Kaprodi Agribisnis Tegaskan Pengaturan Dosen Pembimbing Baru

Ket. Foto: Dr Ir Arifuddin Lamusa MP (Foto: Fathia/MT)

Jumat (14/02)- Ketua Program Studi (Prodi) Agribisnis menegaskan kini mahasiswa Prodi Agribisnis, Fakultas Pertanian (FAPERTA) Universitas Tadulako (UNTAD) tidak lagi dibimbing oleh dua dosen senior, melainkan akan dibimbing oleh Dosen Tetap Badan Layanan Umum (BLU) dan Dosen senior. Kebijakan ini dikeluarkan guna mempererat interaksi sesama dosen dan mahasiswa.

Dr Ir Arifuddin Lamusa MP selaku koordinator Prodi Agribisnis, menyatakan bahwa kebijakan tersebut dimulai sejak semester genap ini. Selain bertujuan menjalin interaksi, kebijakan ini juga dilaksanakan guna menurunkan keilmuan secara esklusif dari dosen kepada mahasiswa.

“Menyesuaikan perkembangan pendidikan, kami menunjuk satu dosen senior dan satu dosen BLU untuk menjadi dosen pembimbing. Hal tersebut kami lakukan guna mengeratkan interaksi antara dosen senior ke dosen junior dan kepada mahasiswa. Dari interkasi itulah mereka bisa belajar satu sama lain. Selain itu, kami juga menginginkan adanya keahlian spesifik yang diturunkan dari dosen pada mahasiswanya, supaya menjadi lulusan perguruan tinggi yang siap terjun ke dalam masyarakat,” jelasnya.

Dr Arifuddin juga menerangkan dalam pembelajaran Agribisnis lebih diutamakan praktik ketimbang teori. Kemudian ia mengimbuhkan, sedini mungkin Prodi harus menyiapkan sarjana yang kompeten agar sektor pertanian Indonesia menjadi tokoh utama secara global.

“Saat ini ilmu tidak hanya sebatas teoritis tetapi juga harus aplikatif, begitu pula dengan Ilmu Agribisnis. Membuat sektor pertanian menjadi komoditas utama perekonomian Indonesia dan menjadi leading secara global, ialah pencapaian yang harus dituju dari ilmu ini. Mewujudkannya, tentu kami harus menyiapkan lulusan terbaik yang memiliki beragam ide aplikatif. Lepas dari bangku kuliah, kami mengharapkan mahasiswa menjadi praktisi bidang pertanian yang handal,” ungkapnya.

Salah satu mahasiswa Agribisnis, Muh Irfan menuturkan bahwa ia kurang setuju dengan aturan tersebut. Ia berpendapat penunjukkan dosen tetap BLU sebagai dosen pembimbing kurang efektif, karena penunjukkan dosen belum selektif dan beberapa dosen kurang menguasai judul skripsi para mahasiswa.

“Saya bukan menolak, melainkan kurang setuju dengan kebijakan itu. Melihat yang terjadi, ada sebagian dosen BLU kurang menguasai secara baik tugas akhir atau skripsi mahasiswa, hal itu dikarenakan bukan basic keahlian mereka. Untuk itu, saya berharap dari Kaprodi agar kiranya bisa menyeleksi dosen BLU secara benar dan menempatkannya sesuai penelitian mahasiswa,” tutupnya. FHA

 

- A word from our sponsor -

spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here