput laut non ekonomis tetapi banyak mengandung senyawa. Karenanya saya memanfaatkan rumput laut itu untuk menjadi pakan ikan dan udang.

Apa yang melatarbelakangi penelitian tersebut?

Wilayah pengembangan potensi produk perikanan adalah Donggala, Parigi Moutong, dan Luwuk Banggai. Kendala yang sering dihadapi para petani tambak yang ada di Sulawesi tengah adalah adanya penurunan adanya hasil produksi yang disebabkan karena kegagalan budidaya di tambak akibat timbulnya berbagai macam penyakit.

Hal ini menunjukan bahwa munculnya berbagai macam penyakit merupakan indicator telah telah terjadi degradasi lingkungan. Keberadaan mikroorganisme patogen dan memburuknya kualitas media pemeliharaan ini telah menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi para pembudidaya.

Selain itu, penggunaan antibiotik dari bahan kimia tidak sesuai dosis sehingga terjadi gangguan keseimbangan ekologis, pencemaran lingkungan, akumulasi bahan racun, bakteri patogen menjadi resisten terhadap antibiotic, dan juga antibiotik mahal.

Karenanya, diperlukan inovasi untuk mengendalikan penyakit yang ramah lingkungan dan dapat mengantisipasi penurunan produksi perikanan akibat penyusunan lahan budidaya dan penurunan kualitas perairan. Salah satu inovasi teknologi yang dapat diterapkan yaitu pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku pakan yang mengandung senyawa antimikroba dan aplikasi teknologi budidaya integrasi berbasis Integrated Multi Trophic Aquaculture (IMTA) yang dapat meningkatkan produktivitas tambak dan dapat memperbaiki kualitas air serta mengurangi mikroorganisme patogen pada perairan dan organisme budidaya.

Senyawa apa yang terkandung dalam rumput laut?

Ada senyawa polisakarida yaitu alginar, agar-agar, keraginan. Selain senyawa polisakarida, ada senyawa pigmen yaitu klorofil, Karotenoid, Fikosianin. Klorofil ini meningkatkan sistem imun. Rumput laut juga mengandung senyawa metabolit sekunder yang memiliki potensi atau aktivitas antibakteri (antibakteri pada rumput laut, ikan, dan udang).

Senyawa antibakteri skroid, sterol dan flavoroid, Caulerpa(alga hijau); mengandung nutrisi (hasil uji proksimap, protein 12,88 – 30,03%, KH 27,20 – 48,10%, Lemak 0.30 – 2,64%. Caulerpa mengandung karotenoid, 8,958 – 11,73 hg/g sebagai antioksidan, pertumbuhan sel, dan dapat meningkatkan respon kekebalan tubuh.

Rumput laut sebagai imunostimulan mampu menaikkan daya tahan tubuh ikan dan udang yang ditandai dengan meningkatnya jumlah hemosit pada udang, total leukosut pada ikan bandeng.

Sorgassum mengandung alginar yang membantu melawan bakteri dan virus. Kandungan alginar (alga coklat)  dapat meningkatkan ketahanan tubuh pada ikan.

Apa yang menjadi  tujuan Anda dan tim dalam melakukan penelitian ini?

Penelitian ini sebenarnya multidisiplin ilmu. Karenanya, saya bertim dengan Prof. Dr. Syahir Natsir, SE., M.Si, dan Rusaini, S.Pi., M.Sc.m Ph.D. Selain itu, saya juga melibatkan beberapa mahasiswa. Tujuan melakukan penelitian ini, supaya bagaimana kita dapat meningkatkan sistem imun pada ikan dan udang dengan menggunakan bahan yang ramah lingkungan. Juga, keberadaan rumput laut menjadi penghasil antibakteri diharapkan dapat menurunkan jumlah bakteri patogen yang mampu menurunkan berkembangnya penyakit.

Apakah rumput laut ini, pertama kali Anda teliti?

Sebenarnya sejak saya studi, penelitian saya sudah terkait rumput laut. Sehingga ini merupakan penelitian yang berkembang dari penelitian saya terdahulu. Penelitian saya itu juga menajdi referensi saya untuk penelitian ini.

Pada penelitian awal saya, dengan judul penelitian Aplikasi Pemanfaatan METABOLIT SEKUNDER RUMPUT LAUT  Sargassum sp DAN PENGEMBANGAN MODEL INTEGRASI MULTIBIOTA (Gracilaria Verrucosa, Sargassum sp., IKAN BANDENG) UNTUK MENCEGAH BAKTERI PATODEN ICE-ICE YANG RAMAH LINGKUNGAN DALAM RANGKA MENINGKATKAN PRODUKSI DAN PENDAPATAN PETANI, rumput laut ini saya buat ekstrak. Penelitian ini kemudian menjadi referensi saya pada penelitian kedua, dimana rumput laut saya jadikan tepung dan saya formulakan ke pakan. Jadinya pellet.

Budidaya ini nantinya secara integrasi multibiora bersifat ramah lingkungan, karena rumput laut dapat berfungsi sebagai biofilter dalam menjaga kualitas air. Komoditas (ikan, udang) limbahnya pakan, ekskresi dimanfaatkan oleh rumput laut dalam mengurangi mikroorganisme patogen  dan memprbaiki kualitas air. Sehingga meningkatkan produktivitas tambak. Rumput laut mampu menyerap ammonia dan menghasilkan O2 melalui proses fotosintesis.

Apa harapan anda dari penelitian ini?

Bisa diaplikasikan sebagai bahan imunostimulan pada paham yang dapat meningkatkan sistem imun pada ikan. Dengan inovasi ini, diharapkan dapat memperbaiki kualitas air sehingga dapat mengatasi masalah penyakit.

Untuk Caulerpa, dapat dibudidayakan atau dikembangkan untuk dijadikan sebagai bahan baku untuk pembuatan pakan ikan dan udang. Sehingga dapat mempunyai nilai ekonomis yang tinggi dan ramah lingkungan.

Keberadaan rumput laut menjadi penghasil antibakteri diharapkan dapat menurunkan jumlah bakteri patogen yang mampu menurunkan berkembangnya penyakit.